Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Selasa, 18 September 2012
Jejak di Dua Kota
“I have a dream. I want to continue my study at archeology UGM. If I do my best, I believe I can. I can be there as soon as possible. After graduated from high school, I believe I’ll be there.”
Sebuah catatan yang kubaca dari tulisannya tentang mimpi yang dia punya. Saat itu, dia sedang mengikuti bimbingan belajar di sebuah tempat bimbingan di kota Medan. Aku bisa merasakan semangat yang dia punya dengan membaca tulisan itu. Tulisan tentang sebuah mimpi miliknya.
###
Polonia, 2 Juli 2011 pukul 18.30 PM
Setengah tidak percaya kupandangi dia. Sebentar lagi dia akan masuk ke dalam untuk melakukan penerbangan pertamanya. Kucek ulang barang-barang bawaannya. Kepergiannya ini tidak pernah kami duga karena sesungguhnya kami tidak mengharapkannya. Yogyakarta. Tempat itu terlalu jauh buat kami. Terlalu sulit untuk kami raih. Kami sekeluarga pada awalnya terkesan tidak setuju atas pilihannya untuk menuju kota pelajar itu. Alasannya cukup klasik. Masalah biaya. Jaraknya yang lumayan jauh, ongkos yang harus dibayar juga tidak sedikit. Tidak memungkinkan untuk bisa pulang, terlebih saat lebaran. Lebaran adalah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga. Masa seperti itu akan tetap menyisakan sedih meskipun telah kita coba kuat-kuat untuk menepisnya. Kami semua telah mencoba meyakinkannya bahwa UGM bukan pilihan yang tepat. Tetapi dia tetap bersikukuh. Tidak bergeming sedikitpun dari pendiriannya. Pada akhirnya, dia menjadikan UGM pilihan pertamanya saat mendaftar ujian masuk universitas tersebut.
Tidak seorang pun dari kami yang mengharapkan dia lulus di sana. Akan tetapi kenyataan menjawab lain. Dia lulus untuk jurusan yang sangat diinginkannya itu. Kelulusan itu membuat kami bahagia, tetapi diiringi dengan airmata. Airmata kepedihan. Pedih dengan nasib. Buat keluarga besar kami yang hidup dengan gaji dua orang guru SD di desa yang terbilang cukup terpencil, akhir bulan adalah saat-saat menggetirkan. Ketika uang yang di tangan tidak lagi memadai. Dengan apa dia akan diberangkatkan?
Ketidakberharapan itu membuat kami tidak mempunyai persiapan. Terlebih ibu. Mendengar kabar itu, dia yang sedang menulis RPP dan silabus, terhenti seketika. Seperti waktu yang terhenti, itulah yang ibu rasakan. Dia terdiam. Diam memikirkan anak yang akan menuju kota yang jauh. Tuhanku, sungguh Engkaulah yang menentukan semua ini. Engkau tahu aku sanggup melakukannya maka Engkau berikan masalah ini untukku. Aku bahagia ya Tuhan untuk keinginan anakku yang tercapai. Cita-cita yang dia idamkan. Tetapi ya Tuhan, Engkau juga tahu keadaan ekonomiku yang juga begitu terhimpit. Aku tahu Engkau tidak pernah zhalim pada hambaMu. Berikanlah aku jalan keluar terbaik ya Tuhanku untuk masalahku ini. Aku yakin, inilah yang terbaik dariMu. Mudahkanlah urusanku. Lapangkanlah dadaku Berikanlah jalan keluar terbaik untuk masalahku. Ibu berkata-kata sendirian sembari terus menulis dengan hati yang ikut menangis meski setetes airmata pun tidak keluar dari pelupuk matanya.
###
29 Juni 2011
Medan, pukul 20.00
“Za, hari ini pengumuman SNMPTN kan? Coba cek dulu Dek. Lulus atau gk Afif kita. Kalau feeling kakak, dia lulus. Tapi bukan di UGM. Di USU atau UNIMED dia lulusnya. Kasihan ibu kalau dia lulus di UGM. Berapa ongkos kesana ya? Sekarang lagi akhir bulan pula. Udah sekarat keuangan. Sama kayak kita.” Ujarku.
“Iya kak. Aku juga berharap seperti kakak. Aku udah browsing Kak. Tapi masih loading dari tadi. Agak lelet nih Kak. Sabar ya. Kalau udah berhasil, aku kasih tahu.”
“Ok.”
Selang beberapa menit kemudian, Za berteriak “Kaaak.”
“Ada apa Za?” aku mendekat ke arahnya yang sedang melihat sesuatu di layar yang mengejutkannya.
“Afif lulus di UGM kak. Dia lulus pilihan pertama. Aku nggak salah lihat kan Kak?” dia sedikit bersedih.
“Nggak. Kamu gk salah lihat. Itu memang namanya. Kok malah sedih gitu? Harusnya senang dong.”
“Ibu Kak. Aku mikirin ibu. Aduh si Afif ini. Nggak mau dengerin kita sih. Kekmana nih Kak?”
“Nggak masalah itu Dek. Kalau sudah di hadapan kita, kita pecahkan sama-sama masalahnya. Apa saja persyaratannya? Buka halaman selanjutnya dulu Dek. Biar kita sekalian ngasih tahu sama Ibu beserta persyaratan yang harus dilengkapinya.”
Kami membaca persyaratan yang harus dibawanya saat registrasi. Disebutkan registrasi dilaksanakan pada 1-4 Juli 2011. Hari ini sudah 29 Juni 2011. Hanya punya waktu empat hari untuk melengkapi persyaratan yang jumlahnya juga seabrek.
