Sabtu, 16 Februari 2013


http://forum.kompas.com/surat-cinta/237329-%5Bsuratcinta%5D-rindu-untuknya.html Selengkapnya...

Go Green dengan Undangan Pernikahan Online

Pernikahan merupakan sebuah moment yang sakral bagi kehidupan manusia. Sakral karena setiap orang mendambakan pernikahan yang hanya sekali untuk seumur hidup. Menikah hanya sekali. Apalagi menikah dengan orang yang diidamkan, merupakan sebuah anugrah yang tak akan ternilai harganya. 

Setiap orang tentu akan semakin bahagia jika pernikahannya mendapat restu dari orang tua. Ketika prosesi lamaran telah usai, tanggal penentuan untuk melangsungkan pernikahan juga telah disepakati, maka jeda waktu menuju hari-H merupakan hari-hari yang sibuk bagi calon pengantin dan keluarga.

Banyak hal yang harus dipersiapkan, diantaranya baju pengantin, lokasi, pelaminan, catering, serta undangan pernikahan. Undangan pernikahan juga sangatlah perlu. Sebuah pernikahan haruslah diketahui oleh warga di sekitar kita ataupun orang-orang terdekat kita, atau orang-orang yang kita kenal. Kita harus mengundang masyarakat sekitar dalam hajatan kita, agar mereka mengetahui bahwa kita telah menikah sehingga tidak akan terjadi fitnah jika masyarakat melihat kita selalu bersama dengan pasangan kita. Selain itu, mereka juga akan turut mendoakan agar pernikahan kita langgeng. Orang-orang terdekat ataupun yang kita kenal juga seyogyanya mendapat undangan dari kita. Mereka pasti akan sangat senang kita undang dan mengusahakan untuk datang ke acara kita. Terlebih penting lagi, dengan mengundang mereka, kita masih mengingat keberadaan mereka. Dan ini tentu akan membahagiakan mereka juga. 

Saat ini, tidaklah susah jika kita ingin membuat sebuah undangan pernikahan. Percetakan undangan dengan bentukyang unik, menarik, mudah kita temukan. Namun, bagaimana dengan orang-orang yang jauh? Selain memanfaatkan fasilitas telpon, sms, bbm ataupun whatsapp, sekarang telah banyak juga undangan pernikahan online. 

Di era informasi seperti sekarang, dunia online telah menjadi tren untuk masyarakat yang serba instan, canggih dan modern. Begitu juga untuk urusan undangan pernikahan. Telah ada penyedia layanan undangan pernikahan online seperti www.datangya.com


   

Undangan pernikahan online ini mempunyai kelebihan, diantaranya: 

  • Menghemat kertas. Dengan menggunakan situs online, kita telah ikut berperan menghijaukan bumi (atau istilah kerennya, go green). Selain itu, kita juga telah menghemat kertas, sebab undangan ini kita kirim via online, bukan offline. Dengan menghemat kertas, kita telah berupaya menjaga keberlangsungan kehidupan pepohonan, mengurangi jumlah pohon ditebangi yang artinya membuat hutan tetap asri, dan sekali lagi mendukung gerakan go green, hijaukan bumi kita.
 
  • Menghemat waktu. Waktu yang kita gunakan untuk menyebarkan undangan ke rumah orang-orang yang akan kita undang, akan terpangkas dengan menggunakan undangan pernikahan online. Jika 10 undangan yang kita sebar via offline membutuhkan waktu sekitar satu jam, maka hanya dalam waktu kurang dari satu jam, undangan pernikahan online tersebut akan sampai pada semua nama yang ada dalam list yang akan kita undang. Sangat efisien. Hal ini juga berhubungan erat dengan tenaga yang akan kita keluarkan. Tenaga yang kita pakai untuk menyebar undangan akan dapat kita simpan hingga di hari H tetap fit dan segar.
 
  • Murah dan “Wah”. Di situsnya www.datangya.com disebutkan bahwa biaya pembuatan undangan pernikahan online mulai 250ribuan. Harga yang disebutkan sudah merupakan harga yang murah. Sebab, untuk membuat satu kartu undangan pihak percetakan biasanya menawarkan harga 2000-3000 untuk desain dan jenis kertas yang paling murah. Jika jumlah undangan kita 100 orang, maka biayanya telah mencapai 200ribuan. Jika lebih dari 100 orang, maka biayanya akan bertambah. Ini masih bentuk yang sederhana. Jika undangan yang ingin dibuat berbentuk lux serta menggunakan tinta emas, harganya akan semakin mahal. Bisa mencapai 15ribu/ lembarnya. Sangat berbeda dengan undangan pernikahan online. Modal yang kita keluarkan hanya berkisar 250ribuan, namun kita bisa mengirimnya ke semua nama yang ada dalam list yang akan diundang. Murah meriah bukan? 
  • Efektif dan efisien. Undangan pernikahan via offline biasanya selesai dalam waktu tiga hari sampai seminggu, tergantung banyaknya jumlah undangan dan kerumitan design undangan. Maka, undangan pernikahan online bisa selesai hanya dalam kisaran waktu 15-20 menit. Penggunaan waktu yang efektif dan efisien. Meskipun waktunya singkat, undangan tersebut dapat dipesan dengan design yang mewah, indah, dan tidak biasa. 

Hmm, berminat bukan? Segera saja buka situs www.datangya.com dan dapatkan informasi selengkapnya di sana.
Selengkapnya...

Sabtu, 09 Februari 2013

MANDIRI BERWIRAUSAHA BERSAMA BANK MANDIRI



Dewasa ini, pengangguran merupakan masalah yang belum bisa tuntas diselesaikan. Minimnya lapangan kerja, sementara para pencari kerja bertambah jumlahnya kian tahun. Bukan hanya dari kalangan yang hanya lulusan SD, SMP, atau SMA sederajat, tetapi juga dari kalangan sarjana. Pengangguran bertebaran dimana-mana.

Salah satu cara untuk mengurangi pengangguran adalah dengan menambah lapangan kerja. Lapangan kerja dapat tercipta, salah satunya dengan wirausaha. Wirausaha merupakan solusi untuk meningkatkan laju pertumbuhan perekonomian sebuah bangsa. Jumlah pengusaha di Indonesia masih berjumlah 0,18 %, sedangkan menurut David McClelland sebuah negara akan mencapai kemakmuran bila terdapat sedikitnya 2% dari populasi bangsa negara itu menjadi entrepreneur/ pengusaha.

Salah satu kendala yang menyebabkan kurangnya minat masyarakat menjadi wirausahawan adalah modal. Modal adalah denyut nadi dalam bisnis. Tanpa modal, mustahil suatu bisnis bisa berjalan. Bagi seorang wirausaha, modal yang paling utama adalah kemauan yang kuat, keberanian mengambil resiko yang sudah diperhitungkan, dan kerja keras. Tapi juga tidak terlepas dari modal yang berbentuk materi. Di sini, kita akan membahas modal dalam bentuk materi. Sumber modal materi itu di antaranya; modal sendiri (tabungan), modal dari keluarga/ saudara, dan modal dari lembaga permodalan (bank).
 
Bank Mandiri merupakan solusi jika sumber modal sendiri dan keluarga tidak bisa diperoleh atau tidak mencukupi untuk memulai atau mengembangkan sebuah usaha.

Dalam hal ini, Bank Mandiri, yang merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia, memiliki program untuk menambah jumlah pengusaha di Indonesia lewat programnya wirausaha muda mandiri. Melalui program ini, Bank Mandiri sangat mendukung semua pihak yang ingin menjadi wirausaha, terlebih para pemuda.

Bank Mandiri mempunyai produk-produk unggulan yang bisa dimanfaatkan oleh wirausahawan, seperti:

1.    Mandiri KTA
            Salah satu program yang mendukung wirausaha/ calon wirausaha adalah Mandiri KTA/ Kredit Tanpa Agunan. Mandiri KTA merupakan kredit perorangan tanpa agunan dari Bank Mandiri untuk berbagai keperluan, yang diberikan kepada calon debitur yang memenuhi persyaratan. Keunggulan dari produk ini selain tanpa agunan, cicilannya ringan, limit pinjaman sampai dua ratus juta, dan persyaratannya juga mudah. Misalkan, penghasilan Anda berkisar satu juta/ bulan, Anda bisa mengajukan pinjaman sampai dengan sembilan juta rupiah dengan cicilan hanya 400.000 per bulan selama tiga tahun. Sangat membantu, bukan?
Untuk informasi lebih lengkap tentang produk ini, Anda bisa mengunjungi situs Bank Mandiri di http://www.bankmandiri.co.id/article/978985831710.asp
 
2.    Mandiri KPR
Produk Bank Mandiri yang satu ini juga sangat mendukung para wirausahawan yang ingin segera memiliki tempat usaha/ tempat tinggal sendiri. Wirausahawan yang di awal usahanya hanya bisa mengontrak tempat karena keterbatasan dana, akan terbantu dengan adanya produk ini. Selain bisa memaksimalkan keuntungan karena akan mengurangi biaya beban sewa bangunan tempat usaha, wirausahawan bisa lebih cepat mengembangkan usahanya. Hal ini juga lebih efektif  karena wirausahawan dapat lebih fokus untuk menambah tenaga kerja dengan tidak adanya alokasi dana untuk biaya sewa bangunan lagi.

