Tampilkan postingan dengan label Cerita Q1t4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Q1t4. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Oktober 2012

Umar Bakriku

Kalian tahu lagu Umar Bakri nya Iwan Fals? Bagi yang tidak tahu, kuberi sedikit contekan ya. Lagu itu berkisah tentang Umar Bakri, seorang guru yang berstatus pegawai negeri. Layaknya pegawai negeri di Indonesia ini, dijejali administrasi yang membuat kepala puyeng. Administrasi yang seyogyanya bisa dipangkas agar lebih cepat selesainya malah dibuat berliku-liku untuk urusan yang seringkali, bertele-tele. Dari lagu itu juga disebutkan, jika ingin jadi guru yang bersahaja, atau pegawai negeri yang bersahaja, haruslah rela mengurut dada ketika bagiannya harus dipotong oleh pihak yang merasa berwenang atas hal-hal yang mereka buat sendiri peraturannya, hanya untuk mempreteli gaji sang guru yang baik hati itu. 
Iwan Fals tidak main-main lho membuat lagu itu. Mungkin bukan rahasia lagi buat kita kan? Aku juga ingin menceritakan tentang nasib Umar Bakriku yang berada dekat dalam hidupku. Ayah dan ibu. Kedua insan yang telah membesarkanku ini adalah guru SD di sebuah desa yang cukup terpencil. Kurang memperhatikan pendidikan. Di daerah ini, umumnya masyarakat bermata pencaharian sebagai petani. Petani salak. Kepedulian para orangtua masih sangat minim terhadap pendidikan. Jangankan untuk pendidikan, bahkan setiap rumah belum memiliki kakus sendiri. Jika ingin membuang kotoran, masih harus ke wc umum yang bentuknya pun masih tidak layak disebut wc. Bau dan pengap. Menyedihkan.
Masyarakat sepertinya tidak terlalu peduli dengan keadaan demikian. Yang penting bagi mereka, adalah masa panen salak. Atau duduk berkelompok-kelompok ngerumpi dan membicarakan tetangganya atau siapa saja yang asyik untuk dighibahkan. Bangun kesiangan, itu biasa bagi ibu-ibu di desa itu. Sehingga seringkali anak-anak mereka yang bersekolah, tidak sarapan bahkan tidak mandi. Itu sudah bukan barang baru di sana.
Bisakah kalian membayangkan bagaimana sulitnya guru di desa ini untuk mendidik anak-anak seperti itu? Aku bilang, sangat-sangat sulit. Anak-anak yang tidak sarapan sebelum ke sekolah sangat susah untuk menangkap pelajaran yang diterangkan guru. Mereka kekurangan nutrisi, sementara otak disuruh bekerja. Tentu saja otak menjadi bebal. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Itu masih mendingan. Masih ada yang nyangkut, walau secuil. Tapi keadaan mereka, langsung melambung keluar dari telinga kanannya, sedikitpun tidak ada yang tercerna. Tingkat kebandelan karena diabaikan orangtua, itu juga berpengaruh. Belum lagi kerapian. Takkan perlu ditanya. Bahkan sang ibu tidak merasa risih jika baju sekolah anaknya sobek di sana-sini.
Itulah tantangan pertama Umar Bakriku saat menghadapi anak-anak didiknya. Tapi dia tidak pernah mengeluh. Dengan semangat ‘45, dengan jiwa Pancasilais nya, Umar Bakriku selalu berusaha hadir setiap hari, sangat jarang absen kecuali untuk urusan yang sangat urgent dan tidak bisa ditinggalkan, demi tugas mulia, mendidik anak bangsa yang terbelakang itu, agar memiliki ilmu dan bisa berdikari kelak dengan ilmunya. Bahkan pernah, karena begitu menghargai profesi yang dicintainya ini, seorang Umar Bakriku tetap ngotot berangkat ke sekolah untuk mengajar sementara di rumah, anaknya yang baru berumur sekitar empat tahun demam tinggi dia tinggalkan dengan hanya ditemani sang kakak yang baru kelas empat SD. Sampai-sampai Umar Bakriku ditegur ayahnya dengan kalimat yang sampai hari ini masih melekat dalam ingatan Umar Bakriku, “Sekali lagi, jangan kau lakukan itu ya Nak, atau kau pulang, di rumah ini telah ramai datang orang melayat”. Dahsyat. Teguran yang membuat bulu kuduknya berdiri. Sakit si anak itu telah parah, kawan. Hanya karena tidak ingin meninggalkan tugas yang di pundaknya itu, Umar Bakriku memilih meninggalkan si anak yang sakit.
