Kamis, 16 Juni 2011

Membaca itu mengasyikkan


“Buku adalah jendela dunia.” Kalimat pertama yang kucerna hari ini lewat untaian kata yang disusun oleh Pak Amanan, guru Bahasa Indonesiaku.” Berbagai negara bisa kita jelajahi lewat buku. Petualangan yang seru bisa kita dapatkan melalui buku. Buku menawarkan beragam hal, beragam ilmu pengetahuan. Anak-anakku, jika kalian ingin menjadi apa saja yang kalian lakukan banyak-banyaklah membaca buku. Reguklah beragam ilmu yang telah tertuang dalam buku.”
“Pak, apa hanya itu saja yang bisa kita peroleh lewat buku?” Seorang anak bertanya. “Saya tidak terlalu suka membaca. Bagi saya buku itu membosankan, sangat membosankan. Apalagi buku yang jumlah halamannya sangat tebal, tidak berwarna, dan tidak bergambar. Buku seperti itu, bagi saya hanya dongeng pengantar tidur. Jika saya sedang sangat sulit untuk memejamkan mata, saya akan mengambil buku. Melihatnya saja, otak saya segera memerintah mata untuk terlelap. Pada awalnya, saya memang membacanya. Tapi sejurus kemudian buku itulah yang membaca saya. Begitulah makna buku bagi saya, selama ini.” Ucapnya yang saya aminkan dalam hati.
Pak Amanan, guru penuh senyuman yang pernah saya kenal. Seperti apapun sikap kami, dia tidak akan pernah marah. Senyum itu tetap tersungging di bibirnya.
“Maukah kalian Bapak bacakan syair seorang pujangga Arab tentang nikmatnya membaca buku?”
Cara dia mencuri perhatian kami. Bahasa Indonesia bagi kami adalah pelajaran yang kurang diminati. Kebanyakan siswa mengatakan, terlalu mudah, tidak ada tantangan dan cengeng. Sebagian besar teman-teman di kelas, setau saya, sedari tadi tidak terlalu memperhatikan pelajaran yang dia sampaikan.
Penyair Arab, sangat menarik perhatian kami. Bukan karena kami menyukai karya mereka. Bukan karena itu. Alasan satu-satunya adalah tugas yang diberikan oleh guru bahasa Arab yang terkenal sangat garang dan rajin memberi tugas, mencari karya para penyair Arab.
“Buku adalah sebaik-baik teman ngobrol di kala sepi” dia mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Seluruh mata sekarang telah tertuju pada Pak Amanan.
“Buku adalah teman tempatmu berbagi cerita, tempat mencurahkan isi hati”. Seluruh kelas telah dalam genggamannya saat bait kedua dibacakan.
“Buku adalah teman yang tidak pernah mempermainkanmu, teman yang tidak munafik, dan teman yang tidak akan pernah dusta.” Pak Amanan mengakhiri puisinya dengan gemilang.
Bunyi bel mengakhiri pelajaran hari ini. Pak Amanan telah berhasil mengambil hati kami.
Mencintai buku. Inti pelajaran hari ini. Namun menurutku, mencintai buku sama artinya dengan mencintai membaca. Membaca apa saja. Meskipun membaca lebih diidentikkan dengan membaca buku. Karena itu, buku sama dengan membaca.
Namun entah kenapa, selalu ada rasa enggan ketika harus membuka lembar demi lembar buku, membaca paragraf demi paragraf dan menuntaskannya. Aku lebih memilih menonton film-film kesukaanku atau online beberapa jam daripada membaca sebuah buku. Seperti ada syndrome yang menuntun otakku untuk menghindari segala kegiatan yang ada hubungannya dengan membaca. Sungguh ironis.
“Hai, melamun saja….” Sapa Aulia, siswa berprestasi yang selalu menggondol juara setiap tahun dan tidak pernah ada yang bisa menyainginya. “Apa yang dimakan anak ini?” pertanyaan yang selalu terlintas dalam otakku ketika melihatnya.
“Hai. Aku sedang memikirkan sesuatu.”
“Tumben si ganteng kita sedang berfikir. Biasanya juga sudah nongkrong di kantin dan mengganggu teman-teman cewek, iya kan?” sambil mengerlingkan matanya ke arahku.
“Aku sedang berfikir saja. Telah banyak habis waktuku terbuang percuma. Dan aku baru menyadarinya. Sudah berapa tahun aku mengecap pendidikan, namun ilmu yang kuperoleh belum apa-apa dibandingkan waktu yang kugunakan selama proses pendidikan. Waktu belajarku hanyalah saat ujian sudah di depan mata.”