“Kak” badan dan wajah Za melemas.
“Udah, tenang aja Za. Kasih tau aja dulu Ibu. Di sms aja. Malam ini kita fikirkan jalan keluarnya. Yang penting ibu telah kita kabari. Urusan lainnya, kita fikirkan besok. Insya Allah ada jalan keluarnya.” Jawabku.
Padangsidimpuan, pukul 21.00
Handphone Ibu bergetar. Ada sms masuk. Bu Alhamdulillah si Afif lulus Arkeologi UGM. Za. Begitu pesan yang Ibu terima. Ibu tersenyum getir membaca sms itu. Ibu tahu, Afif sangat menginginkan belajar di universitas kebanggaan itu. Ibu tidak pernah menahan anak-anaknya menggapai cita-cita yang diimpikan sejak lama. Ibu juga tidak bisa melihat akibat seandainya keinginan itu tidak dikabulkan. Afif, adalah anak yang begitu bersemangat untuk meraih mimpi-mimpinya. Apapun akan dia lakukan. Bahkan sebelum ujian SNMPTN, dia tidak berharap muluk-muluk dari ibu. Dia bertekad, jika hanya uang yang menjadi masalah utama, dia rela bertempat tinggal di mesjid, untuk mengurangi biaya hidup. Hanya satu yang dia minta, dia diizinkan untuk melangkahkan kakinya di kota pelajar yang penuh gairah ilmu itu.
Masalah klasik itu sangat tidak bisa ibu hindarkan. Ibu benar-benar tidak memiliki uang lebih untuk memberangkatkannya. Hal itu yang membuat fikiran ibu puyeng. Pusing yang berlipat-lipat. Hanya memasrahkan diri pada pertolonganNya, itulah yang sanggup untuk ibu lakukan. Ketika tidak ada seorangpun yang mampu menolongmu dari keterpurukan, yakinlah hanya Dia tempat meminta pertolongan yang utama. Ibu menyabarkan hatinya dengan untaian kalimat itu.
Berselang satu jam kemudian.
“Assalamu’alaikum” suara Afif terdengar mengucapkan salam.
“Wa’alaikumussalam” ibu membukakan pintu. “Bagaimana hasilnya Nak?” tanya ibu memastikan jawaban dari Afif.
“Alhamdulillah Bu, lulus di UGM.”
“Alhamdulillah. Kapan harus daftar ulang Nak? Apa persyaratan yang harus dibawa?”
“Paling lama tanggal empat Bu, aku sudah harus di sana untuk registrasi. Registrasinya tidak bisa diwakilkan Bu. Harus oleh mahasiswa yang bersangkutan.”
“Hmm, berarti harus sudah sampai di Yogya pada tanggal 4 ya? Itu juga menuntutmu untuk segera berangkat dari sini sekitar tanggal 1 atau tanggal 2. Mepet kali waktunya ya?” ibu tampak berfikir. Afif hanya terdiam. “Ya sudah, istirahat lah. Segarkan fikiran dulu. Masih banyak hal yang harus kita lakukan. Malam ini ibu fikirkan jalan keluarNya. Mudah-mudahan Allah menunjukkan jalan yang harus ibu tempuh. Insya Allah, ada jalan. Tidurlah.” Kata ibu berusaha menenangkan gemuruh di dadanya.
“Tunjukkan jalanMu ya Tuhan.” Doanya dalam hati tanpa ada airmata, karena airmatanya telah mengalir ke dalam, jauh ke lubuk hatinya, yang basah….
Medan, 30 Juni 2011
Kuperhatikan persyaratan-persyaratan yang harus dibawa saat registrasi. Persyaratan yang berhubungan dengan identitas atau fotokopi ijazah, masih bisa untuk diselesaikan meskipun waktunya sangat sempit. Hanya satu yang membuat keningku berkerut. Biaya yang harus segera dilunasi. Aku mencari-cari informasi untuk menanyakan tentang hal tersebut. Menanyakan keringanan. Haruskah dilunasi semuanya saat registrasi atau bisa dicicil per semester. Aku melihat ada nomor telepon yang bisa dihubungi. Kutelpon berulang kali, tetapi selalu nada sibuk. Tak pernah diangkat. Ada email yang juga tertera. Aku juga mengirimkan email ke alamat tersebut berharap ada balasan. Setengah hari kutunggu, tidak ada balasan dari pihak penyelenggara yang masuk ke inboxku. Aku ingin tahu rencana ibu. Meskipun belum ada kepastian yang kuperoleh, aku menghubungi nomor ibu.
“Assalamu’alaikum. Ada apa Nak?”
“Wa’alaikumussalam. Ini Bu, terkait biaya yang harus dilunasi. Ibu sudah tahu?”
“Belum Nak. Kenapa?”
Aduh, gimana bilangnya ya? Nanti ibu makin pening mikirinnya. Tapi kalau aku nggak memberi tahu, bermasalah pula si Afif sesampai di sana.
“Eng, ini Bu, total yang harus dibayar berkisar 12 juta. Di sini tertulis semua itu harus dibawa saat registrasi. Aku sudah mengirimkan email menanyakan tentang keringanan untuk yang tidak bisa segera melunasinya. Masih menunggu jawaban sih, Bu.” dengan berat hati kusampaikan pada Ibu berita itu.
“Oh, begitu pula ya Nak peraturannya. Sepertinya ibu harus konsultasi dengan pamanmu yang berada di Yogya. Mungkin dia punya pemikiran lain.”