Tapi apa yang diterima oleh Umar Bakriku ini? Sangat ironis, kawan! Kita mulai dari penerimaan gaji. Sebuah keniscayaan setelah melakukan kewajiban adalah mendapatkan hak. Jika gaji guru-guru di kota besar telah dikirim ke rekeningnya masing-masing, maka gaji kedua Umar Bakriku ini masih harus diambil ke kantor dinas oleh kepala sekolah kemudian kepala sekolah yang membagi-baginya pada bawahannya. Terima gaji yang harusnya tanggal satu, akan menjadi terlambat bagi mereka. Sebab keadaan memaksa demikian. Jika kepala sekolah menjemput uang gaji guru-guru bawahannya pada tanggal satu, maka pembagiannya akan diserahkan esok harinya. Lebih malangnya lagi jika tanggal satu bertepatan hari sabtu. Maka kemungkinan besar tanggal gajian mereka adalah tanggal empat. Akhir bulan yang sangat mencekik.
Hal selanjutnya adalah, sampailah gaji tersebut di tangan kedua Umar Bakriku. Tanyakan saja jumlahnya apakah sama dengan yang tertera di kertas slip gaji? Tidak pernah sama kawan! Telah ada pungutan sebelumnya. Biaya administrasilah, uang pramuka, uang osis, uang zakat. Bermacam cara dibuat oleh pihak-pihak yang ingin menggerogoti warga lemah ini. Ya. Guru SD adalah makanan enak bagi dinas-dinas pendidikan pada umumnya. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada Guru SD yang kalian kenal. Terlebih lagi guru SD itu adalah guru di desa terpencil. Maka nasibnya akan jauh lebih ironis.
Jangan ditanyakan lagi kesejahteraan. Semua itu nonsense. Pihak-pihak yang berkuasa akan selalu mencabuli hak-hak bawahannya. Hari ini, telah banyak guru sertifikasi yang gajinya memang lebih banyak. Umar Bakriku pun demikian adanya. Namun, tahukah kalian bahkan untuk mendapatkan haknya itu, Umar Bakriku harus mengurus adminsitrasi yang berjibun. Setiap hari mendatangi kantor dinas, untuk memastikan administrasinya telah sesuai atau tidak. Jika urusan administrasi telah selesai, Umar Bakriku harus memberikan sejumlah uang agar uang yang merupakan haknya itu, mereka cairkan. Jika telah cair (bulan cairnya juga tidak tahu kapan, bisa per tiga bulan, per enam bulan, atau per tahun) kedua Umar Bakriku pun harus lagi mendatangi pihak yang berkuasa itu untuk memberikan sejumlah tip sebagai ucapan terimakasih. Karena jika tidak demikian, untuk selanjutnya, hak nya tersebut akan macet turunnya. Sekali lagi, sangat ironis!
Kedua Umar Bakriku telah lelah merutuk dalam hati, sebab mereka tidak berdaya atas ketidakadilan itu. Perlawanan yang mereka lakukan hanyalah lewat hati, yang merupakan selemah-lemahnya perlawanan. Kini Umar Bakriku itu hanya berkata (demi menghilangkan kerusuhan hati dan mendatangkan kedamaian jiwa), “Jika yang mereka ambil itu merupakan hakku, kelak di hadapan Tuhan, mereka harus mencariku untuk mengembalikannya”. Kepasrahan yang total. Pengaduan dari dia yang teraniaya. Sungguh Tuhan akan mengabulkan doa dari mereka yang dianiaya. Andai mereka selalu menyadarinya. Dan semoga kedua Umar Bakriku tetap ikhlas dan sabar dalam menjalankan tugas mulia yang diembannya itu. Semoga Umar Bakriku selalu dimuliakan Tuhan yang berusaha memuliakan makhluknya lewat ilmu yang dia ajarkan Amin.