“Tadi pagi, pertemuan dengan Pak Amanan telah mengusik fikiranku. Kami sedang membahas pentingnya buku. Lebih tepatnya, mencintai buku. Pak Amanan mengatakan bahwa buku adalah sebaik-baik teman ngobrol di kala sepi. Kalimat yang dia kutip dari seorang pujangga Arab.”
“Membaca itu, penting gak sih?” tanyaku pada Aulia.
“Kalo aku yang kau tanya, membaca bagiku bukan sebuah kepentingan, tapi kebutuhan. Seperti makan. Jika sehari tidak membaca, aku akan sangat kelaparan dan harus segera dipenuhi. Sebab kalo tidak, tau sendiri kan? Fatal akibatnya.”
“Waw, dahsyat tuh. Kenapa kau bisa ketagihan seperti itu?”
“Panjang ceritanya. Eh, udah bel tuh. Nanti kita sambung lagi ya. Pulang sekolah, bareng aku aja. Penting untuk kau tau, membaca itu mengasyikkan. Sangat mengasyikkan, malah. Aku duluan ya fren.”
Membaca itu mengasyikkan. Benarkah?
“Ayo masuk. Anggap saja rumah sendiri ya….”
Aku terpana melihat suasana rumah Aulia. Setiap sudut rumahnya, aku menemukan tumpukan buku yang tersusun rapi. Ketika memasuki kamarnya, koleksi buku yang dia miliki, membuatku ternganga.
“Ini semua bukumu?”
“Ya. Hanya ada beberapa yang kupinjam dari perpustakaan, seperti tumpukan buku yang ada di atas meja belajar ini.” jelasnya. “Kamu tau Ry, semua orang hebat di dunia ini, sangat gemar membaca.” lanjutnya.
“Oh ya?” tanyaku penuh ingin tahu.
“Ya, sebut saja Bung Karno, orang pertama di Negara kita ini. Dia dikenal sebagai singa podium. Kata-katanya yang membakar semangat. Orasinya menggebu-gebu. Dia bisa seperti itu, salah satunya dengan banyak membaca, sehingga kosa kata yang dia miliki bertambah seiring dengan berjalannya waktu.”
“Andrea Hirata. Panggilan akrabnya Ikal. Tidak pernah dikenal sebelumnya dalam media massa. Namun sekali dia meluncurkan buku, karyanya tersebut telah mendapat tempat di hati pembacanya. Menjadi best seller. Dia dijuluki seniman kata-kata. Membaca karyanya, akan kita temukan beragam kata untuk menunjukkan makna yang sama. Kita seperti membuka kamus lengkap yang tidak monoton. Ikal sendiri haus akan banyak ilmu. Dia adalah master ekonomi, yang mencintai fisika, kimia, biologi, matematika dan juga sastra. Sehingga karya-karya yang dia hasilkan sangat berbobot. Kamu kenal kedua orang itu kan?” Aulia menatapku.
“Tentu saja. Soekarno, Presiden pertama kita, dan Ikal pengarang laskar pelangi yang digandrungi oleh semua kalangan.” Jawabku mantap. “Oh ya, aku boleh melihat-lihat koleksimu kan?” aku menjajari rak buku kepunyaannya.
“Baca juga boleh kok Ry. Eh, aku tinggal bentar ya?”
“Oke.”
Buku-bukunya itu telah disusun dengan rapi sesuai dengan jenisnya. Rupanya dia mempelajari cara mengkatalogkan buku. Ada sekitar tiga ratusan. Aku berdecak kagum. Ada science, komputer, majalah dan koran juga banyak. Di dereten buku-bukunya, aku juga melihat karya sastra dari pengarang-pengarang terkenal. Aku mengambil sebuah dari deretan ini. Harry Potter. Novel yang kupilih. J.K Rowling, sang pengarang sangat lihai membuat kalimat-kalimat panjang dalam deskripsinya untuk menjelaskan lokasi sekolah sihir dan juga karakter para tokohnya tanpa mengurangi keindahan . Jarang orang bisa melakukan hal itu. Hebat.
Beberapa jam di rumah Aulia, aku belajar banyak hal. Seperti yang dia katakan, membaca itu mengasyikkan. Untuk menumbuhkan minat membaca, aku hanya perlu motivasi yang jelas dalam diriku tentang tujuanku membaca. Seharusnya, bukan karena besok ujian, baru aku mulai membaca. Aku jadi geleng-geleng sendiri mengingat tingkahku.