“Iya, Bu. Aku juga sudah list teman-teman yang ada di Jawa. Siapa tahu mereka punya sedikit gambaran meskipun tidak kuliah di situ. Mungkin adiknya yang kuliah atau adik temannya. Ibu nggak sendirian ya Bu. Jangan bersusah hati Ibu ya.” pintaku.
“Iya Nak. Tenang saja.”
“Apa tanggapan ayah Bu?”
“Baiknya tidak usah bertanya perihal ayahmu. Seperti tidak tahu tabiatnya saja. Tidak ada respon darinya. Dia hanya diam, tidak bisa diajak komunikasi. Ibu sendirian. Jadi, ibu hanya punya kalian. Sampaikan saja informasi yang kalian dapatkan. Itu sudah sangat membantu. Masalah lainnya, kita bertawakkal saja pada Allah. Selalu berbaik sangka padaNya. Ibu mau menelpon pamanmu dulu ya Nak.”
“Oh, iya Bu. Assalamu’alaikum.”
Ayah. Selalu seperti itu. Tidak pernah mau tahu. Bagaimana kami bisa mengingatmu saat jauh.
Ahhh, aku menghela nafas. Berat.
###
Padangsidimpuan, 30 Juni 2011
Ibu baru pulang dari sekolah saat menerima telepon. Udara panas, gerah dan pemikiran yang sedikit ruwet, sedikit membuat badan ibu lemas, gemetar. Tapi ibu berusaha untuk tidak menunjukkannya pada anak-anaknya. Terutama pada si Afif.
Suamiku. Kapankah kau mau berinisiatif untuk biaya sekolah anak-anakmu? Mengapa terdiam? Mengapa hanya harus aku yang memikirkannya?
“Pak, si Afif lulus di UGM.” Ibu membuka suara.
Hening. Beberapa saat.
Masih hening, beberapa saat kemudian.
Ibu mendengus sebal. Aku juga bisa tanpamu. Akhirnya bisik itu yang muncul dalam benak ibu ketika ayah tidak juga bergeming dari diamnya.
“Si Afif belum pulang Nak?” tanya ibu pada kak Sara, menantunya yang masih tinggal di rumah sejak pernikahannya dengan abang dua tahun yang lalu. Dan kami tidak keberatan.
“Belum Bu. Bentar lagi mungkin. Bagaimana keberangkatannya Bu? Kapan rencana dia akan berangkat Bu?”
Ibu menghela nafas, berat.
“Dari informasi yang ditentukan pihak universitas, dia besok telah harus berangkat. Mengingat perjalanan yang jauh dan cukup berliku.”
“Hmm, kalau Ibu perlu, aku punya tabungan. Meskipun tidak terlalu banyak, tapi mudah-mudahan bisa membantu.” Kak Sara menawarkan.
Subhanallah. Engkau memang Maha Pemurah. Riang, Ibu memuji kebesaran Allah.
“Alhamdulillah. Ibu memang memerlukan sejumlah uang. Terimakasih anak telah berbaik hati membantu kesulitan Ibu.”
“Saya juga patut berterima kasih kepada keluarga ini, terlebih pada Ibu, karena Ibu dan keluarga ini telah sangat baik pada saya, dan tidak membedakan saya dengan anak-anak Ibu.” ujarnya, merendah.
Beban di pundak ibu telah sedikit berkurang dengan tawaran menantunya. Setiba Afif di rumah selepas menunaikan shalat Jumat, ibu menanyakan persiapan yang telah dia lakukan.
“Masih ada persyaratan yang harus dilengkapi yang belum terpenuhi Nak?”
“Ada Bu. Kartu perpustakaan dan kartu pelajarku Bu. Nggak ada kutemukan.”
Ibu berfikir sejenak.
“Pergilah ke sekolah untuk mengurusnya. Mudah-mudahan urusanmu dimudahkan oleh Allah. Pandai-pandai saja membujuk pihak sekolah agar kartu-kartu itu bisa kau dapatkan selambatnya besok sore. Besok kau sudah harus berangkat, bagaimana pun caranya.”
“Iya, Bu. Tapi aku makan dulu ya Bu. Aku lapar.’ wajahnya memelas.
Ibu tersenyum. Dia bahkan sampai lupa mengisi perutnya yang kosong. Kehilangan selera.
“Tentu saja.”
Ibu kemudian menghubungi paman yang berada di Yogya. Setelah berbasa basi sejenak, ibu langsung ke pokok pembicaraan.
“Ada apa Kak?”
“Begini, keponakanmu lulus di Arkeologi UGM. Dia harus registrasi tanggal 4 Juli nanti. Kalau dipaksakan naik bus, mungkin sampai empat hari. Jika sampai empat hari kemudian di tujuan, tidak akan jadi masalah. Tapi jika tidak, akan sia-sia rasanya. Bagaimana menurutmu?”
“Kalau begitu persoalannya, baiknya naik pesawat saja Kak. Memang lebih mahal biayanya. Tapi lebih memungkinkan tiba di tujuan sebagaimana mestinya. Kapan dia berangkat Kak?”
“Rencana besok malam dia berangkat. Sebab hari ini dan besok masih mengurus beberapa administrasi yang harus dia bawa.”
“Ke Medan dulu?”
“Ya, menurut kakak, dia ke sana dulu karena kakak-kakaknya bisa membantunya setiba di sana.”