Jumat, 21 September 2012

Zona Ketidaknyamanan

Semenjak aku keluar dari kehidupan kampus, aku memilih profesi sebagai wirausaha begitu menjejakkan kaki di universitas kehidupan. Pilihan aneh menurut sebagian banyak orang yang mengenalku.
“Sudah selesai kuliahnya? Kerja dimana atau nagajar dimana sekarang?” begitu pertanyaan yang mereka lontarkan.
“Aku mengelola cafe.” jawabku santai, dengan senyum manis yang kumiliki.
“Sayang sekali ya. Kenapa tidak mengajar saja atau kerja dimana gitu.” pertanyaan mereka selanjutnya.
Aku tidak merespon. Bukan tidak punya jawaban. Hanya tidak ingin berdebat. Sebab pilihanku ini memang terkesan ‘aneh’ bagi mereka. 
Aku selalu berusaha menghindari perdebatan. Dalam perdebatan, setiap orang pasti mempertahankan pendapatnya, sama-sama ingin menang. Itulah yang tidak kusukai. Oleh karena itu, aku memilih diam. Cara aman agar perdebatan tidak bermula atau segera berakhir.
Bukan tidak ada masalah saat aku menetapkan pilihan ini. Terlalu banyak malah. Bahkan untuk menenangkan hatiku bahwa aku tidak salah memilih pun sering kulakukan ketika saat-saat galau itu muncul. Kekurangan omset. Pelanggan yang sepi. Modal yang belum terbayar. Sewa kios yang masih seperdelapan dalam genggaman. Belum lagi tagihan listrik dan air yang menunggu untuk dibayarkan. Semua itu terkadang mengerdilkan semangat untuk tetap bertahan di zona tidak nyaman ini.
Hanya senyum ibu yang menguatkan kembali jiwaku. Nasihatnya bagai oase di sahara jiwaku. Melegakan.
“Air tidak selalu pasang Nak. Pasti ada surutnya. Demikian dalam bidang yang kau geluti, dagang. Terkadang ramai, terkadang sepi. Begitulah hidup. Bagai roda yang berputar. Tak usah risau. Bersabarlah. Kelak kau akan petik dari hasil kesabaran itu.”
Ibu sangat paham alasanku atas dunia baru yang kujalani itu.
“Aku hanya ingin mengubah kehidupan kita, Bu. Tidak melulu seperti ini. Di samping, aku juga ingin menambah lapangan pekerjaan, bukan menambah jumlah orang yang ingin bekerja. Satu-satunya jalan yang ada dalam benakku adalah wirausaha, Bu.”
Ibu tersenyum, tenang menanggapi. “Ibu tidak akan memaksa kalian agar jadi seperti Ibu. Tidak akan pernah. Berlarilah, dan kejarlah mimpi yang telah kalian bangun. Kalian telah cukup dewasa dalam mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup yang kalian hadapi. Jika hanya ingin seperti ibu, hidup kalian tidak akan jauh-jauh berbeda. Hanya mengharapkan tanggal satu. Kemudian mulai mengencangkan ikat pinggang di akhir bulan. Pesan ibu, selalu ingat Tuhan dalam setiap urusan. Jika jadi pedagang, jadilah pedagang yang jujur, seperti yang dicontohkan Nabi. Sesibuk apapun, jika waktu shalat tiba, jangan pernah meninggalkannya. Semua itu hanya urusan dunia. Jangan pernah melupakan uurusan akhiratmu jua.”
Nasehat panjang ibu ketika kuucapkan niatku saat itu.
Dunia itu pun kugeluti. Niat hati ingin berwirausaha, namun pada awalnya seperti kerja serabutan. Dimana rezeki terkuak, ke sana akan kukejar.
Setahun, aku menjadi pengelola warnet, belum habis perjanjian dengan investor, aku harus rela mengalah atas janji yang diingkari. Aku pulang. Kandas harapanku kala itu. Sebuah pengkhianatan, mampu membuat hatiku porak poranda. Pulang tanpa ada pengharapan. Biarlah Tuhan yang menunjukkan jalan.
Tahukah kau, kawan! Tuhan itu memang Maha Baik. Dia menunjukkan jalan. Aku diminta kakak iparku untuk mengelola cafe bersamanya. Tawaran itu, tentu saja kuterima dengan hangat. Kakak ipar hanya menemaniku selama sepuluh hari, sebab ia pindah, membuka usaha baru di daerah asalnya. Dalam kesendirian itu, aku tetap berusaha fight. Aku tidak tahu apa-apa, bahkan memasakpun aku tidak terlalu suka, lalu aku ditinggalkan memikul tanggung jawab itu, sendirian. Aku berusaha keras belajar. Sebulan, aku pun terbiasa dengan semua urusan dapur itu.
Sudah kukatakan di awal, berada di dunia usaha sama artinya dengan menempati zona ketidaknyamanan. Hanya setahun, cafe yang kukelola, yang merupakan milik dua orang (Kakak iparku dan temannya), harus kuserahkan pada pemiliknya kembali. Sebab sang pemilik (dalam hal ini adalah teman kakak iparku) tidak hanya ingin bagian sebagai investor tapi dia juga ingin ikut serta mengelolanya.
Aku, masih dengan sikap menjaga perdamaian, menerima keputusan walaupun harus move on dari cafe tersebut. Tak apa. Pasti ada jalan lain. Dan, kututup catatan hatiku tentang cafe yang kemarin kukelola.
Dan, tahukah kau kawan, keajaiban itu muncul lagi, oleh sebuah kata: silaturrahim.
Jika kalian pernah dengar perkataan yang menyebutkan silaturrahim akan memperpanjang usia dan menambah rezeki, itu benar. Aku akan menggarisbawahi kata menambah rezeki.
Sudah kukatakan bahwa aku telah tutup buku untuk kata bernama ‘cafe’ yang pernah kukelola kemarin. Waktu setahun kurasa telah cukup untuk menambah pengalaman di bidang kuliner itu. Namun di suatu hari, kakak iparku mengajakku ke cafe, silaturrahim ke sana, mengunjungi temannya itu. Tidak terlintas sedikitpun bahwa aku akan kembali ke cafe walau saat itu aku berstatus non job. Tanpa sepengetahuanku, ternyata mereka membicarakanku. Apakah aku mau kembali ke sana?
Kakak ipar menanyakan kesediaanku lagi. Aku katakan, aku mau, asalkan sistemnya, sistem bagi hasil seperti kemarin. Teman kakak iparku itu setuju. Aku pun mengangguk mantap untuk memulai lagi jiwa petualangan itu di sana.
Rezeki tidak kuduga yang Ia hadiahkan padaku semakin menambah keyakinanku padaNya. Ketika seluruh urusan kehidupan ini benar-benar kita serahkan padaNya, Dia akan memberikan yang kita butuhkan, tanpa pernah kita duga. Yakinlah kawan!
Jadi, apapun yang kita pilih, yang kita jalani, terima saja dengan kesyukuran. Akan selalu ada kemudahan-kemudahan di balik kesukaran. Kesukuran itulah sebenarnya penambah indahnya perjuangan. Demikian dengan kisah hidup yang kujalani. Awalnya mungkin begini. Aku masih seekor semut di antara kerumunan gajah. Kerdil. Bahkan akan mudah diinjak-injak. Tapi, ketika semut kecil itu bertahan, berusaha menghindar dari pijakan kawanan gajah, pastilah dia akan menemui titik kemenangannya. Bukankah gajah yang sangat besar badannya juga bisa tumbang oleh semut kecil di saat sang gajah terlena, tidak menyadari ketika semut kecil itu menaiki tubuh tembemnya sampai ke kepala lalu memasuki telinga sang gajah sampai ke gendang telinga yang jika digigit oleh hewan sekecil itu pun akan terasa sakitnya. Bahkan gajah yang berbadan besar itu pun tumbang, kawan!