Membaca itu hanya perlu pembiasaan, begitu dijelaskannya padaku. Jika sudah ada motivasi dalam diri untuk membaca, yang dilakukan selanjutnya adalah membuat target membaca. Buku apa yang harus dibaca hari ini. Berapa buku yang harus dibaca dalam rentang waktu seminggu? Target membaca yang telah dibuat dengan sendirinya akan memantapkan motivasi kita. Dengan menetapkan target membaca, maka kita berusaha membentuk kebiasaan membaca. Harus ada komitmen kuat dalam diri kita untuk mematuhi target membaca yang telah kita canangkan.
Aku ingat, ayat pertama yang diturunkan dalam Al-Quran adalah tentang membaca. Pastinya Allah punya rencana yang indah tentang perintah pertama yang ada dalam Al-Quran, membaca.
“Hmm…. Motivasi. Aku harus menemukan motivasiku.” Fikirku dalam diam. “Aha” aku menjentikkan jari. Sebuah ide terlintas dalam benakku. Jika dalam film kartun, akan terlihat sebuah lampu yang terang benderang di atas kepalaku.
“Tak ada yang tak mungkin di dunia ini, jika terus berusaha. Aku pasti bisa!” Tekadku.
Sehelai daun jatuh ke bumi, tepat di depanku berdiri. Tidak seperti biasanya, hari ini begitu menegangkan bagiku.
“Tegang banget Ry.” Tiba-tiba Aulia sudah ada di sampingku. “Kudengar kau semakin giat belajar akhir-akhir ini. Buku menjadi sahabat baikmu. Hebat kamu Ry. Aku sangat senang melihat perubahanmu.” Tatapnya bangga terhadapku.
“Kena virus darimu, Sob. Thanks ya.” Kutatap dia dalam-dalam.
“Andai kau tahu motivasi terbesarku saat ini, kau pasti sangat terkejut. Aku ingin mengalahkanmu, Sob. Tapi hal ini tidak akan kuceritakan sebelum aku tahu hasilnya. Karena itu aku sangat tegang.” Batinku.
“Di awal tahun ajaran ini, ada berita yang cukup menggembirakan.” Suara yang kudengar dari speaker sekolah. Sangat akrab. Suara Pak Sufi. Guru yang bertugas membacakan nama-nama siswa berprestasi setiap semesternya. “Ada seorang siswa yang melonjak prestasinya.”
“Yang dimaksud Pak Sufi, pasti kamu Ry.” Bisik Aulia.
“Juara dua umum semester ini adalah Ary Perdana Kusuma dari kelas II.1”
“Selamat ya Ry” Aulia menyalamiku. Aku tersenyum, namun pahit. “Aku masih ketinggalan satu langkah darimu.” Geramku. Aku segera beranjak dari tempatku. Aku yakin setelah namaku disebut, Pak Sufi akan memanggil nama lengkapnya.
Usai penerimaan raport, kucari dirinya.
“Aulia….” Panggilku sambil melambaikan tangan. “Pulang bareng yuk.”
“Oke.” Dia melangkah ke arahku. “Selamat datang di dunia intelektual, Sob. Prestasimu sungguh mencengangkan.”
“Terima kasih ya.”
“Lho kok ngucap terima kasih segala?”
“Kamu masih ingat percakapan kita dulu, motivasi membaca?’ kulihat dia dan dia mengangguk. “Kamu tahu, motivasiku hingga bisa seperti ini, karena kamu. Aku ingin mengalahkanmu, menggantikanmu di posisi pertama.”
“Wah, keren tuh. Gak nyangka, kamu ternyata sangat dendam padaku.” Tertawa lebar.
“Kenapa kamu gak marah?”
“Buat apa? Aku malah senang ada yang menjadikanku motivasi untuk menggapai tujuannya. Itu artinya dia sangat menghargai aku. Aku juga tidak terlalu peduli dengan gelar juara. Karena jauh sebelum gelar-gelar prestise ini kuperoleh, aku telah mendapat hadiah yang sesungguhnya. Cinta membaca, cinta buku, dan cinta ilmu. Itu semua jauh lebih berharga bagiku. Gelar juara yang kuperoleh tiap tahunnya di sekolah ini, hitung-hitung bonus la…. “ ringan.
“Jadi begitu seharusnya?” Sekali lagi dia mengangguk. “Aku salah selama ini?”
“Tidak ada yang mengatakan kamu salah, termasuk aku. Sudah menjadikan membaca sebagai kebutuhan?”
“Ya.” Jawabku mantap.
“Berarti kamu benar.” Menatapku. Yang terpenting, melanjutkan kebiasaan baik. Tidak pernah berhenti, iya kan?”
“Hidup buku!” teriaknya.
“Hidup membaca!” balasku. Kami berdua tertawa dan terus melangkah pulang. Benar yang dia sampaikan. Bukan karena gelar juaranya, karena hadiah sesungguhnya juga telah kuperoleh. Cinta buku.
Matahari semakin garang menguliti bumi dengan panasnya. Seperti garangnya tekad kami berdua untuk terus membaca, membaca dan membaca.***
Medan, 15 Mei 2010
Selengkapnya...