3.    Mandiri Tabungan
Seorang wirausahawan tentu akrab dengan kegiatan transaksi yang seringkali menggunakan jasa perbankan. Hubungan dengan suplier, distributor, produsen, pengecer dan lain sebagainya, akan lebih mudah dengan adanya mandiri tabungan, dalam hal ini mandiri tabungan bisnis. Seorang wirausahawan yang mempunyai banyak relasi di luar kota misalnya, akan terbantu dengan rincian transaksi yang sengaja dipersembahkan oleh Bank Mandiri untuk kemudahan transaksi. Layanan sms banking, mobile banking dan internet banking merupakan perwujudan dari kemudahan transaksi yang diberikan oleh Bank Mandiri. Seorang wirausahawan yang memiliki dealer di beberapa wilayah dan mempunyai kepentingan pembayaran dalam waktu yang sama misalnya, akan lebih mudah memeriksa transaksinya karena dilengkapi dengan deskripsi dan keterangan transaksi yang jelas dan lengkap. 

4.    Mandiri Tabungan Rencana
Setelah didukung dengan kemudahan modal, kemudahan dalam bertransaksi, Bank Mandiri juga turut membantu para wirausahawan untuk mengontrol pengeluaran pribadi dan karyawannya dengan Mandiri Tabungan Rencana. Mandiri Tabungan Rencana berbeda dengan Tabungan biasa. Perbedaannya adalah pada kewajiban nasabah untuk menabung dengan jumlah tertentu setiap bulan dengan keuntungan mendapat asuransi serta terencananya masa depan nasabahnya. Hal yang paling dikhawatirkan oleh kebanyakan orang dewasa ini adalah ketidakmampuan dalam mengelola keuangan pribadi. Hal ini yang menyebabkan banyak orang kaya yang harus mengeluarkan tambahan biaya dengan membayar konsultan keuangan atau mungkin manager investasi hanya sekedar untuk mengatur keuangan yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri. Melalui Mandiri tabungan rencana, wirausahawan dapat merencanakan masa depannya. Bahkan wirausahawan juga dapat membantu karyawannya untuk merencanakan masa depan mereka, agar sama-sama meraih masa depan yang cemerlang, bahagia, serta sesuai dengan keinginan dan cita-cita. 

5.    Mandiri Kartu Kredit
Hidup di zaman dengan mobilitas yang sangat tinggi seperti sekarang ini, menuntut seorang wirausahawan untuk dapat melakukan aktivitas bisnis maupun pribadi dengan efektif dan efisien. Wirausahawan dapat melakukan transaksi dengan mudah, dengan menggunakan Mandiri Kartu Kredit. Wirausahawan dapat merencanakan pengembangan usahanya dengan baik, dengan jumlah limit yang sudah ditentukan, sehingga hasil yang maksimal dapat diraih. Wirausahawan dapat memasok bahan baku atau menstok barang lebih banyak dengan Kartu kredit sehingga beban pengiriman barang yang semestinya tiga kali pengiriman dapat disusutkan menjadi satu kali, karena biasanya biaya pengiriman tidak terlalu berbeda antara barang yang banyak dengan yang sedikit. 

Untuk melihat ilustrasi dari produk-produk Bank Mandiri yang telah dipaparkan di atas, Anda bisa melihat konten videonya di http://youtu.be/y5UicfHy3g0

Sudah jelas bukan, Bank Mandiri sangat membantu meningkatkan perekonomian melalui produk-produk yang membantu memajukan wirausaha. Negara Indonesia juga bisa maju, seperti negara-negara maju,  dengan bertambahnya jumlah wirausahawan. Masalah pengangguran yang selama ini menjadi misteri yang tidak terpecahkan pemerintah, dapat teratasi, yang otomatis akan meningkatkan kesejahteran masyarakat sekaligus perekonomian Indonesia.

Jika masih kurang jelas, anda bisa mengunjungi situs www.bankmandiri.co.id atau Bank Mandiri terdekat untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap.

Jadi, apapun keinginan Anda, Mandiri saja.... Selengkapnya...