“Ya, hemat saya juga begitu Kak. Jadi kalau dia berangkat besok malam, akan tiba di Medan lusa. Ambil penerbangan lusa saja. Tapi dia sudah harus tiba di Jakarta di hari yang sama. Aku yang menjemputnya nanti di bandara. Tapi dari Yogya, kami akan naik bus. Perjalanan dari Jakarta menuju Yogya menghabiskan waktu 13 jam juga Kak. Makanya aku sarankan dia tiba di Jakarta di hari yang sama.”
“Bagaimana baiknya sajalah. Kakak dan abangmu, kemungkinan besar tidak bisa mengantarkannya ke sana. Jadi kakak sekalian meminta tolong padamu untuk mengurusnya selama masa registrasi juga mencarikan tempat tinggalnya di sana nanti.”
“Beres Kak. Serahkan saja semua yang harus di urus selama di Yogya pada saya kak. Kakak tak perlu khawatir.”
“Terima kasih banyak atas bantuannya. Maaf, jika kakak telah merepotkanmu.”
“Ah, jangan berfikiran seperti itu kak. Sesama saudara harus saling membantu.”
Percakapan dengan paman, adik ibu membuka celah baik yang semakin besar.
Medan, 30 Juni pukul 13.40 WIB
Nak, carikan tiket pesawat paling murah untuk penerbangan lusa. Adikmu akan naik pesawat ke Jakarta. Nanti di Jakarta, pamanmu yang akan menjemputnya. Besok malam, dia akan meluncur dari rumah menuju Medan, tempat tinggal kalian. Segera kabari ibu harga tiket pesawatnya, agar ibu bisa membagi uang yang sangat banyak ini. Kau mengerti maksud Ibu kan?
Pesan ibu ditelpon. Mencari tiket pesawat. Sedikit runyam, karena aku belum pernah mengurus perihal seperti ini sebelumnya. Aku memang pernah menemani seorang teman satu kost membeli tiket pesawat di salah satu travel dekat kost dua tahun lalu. Tapi aku tidak mengerti prosedurnya sama sekali. Kami hanya datang ke travel tersebut, temanku itu menyebutkan kota tujuan dan tanggal berangkatnya, lalu petugas travel menyebutkan sejumlah harga, dia memberikan sejumlah uang, petugas travel menyerahkan tiket pesawat ke tangan temanku itu, urusan selesai, kami pulang. Hanya begitu.
Aku berfikir apa yang harus kulakukan. Beruntung, beberapa detik kemudian, aku teringat sebuah nama. Ve, teman dari temanku yang sekarang menjadi temanku, baru saja membuka sebuah travel yang menyediakan tiket pesawat domestik dan mancanegara. Aku bisa minta bantuannya. Segera ku email dia.
Smile : Ve. Masih jalan travel mu kan?
Beberapa saat kutunggu. Balasan Ve, muncul.
Ve : Ya, ada apa?
Smile : Aku mau booking tiket pesawat paling murah ke Jakarta
Ve : Ok. Bisa ku cek. Berangkat tanggal berapa? Kota asal?
Smile : Lusa. Medan.
Ve : Ok. Ku cek dulu ya. mohon sabar menunggu.
Menunggu jawaban Ve, aku iseng membuka situs sebuah travel. Lion Air.
Ve : Maaf, membuatmu menunggu.
Smile : Tak apa. Bagaimana?
Ve : Sudah kujelajahi semua layanan penerbangan, yang paling murah berangkat pukul tujuh malam, lion, 957ribu.
Harganya tidak jauh beda dengan yang kutemukan di situs tersebut.
Smile : Kira-kira masih ada kemungkinan turun nggak?
Ve : Nggak bisa dipastikan. Kadang iya, kadang nggak. Kalau saran aku ambil yang ini aja. Semakin cepat prosesnya, semakin baik.
Smile : Ok. Aku kasih tahu Ibu dulu ya. nanti kalau jadi kukabari. Thanks ya.
Ve : Yoi. Sama-sama
Segera kukabari ibu. Ibu bilang baru bisa transfer setelah sore.
Smile : Ve, masih ol?
Ve : Ya
Smile : Uangnya baru ada sore. Bagaimana itu?
Ve : Booking tempat memang bisa kapan saja. Tapi pembayaran dilakukan setengah jam setelah booking. Begitu peraturannya.
Smile : Oh, begitu ya. berarti kalau sudah ada kabar dari Ibu, aku contact kamu lagi ya. Belum bosan kan? Maaf, merepotkan.
Ve : Its okay girl
Ku sms ibu.
Bu, kalau sudah ditransfer uang untuk tiket pesawat itu, kasih tahu aku ya Bu. Agar tiketnya bisa segera fix urusannya.
Padangsidimpuan, pukul 14.30 WIB
Afif pulang dari sekolah dengan mata berbinar.
“Aku tak perlu menunggu lama mendapatkan kartu-kartu ini Bu.” menunjukkan kartu tersebut pada Ibu. “Mendengar kabar kelulusanku di universitas tersebut, para guru yang masih berada di sekolah tadi berseru bangga. Menanyakan keperluanku dan menyelesaikannya secepat mungkin serta memberikannya padaku.”
“Kau telah membuat bangga sekolah ini. Mengukir sebuah sejarah yang jarang didapatkan oleh siswa lainnya. Kau berhak mendapat pelayanan terbaik. Selamat.”
“Guruku mengatakan begitu dengan menjabat tanganku Bu.” Afif melaporkan semua pengalamannya pada ibu.
“Alhamdulillah. Kalau begitu, sekarang temani ibu ke pasar membeli beberapa keperluanmu.”
“Siap Bos!!”
Medan, pukul 16.07 WIB
Smile : Ve, aku mau booking sekarang. Sudah berapa harga tiketnya?”