Jumat, 22 April 2011

Download RPP yang baik

Bagi teman-teman yang kuliah di jurusan pendidikan, guru, dosen, Peserta PlPG tentu sangat membutuhkan yang namanya RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) kan? Nah, sekarang teman-teman bisa download contoh RPP yang baik disini.
Formatnya sudah dalam bentuk word kok. Jadi mudah-mudahan tidak susah lagi untuk mengeditnya.
Selamat membuat RPP. Jadilah guru yang baik untuk generasi yang baik kelak...
Semoga bermanfaat. Selengkapnya...

Kamis, 21 April 2011

SEKALI MERENGKUH DAYUNG, DUA TIGA PULAU TERLAMPAUI

Nashruddin pernah bekerja pada seseorang yang sangat kaya tetapi seperti biasanya ia mendapat kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Pada suatu hari, orang kaya itu memanggilnya, katanya, “Nashruddin kemarilah. Kau ini baik, tetapi lamban sekali. Kau ini tidak pernah mengerjakan satu pekerjaan selesai sekaligus. Kalau kau kusuruh beli 3 butir telur, kau tidak membelinya sekaligus. Kau pergi ke warung, kemudian kembali membawa satu telur. Kemudian pergi lagi, balik lagi membawa satu telur lagi, dan seterusnya. Sehingga untuk beli 3 butir telur, kamu pergi ke warung 3 kali.”
Nashruddin menjawab, “Maaf, Tuan. Saya memang salah. Saya tidak akan mengerjakan hal serupa itu sekali lagi. Saya akan mengerjakannya sekaligus saja supaya cepat beres.”
Beberapa waktu kemudian majikan Nashruddin itu jatuh sakit dan ia pun menyuruh Nashruddin memanggil dokter. Tak lama kemudian Nashruddin pun kembali, ternyata ia tidak hanya membawa dokter, tetapi juga beberapa orang lain. Ia masuk ke kamar, orang kaya itu sedang berbaring di ranjang, katanya “Dokter sudah datang, Tuan. Dan yang lain-lain juga sudah datang.”
“Yang lain-lain?” Tanya orang kaya itu. “Aku tadi hanya minta kamu memanggil dokter, yang lain-lain itu siapa?”
“Begini Tuan!” jawab Nashruddin. “Dokter biasanya menyuruh kita minum obat. Jadi saya membawa tukang obat sekalian. Dan tukang obat itu tentunya membuat obatnya dari bahan yang bermacam-macam dan saya juga membawa orang yang berjualan bahan obat-obatan bermacam-macam. Saya juga membawa penjual arang, karena biasanya obat itu direbus dahulu, jadi kita memerlukan tukang arang. Dan mungkin juga Tuan tidak sembuh dan malah mati. Jadi saya bawa sekalian tukang gali kuburan….”

Sumber: Buletin Cendikia, halaman 3. Selengkapnya...

Rabu, 20 April 2011

APA KABAR PERMAISURIKU?

Entah dimana dirimu berada
Hampa terasa diriku tanpa dirimu
Apakah disana kau merindukan aku
Seperti diriku yang selalu merindukanmu
Selalu merindukanmu….