Kamis, 04 Oktober 2012

Umar Bakriku

Kalian tahu lagu Umar Bakri nya Iwan Fals? Bagi yang tidak tahu, kuberi sedikit contekan ya. Lagu itu berkisah tentang Umar Bakri, seorang guru yang berstatus pegawai negeri. Layaknya pegawai negeri di Indonesia ini, dijejali administrasi yang membuat kepala puyeng. Administrasi yang seyogyanya bisa dipangkas agar lebih cepat selesainya malah dibuat berliku-liku untuk urusan yang seringkali, bertele-tele. Dari lagu itu juga disebutkan, jika ingin jadi guru yang bersahaja, atau pegawai negeri yang bersahaja, haruslah rela mengurut dada ketika bagiannya harus dipotong oleh pihak yang merasa berwenang atas hal-hal yang mereka buat sendiri peraturannya, hanya untuk mempreteli gaji sang guru yang baik hati itu. 
Iwan Fals tidak main-main lho membuat lagu itu. Mungkin bukan rahasia lagi buat kita kan? Aku juga ingin menceritakan tentang nasib Umar Bakriku yang berada dekat dalam hidupku. Ayah dan ibu. Kedua insan yang telah membesarkanku ini adalah guru SD di sebuah desa yang cukup terpencil. Kurang memperhatikan pendidikan. Di daerah ini, umumnya masyarakat bermata pencaharian sebagai petani. Petani salak. Kepedulian para orangtua masih sangat minim terhadap pendidikan. Jangankan untuk pendidikan, bahkan setiap rumah belum memiliki kakus sendiri. Jika ingin membuang kotoran, masih harus ke wc umum yang bentuknya pun masih tidak layak disebut wc. Bau dan pengap. Menyedihkan.
Masyarakat sepertinya tidak terlalu peduli dengan keadaan demikian. Yang penting bagi mereka, adalah masa panen salak. Atau duduk berkelompok-kelompok ngerumpi dan membicarakan tetangganya atau siapa saja yang asyik untuk dighibahkan. Bangun kesiangan, itu biasa bagi ibu-ibu di desa itu. Sehingga seringkali anak-anak mereka yang bersekolah, tidak sarapan bahkan tidak mandi. Itu sudah bukan barang baru di sana.
Bisakah kalian membayangkan bagaimana sulitnya guru di desa ini untuk mendidik anak-anak seperti itu? Aku bilang, sangat-sangat sulit. Anak-anak yang tidak sarapan sebelum ke sekolah sangat susah untuk menangkap pelajaran yang diterangkan guru. Mereka kekurangan nutrisi, sementara otak disuruh bekerja. Tentu saja otak menjadi bebal. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Itu masih mendingan. Masih ada yang nyangkut, walau secuil. Tapi keadaan mereka, langsung melambung keluar dari telinga kanannya, sedikitpun tidak ada yang tercerna. Tingkat kebandelan karena diabaikan orangtua, itu juga berpengaruh. Belum lagi kerapian. Takkan perlu ditanya. Bahkan sang ibu tidak merasa risih jika baju sekolah anaknya sobek di sana-sini.
Itulah tantangan pertama Umar Bakriku saat menghadapi anak-anak didiknya. Tapi dia tidak pernah mengeluh. Dengan semangat ‘45, dengan jiwa Pancasilais nya, Umar Bakriku selalu berusaha hadir setiap hari, sangat jarang absen kecuali untuk urusan yang sangat urgent dan tidak bisa ditinggalkan, demi tugas mulia, mendidik anak bangsa yang terbelakang itu, agar memiliki ilmu dan bisa berdikari kelak dengan ilmunya. Bahkan pernah, karena begitu menghargai profesi yang dicintainya ini, seorang Umar Bakriku tetap ngotot berangkat ke sekolah untuk mengajar sementara di rumah, anaknya yang baru berumur sekitar empat tahun demam tinggi dia tinggalkan dengan hanya ditemani sang kakak yang baru kelas empat SD. Sampai-sampai Umar Bakriku ditegur ayahnya dengan kalimat yang sampai hari ini masih melekat dalam ingatan Umar Bakriku, “Sekali lagi, jangan kau lakukan itu ya Nak, atau kau pulang, di rumah ini telah ramai datang orang melayat”. Dahsyat. Teguran yang membuat bulu kuduknya berdiri. Sakit si anak itu telah parah, kawan. Hanya karena tidak ingin meninggalkan tugas yang di pundaknya itu, Umar Bakriku memilih meninggalkan si anak yang sakit.
Tapi apa yang diterima oleh Umar Bakriku ini? Sangat ironis, kawan! Kita mulai dari penerimaan gaji. Sebuah keniscayaan setelah melakukan kewajiban adalah mendapatkan hak. Jika gaji guru-guru di kota besar telah dikirim ke rekeningnya masing-masing, maka gaji kedua Umar Bakriku ini masih harus diambil ke kantor dinas oleh kepala sekolah kemudian kepala sekolah yang membagi-baginya pada bawahannya. Terima gaji yang harusnya tanggal satu, akan menjadi terlambat bagi mereka. Sebab keadaan memaksa demikian. Jika kepala sekolah menjemput uang gaji guru-guru bawahannya pada tanggal satu, maka pembagiannya akan diserahkan esok harinya. Lebih malangnya lagi jika tanggal satu bertepatan hari sabtu. Maka kemungkinan besar tanggal gajian mereka adalah tanggal empat. Akhir bulan yang sangat mencekik.
Hal selanjutnya adalah, sampailah gaji tersebut di tangan kedua Umar Bakriku. Tanyakan saja jumlahnya apakah sama dengan yang tertera di kertas slip gaji? Tidak pernah sama kawan! Telah ada pungutan sebelumnya. Biaya administrasilah, uang pramuka, uang osis, uang zakat. Bermacam cara dibuat oleh pihak-pihak yang ingin menggerogoti warga lemah ini. Ya. Guru SD adalah makanan enak bagi dinas-dinas pendidikan pada umumnya. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada Guru SD yang kalian kenal. Terlebih lagi guru SD itu adalah guru di desa terpencil. Maka nasibnya akan jauh lebih ironis.
Jangan ditanyakan lagi kesejahteraan. Semua itu nonsense. Pihak-pihak yang berkuasa akan selalu mencabuli hak-hak bawahannya. Hari ini, telah banyak guru sertifikasi yang gajinya memang lebih banyak. Umar Bakriku pun demikian adanya. Namun, tahukah kalian bahkan untuk mendapatkan haknya itu, Umar Bakriku harus mengurus adminsitrasi yang berjibun. Setiap hari mendatangi kantor dinas, untuk memastikan administrasinya telah sesuai atau tidak. Jika urusan administrasi telah selesai, Umar Bakriku harus memberikan sejumlah uang agar uang yang merupakan haknya itu, mereka cairkan. Jika telah cair (bulan cairnya juga tidak tahu kapan, bisa per tiga bulan, per enam bulan, atau per tahun) kedua Umar Bakriku pun harus lagi mendatangi pihak yang berkuasa itu untuk memberikan sejumlah tip sebagai ucapan terimakasih. Karena jika tidak demikian, untuk selanjutnya, hak nya tersebut akan macet turunnya. Sekali lagi, sangat ironis!
Kedua Umar Bakriku telah lelah merutuk dalam hati, sebab mereka tidak berdaya atas ketidakadilan itu. Perlawanan yang mereka lakukan hanyalah lewat hati, yang merupakan selemah-lemahnya perlawanan. Kini Umar Bakriku itu hanya berkata (demi menghilangkan kerusuhan hati dan mendatangkan kedamaian jiwa), “Jika yang mereka ambil itu merupakan hakku, kelak di hadapan Tuhan, mereka harus mencariku untuk mengembalikannya”. Kepasrahan yang total. Pengaduan dari dia yang teraniaya. Sungguh Tuhan akan mengabulkan doa dari mereka yang dianiaya. Andai mereka selalu menyadarinya. Dan semoga kedua Umar Bakriku tetap ikhlas dan sabar dalam menjalankan tugas mulia yang diembannya itu. Semoga Umar Bakriku selalu dimuliakan Tuhan yang berusaha memuliakan makhluknya lewat ilmu yang dia ajarkan Amin.
Selengkapnya...

Jumat, 21 September 2012

Zona Ketidaknyamanan

Semenjak aku keluar dari kehidupan kampus, aku memilih profesi sebagai wirausaha begitu menjejakkan kaki di universitas kehidupan. Pilihan aneh menurut sebagian banyak orang yang mengenalku.
“Sudah selesai kuliahnya? Kerja dimana atau nagajar dimana sekarang?” begitu pertanyaan yang mereka lontarkan.
“Aku mengelola cafe.” jawabku santai, dengan senyum manis yang kumiliki.
“Sayang sekali ya. Kenapa tidak mengajar saja atau kerja dimana gitu.” pertanyaan mereka selanjutnya.
Aku tidak merespon. Bukan tidak punya jawaban. Hanya tidak ingin berdebat. Sebab pilihanku ini memang terkesan ‘aneh’ bagi mereka. 
Aku selalu berusaha menghindari perdebatan. Dalam perdebatan, setiap orang pasti mempertahankan pendapatnya, sama-sama ingin menang. Itulah yang tidak kusukai. Oleh karena itu, aku memilih diam. Cara aman agar perdebatan tidak bermula atau segera berakhir.
Bukan tidak ada masalah saat aku menetapkan pilihan ini. Terlalu banyak malah. Bahkan untuk menenangkan hatiku bahwa aku tidak salah memilih pun sering kulakukan ketika saat-saat galau itu muncul. Kekurangan omset. Pelanggan yang sepi. Modal yang belum terbayar. Sewa kios yang masih seperdelapan dalam genggaman. Belum lagi tagihan listrik dan air yang menunggu untuk dibayarkan. Semua itu terkadang mengerdilkan semangat untuk tetap bertahan di zona tidak nyaman ini.
Hanya senyum ibu yang menguatkan kembali jiwaku. Nasihatnya bagai oase di sahara jiwaku. Melegakan.
“Air tidak selalu pasang Nak. Pasti ada surutnya. Demikian dalam bidang yang kau geluti, dagang. Terkadang ramai, terkadang sepi. Begitulah hidup. Bagai roda yang berputar. Tak usah risau. Bersabarlah. Kelak kau akan petik dari hasil kesabaran itu.”
Ibu sangat paham alasanku atas dunia baru yang kujalani itu.
“Aku hanya ingin mengubah kehidupan kita, Bu. Tidak melulu seperti ini. Di samping, aku juga ingin menambah lapangan pekerjaan, bukan menambah jumlah orang yang ingin bekerja. Satu-satunya jalan yang ada dalam benakku adalah wirausaha, Bu.”
Ibu tersenyum, tenang menanggapi. “Ibu tidak akan memaksa kalian agar jadi seperti Ibu. Tidak akan pernah. Berlarilah, dan kejarlah mimpi yang telah kalian bangun. Kalian telah cukup dewasa dalam mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup yang kalian hadapi. Jika hanya ingin seperti ibu, hidup kalian tidak akan jauh-jauh berbeda. Hanya mengharapkan tanggal satu. Kemudian mulai mengencangkan ikat pinggang di akhir bulan. Pesan ibu, selalu ingat Tuhan dalam setiap urusan. Jika jadi pedagang, jadilah pedagang yang jujur, seperti yang dicontohkan Nabi. Sesibuk apapun, jika waktu shalat tiba, jangan pernah meninggalkannya. Semua itu hanya urusan dunia. Jangan pernah melupakan uurusan akhiratmu jua.”
Nasehat panjang ibu ketika kuucapkan niatku saat itu.
Dunia itu pun kugeluti. Niat hati ingin berwirausaha, namun pada awalnya seperti kerja serabutan. Dimana rezeki terkuak, ke sana akan kukejar.
Setahun, aku menjadi pengelola warnet, belum habis perjanjian dengan investor, aku harus rela mengalah atas janji yang diingkari. Aku pulang. Kandas harapanku kala itu. Sebuah pengkhianatan, mampu membuat hatiku porak poranda. Pulang tanpa ada pengharapan. Biarlah Tuhan yang menunjukkan jalan.
Tahukah kau, kawan! Tuhan itu memang Maha Baik. Dia menunjukkan jalan. Aku diminta kakak iparku untuk mengelola cafe bersamanya. Tawaran itu, tentu saja kuterima dengan hangat. Kakak ipar hanya menemaniku selama sepuluh hari, sebab ia pindah, membuka usaha baru di daerah asalnya. Dalam kesendirian itu, aku tetap berusaha fight. Aku tidak tahu apa-apa, bahkan memasakpun aku tidak terlalu suka, lalu aku ditinggalkan memikul tanggung jawab itu, sendirian. Aku berusaha keras belajar. Sebulan, aku pun terbiasa dengan semua urusan dapur itu.
Sudah kukatakan di awal, berada di dunia usaha sama artinya dengan menempati zona ketidaknyamanan. Hanya setahun, cafe yang kukelola, yang merupakan milik dua orang (Kakak iparku dan temannya), harus kuserahkan pada pemiliknya kembali. Sebab sang pemilik (dalam hal ini adalah teman kakak iparku) tidak hanya ingin bagian sebagai investor tapi dia juga ingin ikut serta mengelolanya.
Aku, masih dengan sikap menjaga perdamaian, menerima keputusan walaupun harus move on dari cafe tersebut. Tak apa. Pasti ada jalan lain. Dan, kututup catatan hatiku tentang cafe yang kemarin kukelola.
Dan, tahukah kau kawan, keajaiban itu muncul lagi, oleh sebuah kata: silaturrahim.
Jika kalian pernah dengar perkataan yang menyebutkan silaturrahim akan memperpanjang usia dan menambah rezeki, itu benar. Aku akan menggarisbawahi kata menambah rezeki.
Sudah kukatakan bahwa aku telah tutup buku untuk kata bernama ‘cafe’ yang pernah kukelola kemarin. Waktu setahun kurasa telah cukup untuk menambah pengalaman di bidang kuliner itu. Namun di suatu hari, kakak iparku mengajakku ke cafe, silaturrahim ke sana, mengunjungi temannya itu. Tidak terlintas sedikitpun bahwa aku akan kembali ke cafe walau saat itu aku berstatus non job. Tanpa sepengetahuanku, ternyata mereka membicarakanku. Apakah aku mau kembali ke sana?
Kakak ipar menanyakan kesediaanku lagi. Aku katakan, aku mau, asalkan sistemnya, sistem bagi hasil seperti kemarin. Teman kakak iparku itu setuju. Aku pun mengangguk mantap untuk memulai lagi jiwa petualangan itu di sana.
Rezeki tidak kuduga yang Ia hadiahkan padaku semakin menambah keyakinanku padaNya. Ketika seluruh urusan kehidupan ini benar-benar kita serahkan padaNya, Dia akan memberikan yang kita butuhkan, tanpa pernah kita duga. Yakinlah kawan!
Jadi, apapun yang kita pilih, yang kita jalani, terima saja dengan kesyukuran. Akan selalu ada kemudahan-kemudahan di balik kesukaran. Kesukuran itulah sebenarnya penambah indahnya perjuangan. Demikian dengan kisah hidup yang kujalani. Awalnya mungkin begini. Aku masih seekor semut di antara kerumunan gajah. Kerdil. Bahkan akan mudah diinjak-injak. Tapi, ketika semut kecil itu bertahan, berusaha menghindar dari pijakan kawanan gajah, pastilah dia akan menemui titik kemenangannya. Bukankah gajah yang sangat besar badannya juga bisa tumbang oleh semut kecil di saat sang gajah terlena, tidak menyadari ketika semut kecil itu menaiki tubuh tembemnya sampai ke kepala lalu memasuki telinga sang gajah sampai ke gendang telinga yang jika digigit oleh hewan sekecil itu pun akan terasa sakitnya. Bahkan gajah yang berbadan besar itu pun tumbang, kawan!
Selengkapnya...