Aku tak menerima jawaban selang sepuluh menit kemudian.
Ve : Sory, baru balas. Harus ku check balik. Sebentar ya.
Smile : Ok.
Aku menunggu, lagi.
Ve : Harganya sudah nggak segitu lagi. 967 ribu. Tetapi tetap itu yang termurah. Bagaimana?
Smile : Booking buatku. Satu kursi saja.
Ve : Ok. Atas nama siapa?
Smile : Afif
Ve : Ok. Emailmu?
Smile : Untuk?
Ve : Mengirimkan tiketnya. Nanti kau bisa print sendiri. Atau kau mau jemput ke kantorku?
Smile : Oh. Via email saja. Smile53@yahoo.com
Ve : Setelah transfer bukti pembayaran, kabari aku.
Smile : Beres. Aku mau gerak. Kirimkan saja nomor rekeningnya. Sms saja. Aku paling malas mencatat.
Ve : Baiklah…
Aku mencari atm terdekat. Melakukan transfer yang diperlukan. Kembali ke rumah. Online, lagi.
Smile : Sudah Ve.
Ve : Ok. Segera kuproses.
Mouse di depanku berkedip beberapa lama. Masih menunggu.
Ve : Sudah kukirim ke emailmu. Silahkan di check.
Smile : Siip
Aku check inbox emailku. Tiket yang kubutuhkan telah nangkring di sana. Kuhidupkan printer yang sehari ini belum disentuh. Mencetak data. Setelah hasil keluar, aku tersenyum. Akhirnya….
Smile : Thanks Ve.
Ve : Welcome
Bu, sudah kupesan tiketnya. Masalah tiket, aman
Kukirim sms itu.
Padangsidimpuan, 1 Juli 2011
Ibu telah berkutat di dapur sejak pulang dari sekolah dan menunaikan shalat. Dia tak banyak bicara. Juga tidak berdendang mengikuti alunan lagu yang diputar salah satu stasiun radio seperti biasa. Hening. Hanya hening.
Derit pintu terdengar dari pintu samping. Seseorang melongok ke dapur, ibu terkesiap dan menghapus bulir yang tak sengaja jatuh dari sepasang mata indahnya.
“Bu, apalagi yang harus kusiapkan?” Afif bertanya pada ibu.
Afif memang tipe anak yang sangat manja. Dia tidak akan yakin sebelum ibu memeriksa barang-barang bawaannya.
Ibu beranjak dari dapur. Mengikuti Afif ke kamar. Itu salah satu yang mengkhawatirkan ibu tentang perilakunya. Apa-apa harus bertanya pada ibu. Jika jauh, sanggupkah?
“Nanti kalau sudah di sana baik-baik jaga diri.” nasehat ibu sembari memeriksa barang-barangnya. “Ibu akan selalu mendukung kalian untuk sekolah. Apapun akan Ibu usahakan agar kalian bisa tetap sekolah setinggi-tingginya. Tapi hendak kau ingat, tugasmu ke sana adalah untuk belajar. Kau boleh benci pada universitas itu, benci untuk berlama-lama di sana, sehingga itu memacumu untuk terus semangat belajar, lulus dalam waktu tercepat dengan hasil yang memuaskan. Kau telah membuat ibu bangga. Jaga itu Nak.”
“Iya, Bu. Afif mengerti.” mengangguk takzim.
Ibu kembali ke dapur. Salah satu kebiasaan yang ibu lakukan jika kami akan bepergian jauh, dia akan memasak menu favorit kami, membuatkan bekal di jalan, membawakan oleh-oleh khas kota yang kami senangi dalam jumlah yang tidak sedikit.
“Di sana kalian susah mendapatkannya.”
Jika kami tanya, itu yang selalu menjadi alasan ibu. Karena itu, kami tidak lagi pernah bertanya. Ucapan terimakasih tak terhingga yang bisa kami katakan dan semoga Tuhan Yang Kuasa membalas semua kebaikan itu dengan surgaNya.
Pukul tujuh malam, bus sewa yang dipesan telah datang menjemput. Ibu memeluk Afif erat. Teringat masa kecilnya yang sangat jauh beda dengan sekarang. Afif yang linglung, mudah sakit, dan sedikit lamban berfikir sekarang telah jauh lebih baik. Linglungnya telah jauh berkurang meskipun masih tersisa sedikit, fisiknya sudah lebih kuat sebab dia suka mengkonsumsi buah dan sayuran sehat meskipun terkadang jika terkena hujan dia akan terserang flu berat, cara berfikirnya yang cenderung lambat telah dilatih berkali-kali lebih banyak dari keadaan biasa sehingga dia telah lebih mampu memakai nalarnya dengan lebih baik. “Jaga dirimu baik-baik Nak.” Ibu berusaha sekuat tenaga mengikat airmatanya agar tidak tumpah di depan Afif. Ibu tak ingin semangat Afif mengendor dengan linangan airmata ibu.
Bus berjalan menuju stasiun. Naluri ibu menginginkan untuk menyusul ke stasiun. Jika tidak bisa mengantar ke daerah tujuan, setidaknya ibu masih bisa melepas anak kelima nya itu dari stasiun.
Sesampai di stasiun, ibu mendapati Afif telah terkulai lemas. Dia muntah-muntah. Perjalanan belum dimulai, tapi dia telah kurang fit. Mungkin kecapaian.