Senin, 17 September 2012

Musim kawin :-)

Seperti biasa, aku berangkat ke cafe- sebuah usaha yang dipercaya sebagai aku pengelolanya, sekitar pukul sebelas. Dalam perjalanan sepanjang ke cafe, aku melihat banyak papan bunga yeng bertuliskan “selamat bahagia atas pernikahan...”.
Begitu aku sampai di gang depan rumah, ada beberapa papan bunga yang kulihat. Becak yang kutumpangi masih berjalan sekitar 500 meter, aku menjumpai papan bunga berikutnya. Di sebuah persimpangan, becak yang membawaku ke arah tujuan yang kumaksud berbelok, dan di sana aku juga mendapati papan bunga lainnya, masih bertuliskan senada. Pernikahan. Di rumah juga telah ada beberapa undangan terkait hal yang sama, pernikahan. 
Bulan syawal, bulan terjadinya hari raya idul fitri, seperti yang kuperhatikan merupakan bulan baik untuk dilangsungkannya sebuah pernikahan dalam tradisi masyarakat kita. Orang-orang sepertinya berlomba untuk mengadakan resepsi pernikahan putra putri mereka, karena begitu banyaknya pernikahan yang terjadi di bulan itu.
Aku selalu mengulum senyum bahagia atas moment itu. Sejak dahulu. Senang saja rasanya melihat sebuah resepsi pernikahan. Di sana akan kita temua rona yang sama, rona kebahagiaan. Senyum mengembang, wajah-wajah cerah. Cerita keceriaan.
Namun terkadang, ada sedikit sesal hinggap di benakku. Saat ini, masyarakat kita tidak lagi menjadikan pernikahan itu sebagai suatu ibadah. Seakan pernikahan adalah penunjukan jati diri. Sebuah prestise. Sepertinya, yang lebih penting dalam sebuah pernikahan adalah pesta pernikahan itu. Orang-orang seakan berlomba membuat pesta termewah hanya agar disanjung ataupun dipuja.
Bagiku, pemikiran itu terlalu dangkal. Pernikahan, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, juga merupakan ibadah. Bentuk pengabdian pada Tuhan. Harusnya alasan itulah yang patut dikedepankan.
Pernikahan juga adalah sunnah Nabi. Bukan termasuk ummat Nabi jika tidak mengikuti sunnahnya. Begitu Nabi pernah bersabda. Ya. Jika kita ingin tetap menjadi bagian dari ummat Muhammad, kita tetap harus mengikuti sunnahnya, di antaranya adalah melangsungkan pernikahan.
Nabi menganjurkan agar pernikahan itu diumumkan. Tujuannya agar masyarakat sekitar kita tahu bahwa kita telah menikah dan seseorang yang selalu bersama kita itu adalah pasangan sah kita. Dalam mengumumkan pernikahan itu, salah satu caranya adalah dengan mengadakan resepsi pernikahan. Mengundang orang banyak untuk menghadiri resepsi pernikahan yang kita buat. Namun, bukan resepsinya yang terpenting. Tetapi akad nikahnya. Akad yang mengikat seseorang menjadi suami atau istri dari pasangannya itu.
Nabi juga mengajarkan, jika anak telah meminta untuk menikah, seyogyanyalah permintaan itu disegerakan. Karena ada tiga perkara yang patut disegerakan. Ketiga perkara itu adalah menguburkan mayat, membayar hutang dan menikahkan anak. Sebab jika tidak disegerakan, bisa jadi si anak akan menikah sendiri (seperti kata ustadz almarhum Zainuddin MZ).
Urusan mahar, yang merupakan permintaan dari pihak keluarga perempuan, selalulah mencoba untuk tidak memberatkan pihak keluarga laki-laki. Dalam sebuah haditsnya, Nabi juga menekankan bahwa sebaik-baik wanita yang dinikahi adalah yang paling murah maharnya.
Tentu semua ini adalah kemudahan bagi urusan ummatnya. Namun bukan berarti dimudah-mudahkan juga sehingga setiap perkara atau urusan dianggap sepele.
Ada pesan mendalam yang selalu ibu ingatkan jika kami berbincang tentang pernikahan. Membina rumah tangga adalah seperti berlayar di tengah lautan. Jika kita pandai dalam menempuhnya, maka akan selamat sampai tujuan. Namun jika kita tidak cakap, maka akan karam di tengah lautan.
Di setiap langkah yang akan kita tempuh, menurut hemat saya, hendaknya selalu memperbarui niat. Niat juga merupakan hal penting dari suatu perkara. Perkara itu dinilai baik atau tidak di mataNya, juga dilihat dari niat yang terpancang di hati. Seyogyanyalah kita selalu menyadari, hidup ini tidak akan pernah terasa cukup jika kita hanya berlomba-lomba untuk kemegahan dunia.
Mari kita sama-sama memperbarui niat setiap saat dalam urusan yang kita kerjakan. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu menyertai kita dalam ridhaNya.
Untuk yang akan menikah, selamat berbahagia. Semoga pernikahan kalian diberkahi Allah. Barakallahu laka wa baraka’alaikuma wa jam’a bainakumaa fii khairin.
Untuk yang ingin menikah dua kali, diharapkan untuk berfikir dulu, sudah bisakah berbuat adil dalam segala hal?
Semoga Allah selalu memudahkan segala urusan kita. Dan semoga Allah, tidak pernah menyerahkan segala urusan hanya berada di pundak kita sekejap matapun tanpa bantuanNya. Amin