Selasa, 18 September 2012

Jejak di Dua Kota

“I have a dream. I want to continue my study at archeology UGM. If I do my best, I believe I can. I can be there as soon as possible. After graduated from high school, I believe I’ll be there.” Sebuah catatan yang kubaca dari tulisannya tentang mimpi yang dia punya. Saat itu, dia sedang mengikuti bimbingan belajar di sebuah tempat bimbingan di kota Medan. Aku bisa merasakan semangat yang dia punya dengan membaca tulisan itu. Tulisan tentang sebuah mimpi miliknya. ### Polonia, 2 Juli 2011 pukul 18.30 PM Setengah tidak percaya kupandangi dia. Sebentar lagi dia akan masuk ke dalam untuk melakukan penerbangan pertamanya. Kucek ulang barang-barang bawaannya. Kepergiannya ini tidak pernah kami duga karena sesungguhnya kami tidak mengharapkannya. Yogyakarta. Tempat itu terlalu jauh buat kami. Terlalu sulit untuk kami raih. Kami sekeluarga pada awalnya terkesan tidak setuju atas pilihannya untuk menuju kota pelajar itu. Alasannya cukup klasik. Masalah biaya. Jaraknya yang lumayan jauh, ongkos yang harus dibayar juga tidak sedikit. Tidak memungkinkan untuk bisa pulang, terlebih saat lebaran. Lebaran adalah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga. Masa seperti itu akan tetap menyisakan sedih meskipun telah kita coba kuat-kuat untuk menepisnya. Kami semua telah mencoba meyakinkannya bahwa UGM bukan pilihan yang tepat. Tetapi dia tetap bersikukuh. Tidak bergeming sedikitpun dari pendiriannya. Pada akhirnya, dia menjadikan UGM pilihan pertamanya saat mendaftar ujian masuk universitas tersebut. Tidak seorang pun dari kami yang mengharapkan dia lulus di sana. Akan tetapi kenyataan menjawab lain. Dia lulus untuk jurusan yang sangat diinginkannya itu. Kelulusan itu membuat kami bahagia, tetapi diiringi dengan airmata. Airmata kepedihan. Pedih dengan nasib. Buat keluarga besar kami yang hidup dengan gaji dua orang guru SD di desa yang terbilang cukup terpencil, akhir bulan adalah saat-saat menggetirkan. Ketika uang yang di tangan tidak lagi memadai. Dengan apa dia akan diberangkatkan? Ketidakberharapan itu membuat kami tidak mempunyai persiapan. Terlebih ibu. Mendengar kabar itu, dia yang sedang menulis RPP dan silabus, terhenti seketika. Seperti waktu yang terhenti, itulah yang ibu rasakan. Dia terdiam. Diam memikirkan anak yang akan menuju kota yang jauh. Tuhanku, sungguh Engkaulah yang menentukan semua ini. Engkau tahu aku sanggup melakukannya maka Engkau berikan masalah ini untukku. Aku bahagia ya Tuhan untuk keinginan anakku yang tercapai. Cita-cita yang dia idamkan. Tetapi ya Tuhan, Engkau juga tahu keadaan ekonomiku yang juga begitu terhimpit. Aku tahu Engkau tidak pernah zhalim pada hambaMu. Berikanlah aku jalan keluar terbaik ya Tuhanku untuk masalahku ini. Aku yakin, inilah yang terbaik dariMu. Mudahkanlah urusanku. Lapangkanlah dadaku Berikanlah jalan keluar terbaik untuk masalahku. Ibu berkata-kata sendirian sembari terus menulis dengan hati yang ikut menangis meski setetes airmata pun tidak keluar dari pelupuk matanya. ### 29 Juni 2011 Medan, pukul 20.00 “Za, hari ini pengumuman SNMPTN kan? Coba cek dulu Dek. Lulus atau gk Afif kita. Kalau feeling kakak, dia lulus. Tapi bukan di UGM. Di USU atau UNIMED dia lulusnya. Kasihan ibu kalau dia lulus di UGM. Berapa ongkos kesana ya? Sekarang lagi akhir bulan pula. Udah sekarat keuangan. Sama kayak kita.” Ujarku. “Iya kak. Aku juga berharap seperti kakak. Aku udah browsing Kak. Tapi masih loading dari tadi. Agak lelet nih Kak. Sabar ya. Kalau udah berhasil, aku kasih tahu.” “Ok.” Selang beberapa menit kemudian, Za berteriak “Kaaak.” “Ada apa Za?” aku mendekat ke arahnya yang sedang melihat sesuatu di layar yang mengejutkannya. “Afif lulus di UGM kak. Dia lulus pilihan pertama. Aku nggak salah lihat kan Kak?” dia sedikit bersedih. “Nggak. Kamu gk salah lihat. Itu memang namanya. Kok malah sedih gitu? Harusnya senang dong.” “Ibu Kak. Aku mikirin ibu. Aduh si Afif ini. Nggak mau dengerin kita sih. Kekmana nih Kak?” “Nggak masalah itu Dek. Kalau sudah di hadapan kita, kita pecahkan sama-sama masalahnya. Apa saja persyaratannya? Buka halaman selanjutnya dulu Dek. Biar kita sekalian ngasih tahu sama Ibu beserta persyaratan yang harus dilengkapinya.” Kami membaca persyaratan yang harus dibawanya saat registrasi. Disebutkan registrasi dilaksanakan pada 1-4 Juli 2011. Hari ini sudah 29 Juni 2011. Hanya punya waktu empat hari untuk melengkapi persyaratan yang jumlahnya juga seabrek. “Kak” badan dan wajah Za melemas. “Udah, tenang aja Za. Kasih tau aja dulu Ibu. Di sms aja. Malam ini kita fikirkan jalan keluarnya. Yang penting ibu telah kita kabari. Urusan lainnya, kita fikirkan besok. Insya Allah ada jalan keluarnya.” Jawabku. Padangsidimpuan, pukul 21.00 Handphone Ibu bergetar. Ada sms masuk. Bu Alhamdulillah si Afif lulus Arkeologi UGM. Za. Begitu pesan yang Ibu terima. Ibu tersenyum getir membaca sms itu. Ibu tahu, Afif sangat menginginkan belajar di universitas kebanggaan itu. Ibu tidak pernah menahan anak-anaknya menggapai cita-cita yang diimpikan sejak lama. Ibu juga tidak bisa melihat akibat seandainya keinginan itu tidak dikabulkan. Afif, adalah anak yang begitu bersemangat untuk meraih mimpi-mimpinya. Apapun akan dia lakukan. Bahkan sebelum ujian SNMPTN, dia tidak berharap muluk-muluk dari ibu. Dia bertekad, jika hanya uang yang menjadi masalah utama, dia rela bertempat tinggal di mesjid, untuk mengurangi biaya hidup. Hanya satu yang dia minta, dia diizinkan untuk melangkahkan kakinya di kota pelajar yang penuh gairah ilmu itu. Masalah klasik itu sangat tidak bisa ibu hindarkan. Ibu benar-benar tidak memiliki uang lebih untuk memberangkatkannya. Hal itu yang membuat fikiran ibu puyeng. Pusing yang berlipat-lipat. Hanya memasrahkan diri pada pertolonganNya, itulah yang sanggup untuk ibu lakukan. Ketika tidak ada seorangpun yang mampu menolongmu dari keterpurukan, yakinlah hanya Dia tempat meminta pertolongan yang utama. Ibu menyabarkan hatinya dengan untaian kalimat itu. Berselang satu jam kemudian. “Assalamu’alaikum” suara Afif terdengar mengucapkan salam. “Wa’alaikumussalam” ibu membukakan pintu. “Bagaimana hasilnya Nak?” tanya ibu memastikan jawaban dari Afif. “Alhamdulillah Bu, lulus di UGM.” “Alhamdulillah. Kapan harus daftar ulang Nak? Apa persyaratan yang harus dibawa?” “Paling lama tanggal empat Bu, aku sudah harus di sana untuk registrasi. Registrasinya tidak bisa diwakilkan Bu. Harus oleh mahasiswa yang bersangkutan.” “Hmm, berarti harus sudah sampai di Yogya pada tanggal 4 ya? Itu juga menuntutmu untuk segera berangkat dari sini sekitar tanggal 1 atau tanggal 2. Mepet kali waktunya ya?” ibu tampak berfikir. Afif hanya terdiam. “Ya sudah, istirahat lah. Segarkan fikiran dulu. Masih banyak hal yang harus kita lakukan. Malam ini ibu fikirkan jalan keluarNya. Mudah-mudahan Allah menunjukkan jalan yang harus ibu tempuh. Insya Allah, ada