Suara Ari Lasso yang melantunkan tambang Hampa menghiasi ruang belajarku malam itu. Kala sendiriku yang tengah sibuk dengan tugas-tugas sekolah, lagu tersebut telah merasuk ke dalam relung hatiku. Menggetarkan naluriku, menyentak bathinku. Menenggelamkanku dalam kerinduan yang sangat pada seseorang yang selalu kutunggu hadirnya. Kunanti sapaan lembutnya. Kurindu melihat seulas senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Wajah yang penuh kasih, teduh bercahaya, seteduh rembulan, lagi sopan pribadinya.
Ah…. Aku telah terlalu jauh menembus imajiku. Sangat jauh hingga aku pun ragu akankah dapat kugenggam kembali.
“Ah….” Desahku. “Melamun lagi dech. Padahal aku mesti menyelesaikan tugas-tugas yang telah lama menumpuk. Besok ada ujian kimia lagi” batinku cemas.
Namun, bilangan detik berikutnya aku sudah tidak kuat menguasai jasad ini. Aku telah terbang mencari memori yang terlalu rapi kusimpan hingga nyaris hilang. Kuraba nostalgia indah itu. Kucoba menyusun lembar demi lembar catatan perjalanan masa remajaku yang sarat dengan keceriaan, kegembiraan, wajah-wajah polos, yang sedang merangkak untuk mengerti pongahnya dunai yang kutempati. Dan mulai mengenal adanya cinta, meski sebagian besar orang menyebutnya dengan cinta monyet. Tak apalah. Tidak terlalu kupusingkan istilah itu.
Layaknya suatu kehidupan, masa remaja adalah sebuah sisi kehidupan anak manusia yang mestinya diisi dengan “nuansa pisang”. Namun tak jarang, banyak yang tersungkur dalam gelapnya “tinja”.
Tak kusangka, perpisahan dengan teman-teman SMP-ku menyiratkan rasa mendalam bagiku. Tak kuduga, ternyata aku merasa berat untuk berpisah. Saat satu persatu teman-teman yang kusayangi meninggalkan kenangan yang begitu mempesona di SMPANSA, sebagian hatiku turut mereka bawa pergi. Jauh dari jangkauan insan lemah sepertiku. Aku tak kuasa mengucap sepatah katapun pada mereka. Juga pada sosok itu. Aku hanya bisa menatapnya dari jauh. Membalas senyuman yang dia lemparkan dengan perasaan pahit dan getir.
Dengan sisa-sisa tenaga di masa lalu, kucoba bangkit. Tak ada gnanya mengingat masa silam saja. Aku mulai menata kembali semangat yang telah berserakan di jalanan sepi. Kubangun sebuah menara motivasi di lubuk hati. Aku memutuskan untuk melanjut ke sebuah sekolah negeri di kotaku. Bukan sekolah favorit, tapi aku merasa itulah tempat yang cocok buatku. Dan sosok itu, kudengar melanjutkan studinya keluar daerah, mondok di pesantren.
Aku semakin jarang bertemu dengannya. Segala gundah hanya mampu kucurahkan dalam diaryku. Hanya doa yang bisa kuberikan padanya, seseorang yang namanya telah melekat di hatiku.

8 tahun berlalu sudah.
Entah berapa liter airmata yang terbuang saat kumerindukan hadirnya, namun yang ada hanya nostalgia. Ya…. Aku rindu. Sangat rindu. Pada sosok yang telah membawa terbang sebagian hatiku. Yang telah memberiku harapan untuk dapat menuai kasihnya. Yang telah menyatakan “Tunggulah, aku pasti akan kembali”. Yang telah mengungkapkan “Aku suka kamu. Hanya kamu. Tak tahu kenapa aku menyukaimu. Meskipun kamu hanya gadis biasa. Namun yang kutahu, aku suka padamu dan hanya menyukaimu.”
Maafkan aku! Tak seharusnya aku serius menanggapi ucapanmu. Saat kutahu kau telah kembali ke kota ini, aku terus menunggu, menunggu dan menunggu sapaan lembut yang selalu kau ucapkan kala kita jumpa “Apa kabar permaisuriku?” **** Selengkapnya...

Selasa, 19 April 2011

Sick

Lima hari terhenti dari aktivitas sehari-hari oleh satu sebab “SAKIT”. Yup, sakit yang menyapaku tanpa permisi. Kulihat tubuhku dalam cermin sungguh memprihatinkan, makin kurus. Tinggal tulang… Ups….