Kamis, 21 April 2011

SEKALI MERENGKUH DAYUNG, DUA TIGA PULAU TERLAMPAUI

Nashruddin pernah bekerja pada seseorang yang sangat kaya tetapi seperti biasanya ia mendapat kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Pada suatu hari, orang kaya itu memanggilnya, katanya, “Nashruddin kemarilah. Kau ini baik, tetapi lamban sekali. Kau ini tidak pernah mengerjakan satu pekerjaan selesai sekaligus. Kalau kau kusuruh beli 3 butir telur, kau tidak membelinya sekaligus. Kau pergi ke warung, kemudian kembali membawa satu telur. Kemudian pergi lagi, balik lagi membawa satu telur lagi, dan seterusnya. Sehingga untuk beli 3 butir telur, kamu pergi ke warung 3 kali.”
Nashruddin menjawab, “Maaf, Tuan. Saya memang salah. Saya tidak akan mengerjakan hal serupa itu sekali lagi. Saya akan mengerjakannya sekaligus saja supaya cepat beres.”
Beberapa waktu kemudian majikan Nashruddin itu jatuh sakit dan ia pun menyuruh Nashruddin memanggil dokter. Tak lama kemudian Nashruddin pun kembali, ternyata ia tidak hanya membawa dokter, tetapi juga beberapa orang lain. Ia masuk ke kamar, orang kaya itu sedang berbaring di ranjang, katanya “Dokter sudah datang, Tuan. Dan yang lain-lain juga sudah datang.”
“Yang lain-lain?” Tanya orang kaya itu. “Aku tadi hanya minta kamu memanggil dokter, yang lain-lain itu siapa?”
“Begini Tuan!” jawab Nashruddin. “Dokter biasanya menyuruh kita minum obat. Jadi saya membawa tukang obat sekalian. Dan tukang obat itu tentunya membuat obatnya dari bahan yang bermacam-macam dan saya juga membawa orang yang berjualan bahan obat-obatan bermacam-macam. Saya juga membawa penjual arang, karena biasanya obat itu direbus dahulu, jadi kita memerlukan tukang arang. Dan mungkin juga Tuan tidak sembuh dan malah mati. Jadi saya bawa sekalian tukang gali kuburan….”

Sumber: Buletin Cendikia, halaman 3.

Selasa, 19 April 2011

FACEBOOK…. OH…. FACEBOOK….


Kulihat mendung di wajahnya pagi itu. Kenapa gerangan? Fikirku. Baru kali ini aku temui wajah itu murung. Biasanya dia yang selalu membuat kami tersenyum dengan tingkah lakunya yang kocak.
Sore harinya, ketika dia telah pulang, mendung masih menggelayut di wajahnya.
“Ada apa denganmu Dek? Dari tadi murung terus? Sebagai kakak yang perhatian, aku bertanya.
Agak lama dia terdiam. Setelah menghela nafas yang sangat berat, mengalirlah cerita itu ….