jalan. Tidurlah.” Kata ibu berusaha menenangkan gemuruh di dadanya. “Tunjukkan jalanMu ya Tuhan.” Doanya dalam hati tanpa ada airmata, karena airmatanya telah mengalir ke dalam, jauh ke lubuk hatinya, yang basah…. Medan, 30 Juni 2011 Kuperhatikan persyaratan-persyaratan yang harus dibawa saat registrasi. Persyaratan yang berhubungan dengan identitas atau fotokopi ijazah, masih bisa untuk diselesaikan meskipun waktunya sangat sempit. Hanya satu yang membuat keningku berkerut. Biaya yang harus segera dilunasi. Aku mencari-cari informasi untuk menanyakan tentang hal tersebut. Menanyakan keringanan. Haruskah dilunasi semuanya saat registrasi atau bisa dicicil per semester. Aku melihat ada nomor telepon yang bisa dihubungi. Kutelpon berulang kali, tetapi selalu nada sibuk. Tak pernah diangkat. Ada email yang juga tertera. Aku juga mengirimkan email ke alamat tersebut berharap ada balasan. Setengah hari kutunggu, tidak ada balasan dari pihak penyelenggara yang masuk ke inboxku. Aku ingin tahu rencana ibu. Meskipun belum ada kepastian yang kuperoleh, aku menghubungi nomor ibu. “Assalamu’alaikum. Ada apa Nak?” “Wa’alaikumussalam. Ini Bu, terkait biaya yang harus dilunasi. Ibu sudah tahu?” “Belum Nak. Kenapa?” Aduh, gimana bilangnya ya? Nanti ibu makin pening mikirinnya. Tapi kalau aku nggak memberi tahu, bermasalah pula si Afif sesampai di sana. “Eng, ini Bu, total yang harus dibayar berkisar 12 juta. Di sini tertulis semua itu harus dibawa saat registrasi. Aku sudah mengirimkan email menanyakan tentang keringanan untuk yang tidak bisa segera melunasinya. Masih menunggu jawaban sih, Bu.” dengan berat hati kusampaikan pada Ibu berita itu. “Oh, begitu pula ya Nak peraturannya. Sepertinya ibu harus konsultasi dengan pamanmu yang berada di Yogya. Mungkin dia punya pemikiran lain.” “Iya, Bu. Aku juga sudah list teman-teman yang ada di Jawa. Siapa tahu mereka punya sedikit gambaran meskipun tidak kuliah di situ. Mungkin adiknya yang kuliah atau adik temannya. Ibu nggak sendirian ya Bu. Jangan bersusah hati Ibu ya.” pintaku. “Iya Nak. Tenang saja.” “Apa tanggapan ayah Bu?” “Baiknya tidak usah bertanya perihal ayahmu. Seperti tidak tahu tabiatnya saja. Tidak ada respon darinya. Dia hanya diam, tidak bisa diajak komunikasi. Ibu sendirian. Jadi, ibu hanya punya kalian. Sampaikan saja informasi yang kalian dapatkan. Itu sudah sangat membantu. Masalah lainnya, kita bertawakkal saja pada Allah. Selalu berbaik sangka padaNya. Ibu mau menelpon pamanmu dulu ya Nak.” “Oh, iya Bu. Assalamu’alaikum.” Ayah. Selalu seperti itu. Tidak pernah mau tahu. Bagaimana kami bisa mengingatmu saat jauh. Ahhh, aku menghela nafas. Berat. ### Padangsidimpuan, 30 Juni 2011 Ibu baru pulang dari sekolah saat menerima telepon. Udara panas, gerah dan pemikiran yang sedikit ruwet, sedikit membuat badan ibu lemas, gemetar. Tapi ibu berusaha untuk tidak menunjukkannya pada anak-anaknya. Terutama pada si Afif. Suamiku. Kapankah kau mau berinisiatif untuk biaya sekolah anak-anakmu? Mengapa terdiam? Mengapa hanya harus aku yang memikirkannya? “Pak, si Afif lulus di UGM.” Ibu membuka suara. Hening. Beberapa saat. Masih hening, beberapa saat kemudian. Ibu mendengus sebal. Aku juga bisa tanpamu. Akhirnya bisik itu yang muncul dalam benak ibu ketika ayah tidak juga bergeming dari diamnya. “Si Afif belum pulang Nak?” tanya ibu pada kak Sara, menantunya yang masih tinggal di rumah sejak pernikahannya dengan abang dua tahun yang lalu. Dan kami tidak keberatan. “Belum Bu. Bentar lagi mungkin. Bagaimana keberangkatannya Bu? Kapan rencana dia akan berangkat Bu?” Ibu menghela nafas, berat. “Dari informasi yang ditentukan pihak universitas, dia besok telah harus berangkat. Mengingat perjalanan yang jauh dan cukup berliku.” “Hmm, kalau Ibu perlu, aku punya tabungan. Meskipun tidak terlalu banyak, tapi mudah-mudahan bisa membantu.” Kak Sara menawarkan. Subhanallah. Engkau memang Maha Pemurah. Riang, Ibu memuji kebesaran Allah. “Alhamdulillah. Ibu memang memerlukan sejumlah uang. Terimakasih anak telah berbaik hati membantu kesulitan Ibu.” “Saya juga patut berterima kasih kepada keluarga ini, terlebih pada Ibu, karena Ibu dan keluarga ini telah sangat baik pada saya, dan tidak membedakan saya dengan anak-anak Ibu.” ujarnya, merendah. Beban di pundak ibu telah sedikit berkurang dengan tawaran menantunya. Setiba Afif di rumah selepas menunaikan shalat Jumat, ibu menanyakan persiapan yang telah dia lakukan. “Masih ada persyaratan yang harus dilengkapi yang belum terpenuhi Nak?” “Ada Bu. Kartu perpustakaan dan kartu pelajarku Bu. Nggak ada kutemukan.” Ibu berfikir sejenak. “Pergilah ke sekolah untuk mengurusnya. Mudah-mudahan urusanmu dimudahkan oleh Allah. Pandai-pandai saja membujuk pihak sekolah agar kartu-kartu itu bisa kau dapatkan selambatnya besok sore. Besok kau sudah harus berangkat, bagaimana pun caranya.” “Iya, Bu. Tapi aku makan dulu ya Bu. Aku lapar.’ wajahnya memelas. Ibu tersenyum. Dia bahkan sampai lupa mengisi perutnya yang kosong. Kehilangan selera. “Tentu saja.” Ibu kemudian menghubungi paman yang berada di Yogya. Setelah berbasa basi sejenak, ibu langsung ke pokok pembicaraan. “Ada apa Kak?” “Begini, keponakanmu lulus di Arkeologi UGM. Dia harus registrasi tanggal 4 Juli nanti. Kalau dipaksakan naik bus, mungkin sampai empat hari. Jika sampai empat hari kemudian di tujuan, tidak akan jadi masalah. Tapi jika tidak, akan sia-sia rasanya. Bagaimana menurutmu?” “Kalau begitu persoalannya, baiknya naik pesawat saja Kak. Memang lebih mahal biayanya. Tapi lebih memungkinkan tiba di tujuan sebagaimana mestinya. Kapan dia berangkat Kak?” “Rencana besok malam dia berangkat. Sebab hari ini dan besok masih mengurus beberapa administrasi yang harus dia bawa.” “Ke Medan dulu?” “Ya, menurut kakak, dia ke sana dulu karena kakak-kakaknya bisa membantunya setiba di sana.” “Ya, hemat saya juga begitu Kak. Jadi kalau dia berangkat besok malam, akan tiba di Medan lusa. Ambil penerbangan lusa saja. Tapi dia sudah harus tiba di Jakarta di hari yang sama. Aku yang menjemputnya nanti di bandara. Tapi dari Yogya, kami akan naik bus. Perjalanan dari Jakarta menuju Yogya menghabiskan waktu 13 jam juga Kak. Makanya aku sarankan dia tiba di Jakarta di hari yang sama.” “Bagaimana baiknya sajalah. Kakak dan abangmu, kemungkinan besar tidak bisa mengantarkannya ke sana. Jadi kakak sekalian meminta tolong padamu untuk mengurusnya selama masa registrasi juga mencarikan tempat tinggalnya di sana nanti.” “Beres Kak. Serahkan saja semua yang harus di urus selama di Yogya pada saya kak. Kakak tak perlu khawatir.” “Terima kasih banyak atas bantuannya. Maaf, jika kakak telah merepotkanmu.” “Ah, jangan berfikiran seperti itu kak. Sesama saudara harus saling membantu.” Percakapan dengan paman, adik ibu membuka celah baik yang semakin besar. Medan, 30 Juni pukul 13.40 WIB Nak, carikan tiket pesawat paling murah untuk penerbangan lusa. Adikmu