Padahal aku tidak pernah berniat untuk diet seperti pikiran banyak orang yang merasa dirinya gemuk. Meski tidak langsing, aku nyaman dengan diriku.
Jad ingat waktu masih tinggal bareng Mom. (Hiks, jadi sedih nech). Jarang sakit. Sekarang, sakit menjadi jadwal rutin tiap bulan. Jadi kangen sama Mom. Hiks… Hiks…. Jadi makin sedih…….
Mami………
Udah ah nangis bombainya.

Setelah kuperhatikan dari kebisaaan-kebisaaan yang aku kerjakan, ada beberapa kebisaaan buruk yang kerap kulakukan hingga tubuhku mudah letih, lemah, lunglai, lesu, dan letoy… (ditambah satu L lagi, lebay… hihi). Kebisaaan itu adalah:
1. Jarang sarapan
Buat sobat semua, jangan sepele sama masalah yang satu ini. Yup, benar. Sarapan. Sarapan itu penting. Penting banget.
Pekerjaan yang menyita waktu dan tenaga, membuatku sering terlambat sarapan. Bahkan tidak sarapan sama sekali. Padahal, aku harus menghadapai berbagai tingkah manusia. Yang tidak jarang membuatku emosi. Stress. Bagaimana badanku tidak meronta minta tolong ingin istirahat, minta diisi? Kadang kita tidak menyadari bahwa kita terlalu kejam terhadap diri sendiri.
Tidak sarapan berlanjut pada tidak makan seharian. Masih mending kalau puasa. Memang gak boleh makan. Ini kan tidak. Parahnya lagi, minum air putih juga kurang. Asupan gizi yang kuterima tiap hari menjadi kurang dari cukup. Jadi aku gak bisa nyalahin orang lain donk kalau sudah sakit kek gini. Ups….
2. Kebanyakan angin
Maksudnya masuk angin. Karena keseringan masuk angin, jadinya kebanyakan angin deh. Hihi.
Daerah tempat tinggalku sangat panas hingga aku selalu kegerahan. Untuk mengurangi gerah, aku memakai kipas angin. Dimana aku berada, kipas angin tidak akan pernah off. Di tempat kerja, di rumah. Tempat tetangga (ketahuan suka nggosip ke tetangga, hihi). Juga saat tidur. Kalau gak gitu, aku gak bisa terlelap. Mana banyak nyamuk lagi. Sedangkan aku harus istirahat yang cukup. Jadilah kipas angin senjata ampuhku. Emang cukup istirahat sih, tapi cukup banyak juga angin yang masuk ke tubuhku. Gembung dah tuh perut….
3. Kurang olahraga
Yup. Ini adalah hal terjarang yang kulakukan. Berolahraga. Berkeringat. Jantung berdegup cepat. Berhari-hari bisa kulewati tanpa olahraga. Udah berapa tahun ya? .
4. Chiliqueen
Hehe. Ini istilah yang diberi keluargaku karena satu kebisaaan yang tidak bisa kutinggalkan, suka makan cabe. Kalau iklannya sih, “Gak bisa makan tanpa ada cabe”hihi.
Berlebihan dalam mengkonsumsi sesuatu tidak baik untuk kesehatan. Segala yang berlebihan, ujung-ujungnya memang tidak baik untuk kita.
Seperti kebisaaanku ini, saking banyaknya makan cabe, perutku jadi sering mulas, ususku terkikis, erosi dah. Sistem pencernaan yang terganggu mengakibatkan banyak penyakit, seperti diare dan disentri. Aih, sakit nian. Bolak-balik ke kamar mandi. Besok paginya, keliatan seperti hantu. Abis, pucat banget, wajah tirus. Dehidrasi. Kehilangan banyak cairan. Sedangkan yang masuk, gak ada. Kalau sakit, mana selera makan. Lemas banget dah. Gak sanggup ngapa-ngapain lagi.