“Aku disuruh ngulang PKL Kak” masih sendu
“Lho, kenapa? Bukannya nilaimu bagus walaupun presentasinya hancur? Cuma kamu aja yang ngulang?” tanyaku. Masalah di kuliahnya sering dia ceritakan, karena itu aku tahu banyak persoalan kuliahnya.
“Bukan aku sendiri Kak. Tapi kami ada 4 orang. Itulah kak, karena presentasi aku dan beberapa teman hancur, jadi kami harus memperbaiki laporan presentasi kami.”
“Trus?”
“Ini bermula dari status kawan di facebook kak. Biasa la komen-komenan status.
Koro bikin status :

“Duch, harus perbaiki laporan presentasi nech”.

Lalu Middar komen:

“Santai aja fren, suruh aja ibu tu yang buat. kwkwkwkwkwkwk”.

“Karena kalimat itu, dosen kami marah. Dia bilang itu pencemaran nama baik. Padahal kami gak bermaksud kek gitu. Lagian kan, kami nggak nyebut namanya. Tapi dia gak mau terima Kak. Katanya keputusannya nggak bisa diganggu gugat lagi..”
“Kok gitu banget dosennya? Kamu kan gak ada komen, kok kamu kena’ diskualifikasi juga?”
“Aku juga gak ngerti Kak. Dari yang kena diskualifikasi, memang cuma aku yang berteman dengan dosen ini di facebook. Tapi meskipun aku gk punya komen apa-apa, aku tetap terlibat. Parahnya lagi kak, kawanku yang cuma komen “hahahaha” aja pun kena juga. Padahal nilai presentasinya udah dapat A Kak. Makanya stress banget Kak. Sampe Koro bilang, kalo mamanya tau dia ngulang PKL, bisa mati berdiri mamanya..”
Aku ingin tertawa mendengar ceritanya itu. Hanya karena masalah kek gitu? Childish banget.
Tapi aku tahan untuk tidak tertawa, gak enak lihat muka nya yang semakin suram. Takut terjadi hujan badai. Susah aku jadinya.
“Sabar ya Dek. Mungkin hari ini, dosennya masih emosi. Besok coba ditemui lagi. Mudah-mudahan hatinya sudah mencair. Karena menurut kakak, permasalahan ini tidak perlu diperpanjang. Kalau diperpanjang, dosen kalian itu childish banget dan gak professional.” aku coba memberi saran.

Nah guys, berawal dari sebuah status di facebook atau jejaring sosial lainnya, bisa berdampak besar buat masa depan. Contoh riilnya yang sudah umum kita ketahui, yaitu kasus Prita. Cuma gara-gara curhat di email, dia sampe digugat pihak rumah sakit dan sempat masuk penjara. Karena itu, hati-hati membuat status. Tidak semua hal harus diekspos ke media, apalagi dunia maya yang tidak terbatas penggunanya. Akibatnya bisa sangat fatal.
Kan masih banyak media lain yang bisa dijadikan tempat curhat, seperti teman dekat, diary/ buku harian, atau orang-orang yang kita percaya bisa meringankan beban kita dan memberi solusi.
Buat adikku, semoga ini menjadi pelajaran berharga baginya. Kadang kita tidak tahu sial dan naas menghampiri, meski itu dari status yang kita anggap hanya iseng….
FACEBOOK… OH… FACEBOOK….

ARIF KECIL

Ketika malam datang mencekam
Kulihat si Alif kecil yang malang
Duduk tengadah ke langit yang kelam
Meratapi nasib diri


Sepenggal bait di atas mengingatkanku tentang kisah sedih di hari Minggu, tepatnya kisah seorang anak kecil yang harus menanggung beratnya beban hati karena perpisahan kedua orangtuanya.