akan naik pesawat ke Jakarta. Nanti di Jakarta, pamanmu yang akan menjemputnya. Besok malam, dia akan meluncur dari rumah menuju Medan, tempat tinggal kalian. Segera kabari ibu harga tiket pesawatnya, agar ibu bisa membagi uang yang sangat banyak ini. Kau mengerti maksud Ibu kan? Pesan ibu ditelpon. Mencari tiket pesawat. Sedikit runyam, karena aku belum pernah mengurus perihal seperti ini sebelumnya. Aku memang pernah menemani seorang teman satu kost membeli tiket pesawat di salah satu travel dekat kost dua tahun lalu. Tapi aku tidak mengerti prosedurnya sama sekali. Kami hanya datang ke travel tersebut, temanku itu menyebutkan kota tujuan dan tanggal berangkatnya, lalu petugas travel menyebutkan sejumlah harga, dia memberikan sejumlah uang, petugas travel menyerahkan tiket pesawat ke tangan temanku itu, urusan selesai, kami pulang. Hanya begitu. Aku berfikir apa yang harus kulakukan. Beruntung, beberapa detik kemudian, aku teringat sebuah nama. Ve, teman dari temanku yang sekarang menjadi temanku, baru saja membuka sebuah travel yang menyediakan tiket pesawat domestik dan mancanegara. Aku bisa minta bantuannya. Segera ku email dia. Smile : Ve. Masih jalan travel mu kan? Beberapa saat kutunggu. Balasan Ve, muncul. Ve : Ya, ada apa? Smile : Aku mau booking tiket pesawat paling murah ke Jakarta Ve : Ok. Bisa ku cek. Berangkat tanggal berapa? Kota asal? Smile : Lusa. Medan. Ve : Ok. Ku cek dulu ya. mohon sabar menunggu. Menunggu jawaban Ve, aku iseng membuka situs sebuah travel. Lion Air. Ve : Maaf, membuatmu menunggu. Smile : Tak apa. Bagaimana? Ve : Sudah kujelajahi semua layanan penerbangan, yang paling murah berangkat pukul tujuh malam, lion, 957ribu. Harganya tidak jauh beda dengan yang kutemukan di situs tersebut. Smile : Kira-kira masih ada kemungkinan turun nggak? Ve : Nggak bisa dipastikan. Kadang iya, kadang nggak. Kalau saran aku ambil yang ini aja. Semakin cepat prosesnya, semakin baik. Smile : Ok. Aku kasih tahu Ibu dulu ya. nanti kalau jadi kukabari. Thanks ya. Ve : Yoi. Sama-sama Segera kukabari ibu. Ibu bilang baru bisa transfer setelah sore. Smile : Ve, masih ol? Ve : Ya Smile : Uangnya baru ada sore. Bagaimana itu? Ve : Booking tempat memang bisa kapan saja. Tapi pembayaran dilakukan setengah jam setelah booking. Begitu peraturannya. Smile : Oh, begitu ya. berarti kalau sudah ada kabar dari Ibu, aku contact kamu lagi ya. Belum bosan kan? Maaf, merepotkan. Ve : Its okay girl  Ku sms ibu. Bu, kalau sudah ditransfer uang untuk tiket pesawat itu, kasih tahu aku ya Bu. Agar tiketnya bisa segera fix urusannya. Padangsidimpuan, pukul 14.30 WIB Afif pulang dari sekolah dengan mata berbinar. “Aku tak perlu menunggu lama mendapatkan kartu-kartu ini Bu.” menunjukkan kartu tersebut pada Ibu. “Mendengar kabar kelulusanku di universitas tersebut, para guru yang masih berada di sekolah tadi berseru bangga. Menanyakan keperluanku dan menyelesaikannya secepat mungkin serta memberikannya padaku.” “Kau telah membuat bangga sekolah ini. Mengukir sebuah sejarah yang jarang didapatkan oleh siswa lainnya. Kau berhak mendapat pelayanan terbaik. Selamat.” “Guruku mengatakan begitu dengan menjabat tanganku Bu.” Afif melaporkan semua pengalamannya pada ibu. “Alhamdulillah. Kalau begitu, sekarang temani ibu ke pasar membeli beberapa keperluanmu.” “Siap Bos!!” Medan, pukul 16.07 WIB Smile : Ve, aku mau booking sekarang. Sudah berapa harga tiketnya?” Aku tak menerima jawaban selang sepuluh menit kemudian. Ve : Sory, baru balas. Harus ku check balik. Sebentar ya. Smile : Ok. Aku menunggu, lagi. Ve : Harganya sudah nggak segitu lagi. 967 ribu. Tetapi tetap itu yang termurah. Bagaimana? Smile : Booking buatku. Satu kursi saja. Ve : Ok. Atas nama siapa? Smile : Afif Ve : Ok. Emailmu? Smile : Untuk? Ve : Mengirimkan tiketnya. Nanti kau bisa print sendiri. Atau kau mau jemput ke kantorku? Smile : Oh. Via email saja. Smile53@yahoo.com Ve : Setelah transfer bukti pembayaran, kabari aku. Smile : Beres. Aku mau gerak. Kirimkan saja nomor rekeningnya. Sms saja. Aku paling malas mencatat. Ve : Baiklah… Aku mencari atm terdekat. Melakukan transfer yang diperlukan. Kembali ke rumah. Online, lagi. Smile : Sudah Ve. Ve : Ok. Segera kuproses. Mouse di depanku berkedip beberapa lama. Masih menunggu. Ve : Sudah kukirim ke emailmu. Silahkan di check. Smile : Siip  Aku check inbox emailku. Tiket yang kubutuhkan telah nangkring di sana. Kuhidupkan printer yang sehari ini belum disentuh. Mencetak data. Setelah hasil keluar, aku tersenyum. Akhirnya…. Smile : Thanks Ve. Ve : Welcome  Bu, sudah kupesan tiketnya. Masalah tiket, aman  Kukirim sms itu. Padangsidimpuan, 1 Juli 2011 Ibu telah berkutat di dapur sejak pulang dari sekolah dan menunaikan shalat. Dia tak banyak bicara. Juga tidak berdendang mengikuti alunan lagu yang diputar salah satu stasiun radio seperti biasa. Hening. Hanya hening. Derit pintu terdengar dari pintu samping. Seseorang melongok ke dapur, ibu terkesiap dan menghapus bulir yang tak sengaja jatuh dari sepasang mata indahnya. “Bu, apalagi yang harus kusiapkan?” Afif bertanya pada ibu. Afif memang tipe anak yang sangat manja. Dia tidak akan yakin sebelum ibu memeriksa barang-barang bawaannya. Ibu beranjak dari dapur. Mengikuti Afif ke kamar. Itu salah satu yang mengkhawatirkan ibu tentang perilakunya. Apa-apa harus bertanya pada ibu. Jika jauh, sanggupkah? “Nanti kalau sudah di sana baik-baik jaga diri.” nasehat ibu sembari memeriksa barang-barangnya. “Ibu akan selalu mendukung kalian untuk sekolah. Apapun akan Ibu usahakan agar kalian bisa tetap sekolah setinggi-tingginya. Tapi hendak kau ingat, tugasmu ke sana adalah untuk belajar. Kau boleh benci pada universitas itu, benci untuk berlama-lama di sana, sehingga itu memacumu untuk terus semangat belajar, lulus dalam waktu tercepat dengan hasil yang memuaskan. Kau telah membuat ibu bangga. Jaga itu Nak.” “Iya, Bu. Afif mengerti.” mengangguk takzim. Ibu kembali ke dapur. Salah satu kebiasaan yang ibu lakukan jika kami akan bepergian jauh, dia akan memasak menu favorit kami, membuatkan bekal di jalan, membawakan oleh-oleh khas kota yang kami senangi dalam jumlah yang tidak sedikit. “Di sana kalian susah mendapatkannya.” Jika kami tanya, itu yang selalu menjadi alasan ibu. Karena itu, kami tidak lagi pernah bertanya. Ucapan terimakasih tak terhingga yang bisa kami katakan dan semoga Tuhan Yang Kuasa membalas semua kebaikan itu dengan surgaNya. Pukul tujuh malam, bus sewa yang dipesan telah datang menjemput. Ibu memeluk Afif erat. Teringat masa kecilnya yang sangat jauh beda dengan sekarang. Afif yang linglung, mudah sakit, dan sedikit lamban berfikir sekarang telah jauh lebih baik. Linglungnya telah jauh berkurang meskipun masih tersisa sedikit, fisiknya sudah lebih kuat sebab dia suka mengkonsumsi buah dan sayuran sehat meskipun terkadang jika terkena hujan dia akan terserang flu berat, cara berfikirnya yang