Sungguh gak enak kalau sakit. Jadi, agar nikmat sehat itu menjadi milik kita sehari-hari, sebaiknya menghindari hal-hal yang mendatangkan penyakit seperti poin yang telah aku sebutkan di atas. Sakit juga mengajarkanku untuk lebih menghargai kesehatan yang telah Tuhan berikan padaku. Sakit yang hanya lima hari telah membuatku sangat menderita, sedangkan Tuhan telah memberiku tahun-tahun yang lebih banyak kulewati dalam keadaan sehat, tapi aku sangat jarang bersyukur.
Selamat menikmati kesehatan ya…… Selengkapnya...

FACEBOOK…. OH…. FACEBOOK….


Kulihat mendung di wajahnya pagi itu. Kenapa gerangan? Fikirku. Baru kali ini aku temui wajah itu murung. Biasanya dia yang selalu membuat kami tersenyum dengan tingkah lakunya yang kocak.
Sore harinya, ketika dia telah pulang, mendung masih menggelayut di wajahnya.
“Ada apa denganmu Dek? Dari tadi murung terus? Sebagai kakak yang perhatian, aku bertanya.
Agak lama dia terdiam. Setelah menghela nafas yang sangat berat, mengalirlah cerita itu ….

“Aku disuruh ngulang PKL Kak” masih sendu
“Lho, kenapa? Bukannya nilaimu bagus walaupun presentasinya hancur? Cuma kamu aja yang ngulang?” tanyaku. Masalah di kuliahnya sering dia ceritakan, karena itu aku tahu banyak persoalan kuliahnya.
“Bukan aku sendiri Kak. Tapi kami ada 4 orang. Itulah kak, karena presentasi aku dan beberapa teman hancur, jadi kami harus memperbaiki laporan presentasi kami.”
“Trus?”
“Ini bermula dari status kawan di facebook kak. Biasa la komen-komenan status.
Koro bikin status :

“Duch, harus perbaiki laporan presentasi nech”.

Lalu Middar komen:

“Santai aja fren, suruh aja ibu tu yang buat. kwkwkwkwkwkwk”.

“Karena kalimat itu, dosen kami marah. Dia bilang itu pencemaran nama baik. Padahal kami gak bermaksud kek gitu. Lagian kan, kami nggak nyebut namanya. Tapi dia gak mau terima Kak. Katanya keputusannya nggak bisa diganggu gugat lagi..”
“Kok gitu banget dosennya? Kamu kan gak ada komen, kok kamu kena’ diskualifikasi juga?”
“Aku juga gak ngerti Kak. Dari yang kena diskualifikasi, memang cuma aku yang berteman dengan dosen ini di facebook. Tapi meskipun aku gk punya komen apa-apa, aku tetap terlibat. Parahnya lagi kak, kawanku yang cuma komen “hahahaha” aja pun kena juga. Padahal nilai presentasinya udah dapat A Kak. Makanya stress banget Kak. Sampe Koro bilang, kalo mamanya tau dia ngulang PKL, bisa mati berdiri mamanya..”
Aku ingin tertawa mendengar ceritanya itu. Hanya karena masalah kek gitu? Childish banget.
Tapi aku tahan untuk tidak tertawa, gak enak lihat muka nya yang semakin suram. Takut terjadi hujan badai. Susah aku jadinya.
“Sabar ya Dek. Mungkin hari ini, dosennya masih emosi. Besok coba ditemui lagi. Mudah-mudahan hatinya sudah mencair. Karena menurut kakak, permasalahan ini tidak perlu diperpanjang. Kalau diperpanjang, dosen kalian itu childish banget dan gak professional.” aku coba memberi saran.

Nah guys, berawal dari sebuah status di facebook atau jejaring sosial lainnya, bisa berdampak besar buat masa depan. Contoh riilnya yang sudah umum kita ketahui, yaitu kasus Prita. Cuma gara-gara curhat di email, dia sampe digugat pihak rumah sakit dan sempat masuk penjara. Karena itu, hati-hati membuat status. Tidak semua hal harus diekspos ke media, apalagi dunia maya yang tidak terbatas penggunanya. Akibatnya bisa sangat fatal.
Kan masih banyak media lain yang bisa dijadikan tempat curhat, seperti teman dekat, diary/ buku harian, atau orang-orang yang kita percaya bisa meringankan beban kita dan memberi solusi.
Buat adikku, semoga ini menjadi pelajaran berharga baginya. Kadang kita tidak tahu sial dan naas menghampiri, meski itu dari status yang kita anggap hanya iseng….
FACEBOOK… OH… FACEBOOK….
Selengkapnya...