Ibu membersihkan baju Afif yang terkena air muntah yang muncrat ke tubuhnya. Ibu menyuruhnya meminum air mineral yang dibawanya dari rumah dan memberikan obat oles untuk menghangatkan badan. Sebelum mobil tumpangannya bergerak, ibu tidak beranjak satu langkah pun dari samping Afif, masih terus memijat pundak Afif agar angin jahat dari tubuhnya keluar dan menghentikan mual yang menyebabkan muntah.
Sepuluh menit. Mobil tersebut mulai merayap di jalan raya. Hanya lambaian tangan ibu penanda perpisahan itu telah terjadi. Bulir itu pun menetes, tanpa diminta.
Medan, 02 Juli 2011 pukul 08.00 WIB
Sudah dimana posisi?
Baru sampai loket Kak.
Pukul delapan pagi, dia masih baru sampai di stasiun. Sedikit lambat dari kebiasaan. Normalnya, pukul tujuh mobil tumpangan paling lama telah tiba di stasiun. Terkadang, jika supir menyetir bagai kesetanan, pukul lima telah tiba di stasiun dengan perasaan nyawa berada di awang-awang selama perjalanan dan baru mampir lagi ke tubuh setelah berhenti di beberapa titik pemberhentian untuk istirahat sang supir atau telah tiba di stasiun tujuan.
Kenapa lama?
Jalanan macet Kak.
Oh, pantas saja.
Aku dan Za telah memasak lebih banyak hari ini untuk menyambut kedatangannya. Afif memang makan dengan lahap dalam porsi banyak. Masih masa pertumbuhan. Kami berencana menunggunya untuk makan bersama di pagi itu. Tetapi, dia masih belum sampai di rumah sementara perut telah meronta minta bagian. Akhirnya, kami memutuskan untuk sarapan lebih dahulu.
Dua jam kami harus sabar menunggu sampai akhirnya kami mendengar bunyi klakson mobil yang mendekat. Hari telah pukul sepuluh.
“Kenapa lama?”
“Aku tadi lupa Kak alamatnya. Jadi ngantar penumpang lain dulu. Alamatnya jauh-jauh Kak. Makanya jadi lama. Kak, aku lapar.”
“Oh, iya. Makanlah. Kakak tadi telah makan. Mau nungguin rencana, tapi kelamaan. Setelah makan dan mandi, istirahat lah sejenak. Kita berangkat sore ke bandara. Kau masih lelah, karena itu harus istirahat.”
“Iya, Kak.”
Kutatap lekat-lekat wajah manja itu. Wajah yang kemungkinan besar tidak akan kutemui jika dia belum menyelesaikan studinya. Bahkan untuk pulang saat semester, harus berfikir matang-matang, membuang uang atau tidak.
Bu, Afif telah sampai. Sekarang sedang makan.
Polonia, pukul 20.30 WIB
Pesawat yang akan ditumpanginya delay karena cuaca buruk. Beberapa hari ini, cuaca tidak menentu di wilayah Medan dan sekitarnya. Terkadang sudah sangat terik di siang hari dan hujan deras sore harinya. Beruntung, aku dan Za tidak langsung pulang setelah tadi dia masuk ke ruang tunggu. Mengetahui pesawatnya delay, aku menyuruhnya keluar menemui kami lagi. Kulihat badannya lemas dan dia merasa mual-mual. Dia belum menunaikan shalat, karena itu dia menuju mushalla yang ada di bandara setelah menitipkan tas yang tidak dimasukkan ke bagasi pada kami. Sengaja kami membawa bekal makan malam, bermaksud hendak makan di sana, untuk menghemat. Makan di restoran bandara, harganya bisa mencapai langit, tak sanggup kami capai.
Kami mengajaknya makan setelah dia selesai shalat. Lagi-lagi dia makan dengan lahap. Setelah makan, wajah itu bersinar kembali.
“Hmm, rupanya tadi lapar ya Dek?” tanyaku.
Dia mengangguk.
“Haha. Pantasan sakit kepala. Adik saya ternyata kelaparan.” Za menggodanya.
Bercanda beberapa saat sebelum dia kembali memasuki ruang tunggu.
“Baik-baik di sana. Belajar yang tekun dan sungguh-sungguh. Di sana tidak ada keluarga yang bisa mengunjungimu seperti waktu di rumah, pandai-pandailah mengelola keuanganmu. Usahakan agar cukup. Tapi kalau kurang, jangan juga tidak dikatakan” pesan Za mengingatkannya.
“Iya Kak.”
“Ingat pasukan Thariq bin Ziyad sesampai di Spanyol waktu itu?” aku bertanya.
Dia menolehku, dan menggeleng.
“Sesampai di Spanyol, Thariq membakar habis semua kapal yang membawa mereka ke sana. Lalu ia berpidato di depan pasukannya. Kita telah sampai di wilayah musuh. Jika maju, musuh telah menghadang di depan. Jika mundur, lautan yang ganas juga siap menelan. Apapun keputusan yang kita ambil, resikonya sama, kematian. Jika memilih maju dan bertempur melawan musuh kemudian meninggal, meninggalnya itu dalam keadaan syahid. Jika memilih mundur, maka akan tenggelam di lautan luas itu, dan hanya akan mati sebagai pengecut. Maka semangat pasukan Thariq pun berkobar-kobar untuk bertempur hingga darah penghabisan demi satu tujuan Islam yang mulia atau mati sebagai syuhada. Hingga sejarah mencatat, kemenangan berada di tangan umat Islam.”
“Kamu mengerti?”
Lagi-lagi, Afif menggeleng.