cenderung lambat telah dilatih berkali-kali lebih banyak dari keadaan biasa sehingga dia telah lebih mampu memakai nalarnya dengan lebih baik. “Jaga dirimu baik-baik Nak.” Ibu berusaha sekuat tenaga mengikat airmatanya agar tidak tumpah di depan Afif. Ibu tak ingin semangat Afif mengendor dengan linangan airmata ibu. Bus berjalan menuju stasiun. Naluri ibu menginginkan untuk menyusul ke stasiun. Jika tidak bisa mengantar ke daerah tujuan, setidaknya ibu masih bisa melepas anak kelima nya itu dari stasiun. Sesampai di stasiun, ibu mendapati Afif telah terkulai lemas. Dia muntah-muntah. Perjalanan belum dimulai, tapi dia telah kurang fit. Mungkin kecapaian. Ibu membersihkan baju Afif yang terkena air muntah yang muncrat ke tubuhnya. Ibu menyuruhnya meminum air mineral yang dibawanya dari rumah dan memberikan obat oles untuk menghangatkan badan. Sebelum mobil tumpangannya bergerak, ibu tidak beranjak satu langkah pun dari samping Afif, masih terus memijat pundak Afif agar angin jahat dari tubuhnya keluar dan menghentikan mual yang menyebabkan muntah. Sepuluh menit. Mobil tersebut mulai merayap di jalan raya. Hanya lambaian tangan ibu penanda perpisahan itu telah terjadi. Bulir itu pun menetes, tanpa diminta. Medan, 02 Juli 2011 pukul 08.00 WIB Sudah dimana posisi? Baru sampai loket Kak. Pukul delapan pagi, dia masih baru sampai di stasiun. Sedikit lambat dari kebiasaan. Normalnya, pukul tujuh mobil tumpangan paling lama telah tiba di stasiun. Terkadang, jika supir menyetir bagai kesetanan, pukul lima telah tiba di stasiun dengan perasaan nyawa berada di awang-awang selama perjalanan dan baru mampir lagi ke tubuh setelah berhenti di beberapa titik pemberhentian untuk istirahat sang supir atau telah tiba di stasiun tujuan. Kenapa lama? Jalanan macet Kak. Oh, pantas saja. Aku dan Za telah memasak lebih banyak hari ini untuk menyambut kedatangannya. Afif memang makan dengan lahap dalam porsi banyak. Masih masa pertumbuhan. Kami berencana menunggunya untuk makan bersama di pagi itu. Tetapi, dia masih belum sampai di rumah sementara perut telah meronta minta bagian. Akhirnya, kami memutuskan untuk sarapan lebih dahulu. Dua jam kami harus sabar menunggu sampai akhirnya kami mendengar bunyi klakson mobil yang mendekat. Hari telah pukul sepuluh. “Kenapa lama?” “Aku tadi lupa Kak alamatnya. Jadi ngantar penumpang lain dulu. Alamatnya jauh-jauh Kak. Makanya jadi lama. Kak, aku lapar.” “Oh, iya. Makanlah. Kakak tadi telah makan. Mau nungguin rencana, tapi kelamaan. Setelah makan dan mandi, istirahat lah sejenak. Kita berangkat sore ke bandara. Kau masih lelah, karena itu harus istirahat.” “Iya, Kak.” Kutatap lekat-lekat wajah manja itu. Wajah yang kemungkinan besar tidak akan kutemui jika dia belum menyelesaikan studinya. Bahkan untuk pulang saat semester, harus berfikir matang-matang, membuang uang atau tidak. Bu, Afif telah sampai. Sekarang sedang makan. Polonia, pukul 20.30 WIB Pesawat yang akan ditumpanginya delay karena cuaca buruk. Beberapa hari ini, cuaca tidak menentu di wilayah Medan dan sekitarnya. Terkadang sudah sangat terik di siang hari dan hujan deras sore harinya. Beruntung, aku dan Za tidak langsung pulang setelah tadi dia masuk ke ruang tunggu. Mengetahui pesawatnya delay, aku menyuruhnya keluar menemui kami lagi. Kulihat badannya lemas dan dia merasa mual-mual. Dia belum menunaikan shalat, karena itu dia menuju mushalla yang ada di bandara setelah menitipkan tas yang tidak dimasukkan ke bagasi pada kami. Sengaja kami membawa bekal makan malam, bermaksud hendak makan di sana, untuk menghemat. Makan di restoran bandara, harganya bisa mencapai langit, tak sanggup kami capai. Kami mengajaknya makan setelah dia selesai shalat. Lagi-lagi dia makan dengan lahap. Setelah makan, wajah itu bersinar kembali. “Hmm, rupanya tadi lapar ya Dek?” tanyaku. Dia mengangguk. “Haha. Pantasan sakit kepala. Adik saya ternyata kelaparan.” Za menggodanya. Bercanda beberapa saat sebelum dia kembali memasuki ruang tunggu. “Baik-baik di sana. Belajar yang tekun dan sungguh-sungguh. Di sana tidak ada keluarga yang bisa mengunjungimu seperti waktu di rumah, pandai-pandailah mengelola keuanganmu. Usahakan agar cukup. Tapi kalau kurang, jangan juga tidak dikatakan” pesan Za mengingatkannya. “Iya Kak.” “Ingat pasukan Thariq bin Ziyad sesampai di Spanyol waktu itu?” aku bertanya. Dia menolehku, dan menggeleng. “Sesampai di Spanyol, Thariq membakar habis semua kapal yang membawa mereka ke sana. Lalu ia berpidato di depan pasukannya. Kita telah sampai di wilayah musuh. Jika maju, musuh telah menghadang di depan. Jika mundur, lautan yang ganas juga siap menelan. Apapun keputusan yang kita ambil, resikonya sama, kematian. Jika memilih maju dan bertempur melawan musuh kemudian meninggal, meninggalnya itu dalam keadaan syahid. Jika memilih mundur, maka akan tenggelam di lautan luas itu, dan hanya akan mati sebagai pengecut. Maka semangat pasukan Thariq pun berkobar-kobar untuk bertempur hingga darah penghabisan demi satu tujuan Islam yang mulia atau mati sebagai syuhada. Hingga sejarah mencatat, kemenangan berada di tangan umat Islam.” “Kamu mengerti?” Lagi-lagi, Afif menggeleng. “Anggap saja kondisimu sekarang, sama dengan situasi pasukan Thariq tersebut. Jika mundur, akan menjadi pecundang, jika maju halangan dan rintangan akan menemuimu kelak, salah satunya mungkin kekurangan uang atau rindu pada keluarga. Namun jika kamu bersabar, maka akan kau temui kemenangan, ilmu yang kau peroleh, lulus dari universitas itu dengan baik dan membawa oleh-oleh pada orangtua dengan segenap pengalamanmu di sana. Sanggup?” “Iya kakakku sayang. Ini mimpiku. Tidak ada yang bisa menggapainya selain aku sendiri.” Afif mengangguk, mantap. “Subhanallah. Selamat berjuang. Semoga sukses.” Kami melepas kepergiannya. Lagi-lagi lambaian tangan. Lambaian tangan kepergian, juga kehilangan. Namun kami tetap harus menabahkan diri dan menyabarkan hati demi sebuah cita-cita. Cita-cita mulia yang diajarkan Nabi. Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina. Dulu, aku adalah inspirasi baginya. Inspirasi untuk berprestasi di sekolah, memenangkan berbagai lomba, menjadi utusan sekolah dalam olimpiade, masuk universitas favorit dengan jalur ujian masuk. Semua murni, tanpa ada unsur-unsur pembersihan. Tahap-tahap itu telah dijejalinya dengan baik. Hari ini, dia pergi untuk menggapai mimpi selanjutnya. Aku belajar banyak darinya. Untuk tidak menyia-nyiakan mimpi. Untuk bermimpi dan bangun mengejar mimpi itu. Ibu, Afif telah landing. Kutatap langit malam itu. Tidak ada gemintang. Namun, mimpi yang telah kubangun lagi di hatiku adalah gemintang yang kelak akan tetap bersinar saat aku berusaha meraihnya. Terima kasih untuk pelajaran hari ini, adikku yang manja. Pelajaran tentang mimpi yang kau punya. Jejak yang kau tinggalkan, telah membekas, di hatiku…. P. Sidimpuan, 9 Agustus 2012 pukul 01.18 Selengkapnya...