ARIF KECIL

Ketika malam datang mencekam
Kulihat si Alif kecil yang malang
Duduk tengadah ke langit yang kelam
Meratapi nasib diri



Sepenggal bait di atas mengingatkanku tentang kisah sedih di hari Minggu, tepatnya kisah seorang anak kecil yang harus menanggung beratnya beban hati karena perpisahan kedua orangtuanya.

Dia masih terlalu kecil sebenarnya untuk urusan seperti itu. Dia belum mengerti apa-apa. Masih balita berumur 2 tahun. Dia dipisahkan dari ayahnya oleh orang yang tidak menyukai profesi sang ayah. Entah apa yang ada dalam fikiran orang dewasa sehingga tega memisahkan ayah dan anak. Dia tentunya tidak mengerti, kenapa sejak saat itu dia tidak pernah lagi bertemu dengan ayahnya.
Dia tumbuh dalam keluarga yang tidak lengkap, tanpa ditemani sosok bernama ayah. Mungkin di hatinya, ayahnya telah meninggal dunia. Fisik anak ini tidak memperlihatkan bahwa dia telah banyak melalui masa-masa sulit dalam hidupnya. Tapi psikisnya? Bathinnya pasti sangat menderita. Ketika ke sekolah, anak-anak lain diantar oleh ayah dan ibunya, dia tidak pernah sekalipun mendapat perlakuan seperti itu. Dia dating sendiri dengan berjalan kaki tanpa seorangpun yang mengantarnya. Dia mencoba maklum dengan keadaan dirinya. Namun, benteng yang telah dia bangun akan segera hancur saat teman-temannya menanyakan perihal dirinya. Kenapa dia dating sendiri? Ketika dia diolok-olok oleh teman-temannya karena keberadaan ayahnya tidak jelas.
“Dimana ibumu?” seorang teman bertnya.
“Kerja.” Jawabnya singkat
“Ayahmu?” Tanya teman yang lain
Anak itu terdiam.
“Ayahmu?” Tanya yang lain lagi.
Masih terdiam.
“Ayahmu?”
“Aku tidak tahu” dia akhirnya menjawab.
“Kau tidak tahu dimana ayahmu? Pasti kau tidak punya ayah kan?” ejek temannya lagi.
“Aku punya ayah.” Jawabnya gusar.
“Tapi, dimana ayahmu? Kenapa kau tidak tahu dimana dia? Kau anak haram ya? Ejek mereka lagi sambil tertawa.
“Aku bukan anak haram. Aku punya ayah. Aku punya ayh. “ Dia semakin gusar.
Mata itu melotot. Melotot kesedihan. Dia tidak lagi bisa menahan airmatanya. Genangan air di pelupuk matanay tidak terbendung lagi. Anak itu menangis. Menangis yang menyayat hati.
Tidak bisa disalahkan jika dia menjadi sangat membenci ayah dan ibunya. Anak mana yang tidak ingin mempunyai keluarga yang lengkap. Jika salah satunya telah meninggal dunia, dia masih bias dengan tenang menjawab, tanpa ada tekanan, bahwa ayah atau ibunya telah meninggal dunia. Yang bertanya pasti terdiam, atau meminta maaf serta takkan pernah mengulangi pertanyaan yang sama. Namun, jika belum meninggal dunia, tapi tidak diketahui rimbanya, tentu si anak akan bingung. Masih ada. Tapi dimana? Seperti apa rupanya? Mengapa tidak pernah menemuinya? Begitu bencikah padanya hingga sekalipun tidak pernah mau menjumpainya? Hal-hal seperti itu yang akan dilalui seorang anak. Wajar saja jika dia membenci kedua orangtuanya. Semakin pendiam. Hidup dalam dunianya sendiri.
Apa yang ada dalam fikiran orang dewasa? Mengapa memilih perpisahan sebagai jalan keluar? Tidakkah mereka mengerti ada yang terluka hatinya karena pilihan tersebut? Hati yang sangat terluka, tergores sangat dalam? Itulah anak-anak, buah hati yang lahir dari cinta kasih mereka dan harus menanggung penderitaan karena perpisahan kedua orangtuanya.
Apa yang ada dalam fikiran orang dewasa?

Kilat menyambar hujan pun turun
Semakin basah hatinya yang resah
Kapankah semua ini kan berakhir
Di jalanan penuh duri *Snada*
Selengkapnya...