“Anggap saja kondisimu sekarang, sama dengan situasi pasukan Thariq tersebut. Jika mundur, akan menjadi pecundang, jika maju halangan dan rintangan akan menemuimu kelak, salah satunya mungkin kekurangan uang atau rindu pada keluarga. Namun jika kamu bersabar, maka akan kau temui kemenangan, ilmu yang kau peroleh, lulus dari universitas itu dengan baik dan membawa oleh-oleh pada orangtua dengan segenap pengalamanmu di sana. Sanggup?”
“Iya kakakku sayang. Ini mimpiku. Tidak ada yang bisa menggapainya selain aku sendiri.” Afif mengangguk, mantap.
“Subhanallah. Selamat berjuang. Semoga sukses.”
Kami melepas kepergiannya. Lagi-lagi lambaian tangan. Lambaian tangan kepergian, juga kehilangan. Namun kami tetap harus menabahkan diri dan menyabarkan hati demi sebuah cita-cita. Cita-cita mulia yang diajarkan Nabi. Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina.
Dulu, aku adalah inspirasi baginya. Inspirasi untuk berprestasi di sekolah, memenangkan berbagai lomba, menjadi utusan sekolah dalam olimpiade, masuk universitas favorit dengan jalur ujian masuk. Semua murni, tanpa ada unsur-unsur pembersihan.
Tahap-tahap itu telah dijejalinya dengan baik. Hari ini, dia pergi untuk menggapai mimpi selanjutnya. Aku belajar banyak darinya. Untuk tidak menyia-nyiakan mimpi. Untuk bermimpi dan bangun mengejar mimpi itu.
Ibu, Afif telah landing.
Kutatap langit malam itu. Tidak ada gemintang. Namun, mimpi yang telah kubangun lagi di hatiku adalah gemintang yang kelak akan tetap bersinar saat aku berusaha meraihnya.
Terima kasih untuk pelajaran hari ini, adikku yang manja. Pelajaran tentang mimpi yang kau punya. Jejak yang kau tinggalkan, telah membekas, di hatiku….
P. Sidimpuan, 9 Agustus 2012 pukul 01.18
Sabtu, 15 September 2012
Cerita Sekeping Hati
Langit mendung malam ini mengguratkan gumpalan awan tebal di wajahku.
“Tidak bisakah kesalahan itu diperbaiki?” tanyaku, lagi, untuk yang ke sekian kali di sore itu.
Dia tidak bergeming. Tidak memandangku sedikitpun.
“Hari telah sore. Sebentar lagi hujan turun. Pulanglah.” ujarnya, dan berbalik.
“Telah adakah yang menggantikanku?” tanyaku, mendesak.
“Kelak, kau akan tahu jawabannya. Jangan memaksaku sekarang. Pulanglah.”
Aku terdiam. Hujan di sore itu, semakin membasahi hatiku yang lara…
***
Sembilan tahun yang panjang. Aku berusaha menanti, sebuah ketidakpastian yang benar-benar sangat melelahkan. Semua penantian ini, sangat tak wajar kurasa. Terlalu sering aku memintanya memutuskan hubungan tidak jelas ini. Tapi tatapan itu, sungguh tak kuasa untuk kutolak.
“Hanya kau yang mampu mengerti aku.” Begitu selalu yang dia ucapkan.
Aku mengenalnya sejak di bangku SMP. Aku tahu dia laki-laki yang baik, sopan, dan periang. Tapi aku tidak pernah tahu, hatinya sering diliputi kegalauan, tentang seseorang yang mampu memahaminya.
Aku tidak pernah berharap menempati posisi di hatinya waktu itu. Sama sekali tidak pernah. Walau kuakui, aku menyukainya. Semua itu sanggup kusimpan dalam diam, dalam bungkam.
Diam-diam menatapnya, itu lebih dari cukup buatku. Aku tidak pernah mengharapkan lebih dari itu. Sampai perpisahan terjadi. Aku kehilangan semua kesempatan untuk menatapnya dalam diamku, yang ternyata mencemaskanku. Hingga, kesalahan itu pun terjadi, aku menyampaikan perasaanku. Hal terbodoh yang pernah kulakukan kala itu.
Aku tidak berharap dia membalas perasaanku, karena bagiku, dia tahu, itu sudah cukup membuatku baik-baik saja. Tapi semua terjadi di luar dugaanku. Dia menerima hatiku. Meminta lebih dari yang kukira. Ahh, aku tidak sanggup menolak meski nuraniku mengatakan tidak. Bingung menderaku.***
“Siapa yang tidak tahu kisah Romeo dan Juliet? Sebuah kisah cinta yang begitu menakjubkan. Tapi kau pasti tidak akan mengenal Gabriella bukan? Orang-orang mengira bahwa Juliet adalah cinta pertama Romeo. Siapa mengira bahwa bukan Juliet cinta pertama dari Romeo? Juliet telah memikat hati Romeo saat Romeo memimpin pasukan ke sebuah wilayah perang, tidak lagi pernah kembali. Dan tinggallah Gabriella dalam kesendirian. Cinta pertama dengan Gabriella pun berakhir. Mengapa cinta Romeo begitu sembrono, Xin?”
Dalam kamarku yang temaram, aku tenggelam menyaksikan sebuah drama Korea berjudul Princess Hours itu. Mataku nanar mendengar dialog itu diucapkan oleh seorang wanita pada prianya yang telah memilih orang lain, dan melupakannya. Tanpa terasa, airmataku menetes, menangis dalam diam. Terkenang akan diriku yang sepertinya akan mengalami nasib seperti Gabriella. Cinta pertama yang terlupakan.