Senin, 17 September 2012

Musim kawin :-)

Seperti biasa, aku berangkat ke cafe- sebuah usaha yang dipercaya sebagai aku pengelolanya, sekitar pukul sebelas. Dalam perjalanan sepanjang ke cafe, aku melihat banyak papan bunga yeng bertuliskan “selamat bahagia atas pernikahan...”.
Begitu aku sampai di gang depan rumah, ada beberapa papan bunga yang kulihat. Becak yang kutumpangi masih berjalan sekitar 500 meter, aku menjumpai papan bunga berikutnya. Di sebuah persimpangan, becak yang membawaku ke arah tujuan yang kumaksud berbelok, dan di sana aku juga mendapati papan bunga lainnya, masih bertuliskan senada. Pernikahan. Di rumah juga telah ada beberapa undangan terkait hal yang sama, pernikahan. 
Bulan syawal, bulan terjadinya hari raya idul fitri, seperti yang kuperhatikan merupakan bulan baik untuk dilangsungkannya sebuah pernikahan dalam tradisi masyarakat kita. Orang-orang sepertinya berlomba untuk mengadakan resepsi pernikahan putra putri mereka, karena begitu banyaknya pernikahan yang terjadi di bulan itu.
Aku selalu mengulum senyum bahagia atas moment itu. Sejak dahulu. Senang saja rasanya melihat sebuah resepsi pernikahan. Di sana akan kita temua rona yang sama, rona kebahagiaan. Senyum mengembang, wajah-wajah cerah. Cerita keceriaan.
Namun terkadang, ada sedikit sesal hinggap di benakku. Saat ini, masyarakat kita tidak lagi menjadikan pernikahan itu sebagai suatu ibadah. Seakan pernikahan adalah penunjukan jati diri. Sebuah prestise. Sepertinya, yang lebih penting dalam sebuah pernikahan adalah pesta pernikahan itu. Orang-orang seakan berlomba membuat pesta termewah hanya agar disanjung ataupun dipuja.
Bagiku, pemikiran itu terlalu dangkal. Pernikahan, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, juga merupakan ibadah. Bentuk pengabdian pada Tuhan. Harusnya alasan itulah yang patut dikedepankan.
Pernikahan juga adalah sunnah Nabi. Bukan termasuk ummat Nabi jika tidak mengikuti sunnahnya. Begitu Nabi pernah bersabda. Ya. Jika kita ingin tetap menjadi bagian dari ummat Muhammad, kita tetap harus mengikuti sunnahnya, di antaranya adalah melangsungkan pernikahan.
Nabi menganjurkan agar pernikahan itu diumumkan. Tujuannya agar masyarakat sekitar kita tahu bahwa kita telah menikah dan seseorang yang selalu bersama kita itu adalah pasangan sah kita. Dalam mengumumkan pernikahan itu, salah satu caranya adalah dengan mengadakan resepsi pernikahan. Mengundang orang banyak untuk menghadiri resepsi pernikahan yang kita buat. Namun, bukan resepsinya yang terpenting. Tetapi akad nikahnya. Akad yang mengikat seseorang menjadi suami atau istri dari pasangannya itu.
Nabi juga mengajarkan, jika anak telah meminta untuk menikah, seyogyanyalah permintaan itu disegerakan. Karena ada tiga perkara yang patut disegerakan. Ketiga perkara itu adalah menguburkan mayat, membayar hutang dan menikahkan anak. Sebab jika tidak disegerakan, bisa jadi si anak akan menikah sendiri (seperti kata ustadz almarhum Zainuddin MZ).
Urusan mahar, yang merupakan permintaan dari pihak keluarga perempuan, selalulah mencoba untuk tidak memberatkan pihak keluarga laki-laki. Dalam sebuah haditsnya, Nabi juga menekankan bahwa sebaik-baik wanita yang dinikahi adalah yang paling murah maharnya.
Tentu semua ini adalah kemudahan bagi urusan ummatnya. Namun bukan berarti dimudah-mudahkan juga sehingga setiap perkara atau urusan dianggap sepele.
Ada pesan mendalam yang selalu ibu ingatkan jika kami berbincang tentang pernikahan. Membina rumah tangga adalah seperti berlayar di tengah lautan. Jika kita pandai dalam menempuhnya, maka akan selamat sampai tujuan. Namun jika kita tidak cakap, maka akan karam di tengah lautan.
Di setiap langkah yang akan kita tempuh, menurut hemat saya, hendaknya selalu memperbarui niat. Niat juga merupakan hal penting dari suatu perkara. Perkara itu dinilai baik atau tidak di mataNya, juga dilihat dari niat yang terpancang di hati. Seyogyanyalah kita selalu menyadari, hidup ini tidak akan pernah terasa cukup jika kita hanya berlomba-lomba untuk kemegahan dunia.
Mari kita sama-sama memperbarui niat setiap saat dalam urusan yang kita kerjakan. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu menyertai kita dalam ridhaNya.
Untuk yang akan menikah, selamat berbahagia. Semoga pernikahan kalian diberkahi Allah. Barakallahu laka wa baraka’alaikuma wa jam’a bainakumaa fii khairin.
Untuk yang ingin menikah dua kali, diharapkan untuk berfikir dulu, sudah bisakah berbuat adil dalam segala hal?
Semoga Allah selalu memudahkan segala urusan kita. Dan semoga Allah, tidak pernah menyerahkan segala urusan hanya berada di pundak kita sekejap matapun tanpa bantuanNya. Amin
Selengkapnya...