Dia masih terlalu kecil sebenarnya untuk urusan seperti itu. Dia belum mengerti apa-apa. Masih balita berumur 2 tahun. Dia dipisahkan dari ayahnya oleh orang yang tidak menyukai profesi sang ayah. Entah apa yang ada dalam fikiran orang dewasa sehingga tega memisahkan ayah dan anak. Dia tentunya tidak mengerti, kenapa sejak saat itu dia tidak pernah lagi bertemu dengan ayahnya.
Dia tumbuh dalam keluarga yang tidak lengkap, tanpa ditemani sosok bernama ayah. Mungkin di hatinya, ayahnya telah meninggal dunia. Fisik anak ini tidak memperlihatkan bahwa dia telah banyak melalui masa-masa sulit dalam hidupnya. Tapi psikisnya? Bathinnya pasti sangat menderita. Ketika ke sekolah, anak-anak lain diantar oleh ayah dan ibunya, dia tidak pernah sekalipun mendapat perlakuan seperti itu. Dia dating sendiri dengan berjalan kaki tanpa seorangpun yang mengantarnya. Dia mencoba maklum dengan keadaan dirinya. Namun, benteng yang telah dia bangun akan segera hancur saat teman-temannya menanyakan perihal dirinya. Kenapa dia dating sendiri? Ketika dia diolok-olok oleh teman-temannya karena keberadaan ayahnya tidak jelas.
“Dimana ibumu?” seorang teman bertnya.
“Kerja.” Jawabnya singkat
“Ayahmu?” Tanya teman yang lain
Anak itu terdiam.
“Ayahmu?” Tanya yang lain lagi.
Masih terdiam.
“Ayahmu?”
“Aku tidak tahu” dia akhirnya menjawab.
“Kau tidak tahu dimana ayahmu? Pasti kau tidak punya ayah kan?” ejek temannya lagi.
“Aku punya ayah.” Jawabnya gusar.
“Tapi, dimana ayahmu? Kenapa kau tidak tahu dimana dia? Kau anak haram ya? Ejek mereka lagi sambil tertawa.
“Aku bukan anak haram. Aku punya ayah. Aku punya ayh. “ Dia semakin gusar.
Mata itu melotot. Melotot kesedihan. Dia tidak lagi bisa menahan airmatanya. Genangan air di pelupuk matanay tidak terbendung lagi. Anak itu menangis. Menangis yang menyayat hati.
Tidak bisa disalahkan jika dia menjadi sangat membenci ayah dan ibunya. Anak mana yang tidak ingin mempunyai keluarga yang lengkap. Jika salah satunya telah meninggal dunia, dia masih bias dengan tenang menjawab, tanpa ada tekanan, bahwa ayah atau ibunya telah meninggal dunia. Yang bertanya pasti terdiam, atau meminta maaf serta takkan pernah mengulangi pertanyaan yang sama. Namun, jika belum meninggal dunia, tapi tidak diketahui rimbanya, tentu si anak akan bingung. Masih ada. Tapi dimana? Seperti apa rupanya? Mengapa tidak pernah menemuinya? Begitu bencikah padanya hingga sekalipun tidak pernah mau menjumpainya? Hal-hal seperti itu yang akan dilalui seorang anak. Wajar saja jika dia membenci kedua orangtuanya. Semakin pendiam. Hidup dalam dunianya sendiri.
Apa yang ada dalam fikiran orang dewasa? Mengapa memilih perpisahan sebagai jalan keluar? Tidakkah mereka mengerti ada yang terluka hatinya karena pilihan tersebut? Hati yang sangat terluka, tergores sangat dalam? Itulah anak-anak, buah hati yang lahir dari cinta kasih mereka dan harus menanggung penderitaan karena perpisahan kedua orangtuanya.
Apa yang ada dalam fikiran orang dewasa?

Kilat menyambar hujan pun turun
Semakin basah hatinya yang resah
Kapankah semua ini kan berakhir
Di jalanan penuh duri *Snada*

Minggu, 10 April 2011

Pena yang Hilang

Cuaca hari itu sangat cerah. Tidak ada sedikit pun mendung di cakrawala langit. Hanya awan putih yang berarak teratur mengikuti irama Sang Maha Pengatur. Tapi suasana hati Aulia begitu berbeda dengan keadaan cuaca yang terang benderang. Dia kelihatan sangat bersedih.
Aulia menghampiri ayahnya yang sedang sibuk memeriksa tugas-tugas muridnya di ruang kerja sang ayah. Ayahnya yang sedang sibuk tidak menyadari akan kehadiran putranya. Dia begitu terkejut ketika tiba-tiba dia mendapati Aulia telah berada di sampingnya. Ketika melihat putranya begitu nelangsa, sang ayah menghentikan pekerjaannya dan berujar: ”Kenapa kau kelihatannya sangat bersedih anakku? Apa yang terjadi denganmu?”


“Aku sudah berusaha mencari pulpenku yang hilang Ayah, tapi aku tidak menemukannya.”
Ayahnya berkata dengan lembut: “Sebenarnya pulpenmu ada di kamarmu, Anakku dan jika kau cari dan bersabar dalam mencarinya, pasti kau akan menemukan pulpenmu kembali.” Berhenti sesaat, dan ayahnya melanjutkan: “Maukah kau Ayah perdengarkan sebuah cerita wahai anakku?
Aulia menatap ayahnya kemudian mengangguk.
“Duduklah dengan tenang dan simaklah cerita ini baik-baik.”
“Sebuah pasukan mengalami kekalahan dalam sebuah peperangan. Duduklah pemimpin pasukan itu di samping sebuah batu besar. Dia tidak tahu harus berbuat apa setelah mengalami kekalahan. Dia tertunduk lemas sekian lama. Saat dia mendongakkan kepala, dia melihat seekor semut sedang berusaha memanjat batu besar yang ada di samping tempat duduknya, akan tetapi semut itu terjatuh. Pemimpin pasukan memperhatikan sang semut begitu sabar dan tidak berputus asa. Sang semut terus berusaha dan berusaha hingga akhirnya dia bisa berada di puncak batu besar itu.
Melihat usaha sang semut, pemimpin pasukan bergegas kembali kepada pasukannya, kemudian mengumpulkan seluruh pasukannya, mengatur barisannya dan memimpin pasukannya kembali berperang hingga mendapati kemenangan” Ayahnya mengakhiri cerita dan sekilas melirik pada Aulia.
“Terimakasih atas ceritanya Ayah” ujar Aulia lebih bersemangat.
Aulia pun segera berdiri, kembali ke kamarnya, mencari pulpennya dengan penuh kesabaran hingga akhirnya dia menemukan pulpennya yang hilang .

dia kembali kepada ayahnya dengan hati riang dan wajah gembira seraya berkata: “Ayah, aku baru saja mempelajari pelajaran yang sangat berguna hari ini. Terimakasih Ayah.”
Ayahnya tersenyum bahagia melihat anaknya telah kembali ceria. ****

BRIPTU NORMAN VS RAZIA


Briptu Norman Kamaroo yang mendadak jadi selebritis karena aksi video nya di Youtube menjadi perbincangan banyak orang dari berbagai kalangan. Banyak media juga mengekspos berita ini. Bahkan sudah menjadi headline news di beberapa stasiun televisi.
Video tersebut juga hangat di kalangan mahasiswa, seperti aku dan abangku. Malam itu, seperti biasa abang mengantarku pulang ke kos. Biasanya jarak tempuh ke kos menghabiskan waktu sekitar 15 menit. Selama di perjalanan kami bercerita tentang banyak hal, kegiatanku di kampus, tentang teman-teman sesama mahasiswa juga dosen yang kadang sangat menyebalkan, sampai berita ter-hot saat itu.

Dalam perjalanan, kami terus saja bercerita tentang video tersebut sembari berdendang India dan meniru gerakan yang diperagakan di video tersebut hingga tak terasa kos yang dituju tinggal satu simpang lagi.
Tapi, saat di simpang menuju kos, tiba-tiba abangku menghentikan motornya. Aku belum sadar apa yang terjadi saat seseorang dengan baju preman nyeletuk di belakangku “Kenapa mesti belok kalian? Jalan terus saja kenapa? Gak lengkap surat-surat kalian rupanya?’ katanya dengan logat Batak yang khas.
Oalah, aku baru mudeng, kenapa tadi abang membelokkan keretanya. Karena di depan ada razia, dan aku tidak melihatnya. Rupanya, pak polisi yang garang itu telah membuntuti kami. Aku dan abang yang gak memakai helm sontak kaget, kok malam-malam ada razia?


“Kok ada razia malam ini ya Pak ? Tanyaku dengan lugu.
“Biar kalian aman” jawab Pak Polisi itu. Kalo diperhatikan sebenarnya Pak polisi ini manis, tapi karena kumisnya yang lebat itu, membuat tampangnya jadi sangar.
“Tapi kenapa cuma malam ini ya?’ tanyaku lagi. Ups, aku merasa pertanyaanku itu begitu bodoh. Aku merutuki diri sendiri, kenapa membuat pertanyaan yang sangat bodoh.
Tanpa kunyana, Pak Polisi yang garang ternyata kaget. Owh… tak kuduga, pertanyaanku bisa menyudutkannya.
“Tak usah terlalu difikirkan Pak, hanya pertanyaan anak kecil’ kataku, nyengir hampir meringis. Lalu aku melihat seseorang diperiksa juga barang-barang bawaannya.
Selidik punya selidik, ternyata di daerah tempatku sering diadakan razia dadakan oleh polisi setempat untuk memeriksa barang-barang haram seperti narkoba. Daerah sekitar tempat aku tinggal, sering dijadikan tempat transaksi untuk barang-barang tersebut…
Pak Polisi lalu menginterogasi abang. Kulihat mukanya sudah pias. Hah… dasar penakut “fikirku.
“Aku ngantar adekku aja nya Pak.” Masih pias.
“Kenapa kalian tidak pakai helm?” Tanya pak polisi lagi
“Galak banget. Nyebelin” menggerutu dalam hati.
“Tadi buru-buru pak. Tolong la pak, ngantar adek sajanya aku pak. Abis ini mau kerja lagi aku pak. Tolong la pak” dengan muka memelas abang memohon mengharap belas kasihan si Polisi garang.
Setelah tawar menawar yang tidak begitu alot, Pak polisi akhirnya melepaskan kami. Tanpa basa-basi lagi, abang langsung tancap gas meninggalkan Polisi yang masih merazia beberapa orang di belakang kami.

Oh…. Apes…. Apes…. 

Si cantik elegan sahabat semua kalangan

Di Penghujung tahun 2017, dia hadir. Di antara empat bersaudara dari keluarga Xseries, dia yang tampil menawan bagiku.. "Mu...