Ya, dia adalah cinta pertamaku. Dan sejak dia meminta kesediaanku untuk menunggunya kembali, aku menyimpan harapan dalam hatiku, semoga dia juga menjadi cinta terakhirku.
“Aku tidak mudah menyukai seorang perempuan. Jika kukatakan, aku menyukainya, sampai kapanpun, aku tidak akan pernah rela melepaskannya.”
Janji pertama yang dia ucapkan. Kalimat yang mampu membuatku berbunga-bunga. Aku bahkan belum mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Namun yang kutahu, tidak ada dalam hatiku hendak bermain-main dengan panah asmara itu. Jikapun aku mengiyakan, aku hanya tidak ingin dia menganggapku suka mempermainkan orang lain. Aku menyukainya. Itu kuakui. Namun menjalani hubungan yang tidak jelas itu, sebenarnya sangat tidak kuinginkan.
Tahun-tahun berlalu. Aku mulai bisa meraba hatinya. Hati yang dia katakan tidak ada yang sanggup mengerti. Hati itu, mirip sekali dengan hatiku. Hati yang tidak ingin dibagi dengan orang lain. Hati yang setia. Hati yang hanya ingin diisi oleh satu nama.
Meski hubungan ini hanya bermuara lewat udara, karena sejak itu, kami telah dipisahkan oleh jarak, dan aku menyanggupi untuk menunggunya kembali, hubungan ini bisa bertahan lama.
Aku bisa merasakan, dia berusaha teguh memegang janjinya. Tidak rela melepaskanku sampai kapanpun. Tahun yang telah terlewati juga membuatku menjadi menyayanginya. Tidak ada masalah yang berarti selama hubungan jarak jauh itu. Justru masalahnya bermula sejak kami bertemu dan berada dalam kota yang sama.
***
Kami bertemu kembali setelah masing-masing dari kami telah memasuki dunia kampus. Walau berusaha keras untuk kuredam, rindu padanya semakin hari terasa semakin menyesakkanku. Rindu dendam yang telah sekian lama dipendam terobati seketika setelah pertemuan. Ya, pertemuan yang (sebenarnya) kudamba.
Sosoknya berubah banyak di mataku. Tentu saja jauh berbeda dibandingkan saat masih umur belasan. Dia tumbuh menjadi pria tangguh, kekar, dan tampak gagah dengan lengan yang sedikit berotot. Dia menjadi pria dewasa yang menawan bagiku.
Kebersamaan itu, awalnya manis. Aku kagum padanya yang berusaha mengerti keadaanku. Tidak ada kesan memaksa dari perkataan ataupun perbuatannya. Semua itu membuatku nyaman. Pertemuan demi pertemuan bukannya membuatku tidak lagi merasakan rindu. Hebatnya, rindu itu bertambah dari hari ke hari, meski kerapkali kami bertemu.
Entah fase apalagi yang kualami saat itu. Perasaan tidak enak dahulu itu, kuakui tetap ada, tapi kenyamanan di dekatnya juga menjadikanku tidak memedulikan perasaan itu.
Kukira, semua moment itu akan lama berlangsung. Tetapi perkiraanku salah. Untuk pertemuan yang ke sekian, dia mulai membuat sebuah peraturan denganku. Peraturan yang mengekang kebebasanku. Peraturan yang dengan sendirinya ada, hanya karena sebuah celetukan yang terlontar tanpa tersadar. Membuatku harus berbuat sedikit lebih hati-hati, untuk menjaga perasaannya.
Ah, terkadang muncul anggapan dalam diriku, siapakah aku ini sebenarnya? Tidak ada ikatan sah yang membuatku harus memerhatikannya. Tapi kini, aku harus melakukan itu. Hanya untuk menjaga hatinya. Tapi hatiku?
Sebal akan semua peraturan itu, aku sering melontarkan putusan tajam ke arahnya. Baiknya, hubungan ini diakhiri saja. Ya. Aku lelah. Harus menjaga perasaan seseorang yang belum tentu akan menjadikanku pendamping hidupnya, walau ia telah berjanji. Namun janji itu, masih hanya janji antara kami berdua. Tidak ada pihak keluarga di sana. Bahkan tidak ada hukum atau norma yang kuat agar janji itu tidak diingkari. Itu hanya keinginan dua hati yang ingin bersama, kelak. Belum putusan bulat yang harus dijaga.
Dia, dengan sendu akan menatapku. “Tolong jangan pergi, aku tak bisa tanpamu.”
Dan, lagi-lagi aku selalu luruh dengan wajah penuh harap itu.***
Aku sendiri bingung dengan diriku. Aku ingin, tapi tak ingin. Begitulah yang kurasa. Aku menginginkannya Ya. Tapi, aku tidak ingin menjalani hubungan seperti ini dengannya. Bagiku, baiknya berteman saja, tapi buatnya, lebih dari berteman akan menjadikannya bahagia. Hari itu, aku pun menyadari, betapa pelik urusan hati, urusan perasaan, urusan cinta terhadap pasangan.
Aku juga ingin melihatnya bahagia. Aku telah menjalani hari-hari setelah hubungan ini bermula. Tetap saja, bisikan nurani itu terus terdengar. Aku selalu merasa bersalah ketika nurani tidak jua kudengarkan. Pada akhirnya, dalam tidak sadarku, aku terlalu sering juga menyakiti perasaannya. Berkali-kali aku minta agar hubungan ini diakhiri. Dan berkali-kali pula dia menolak. Serta berkali-kali juga aku luluh dan mengalah.
Sampai pada suatu saat ketika dia mencapai titik jenuh akan permintaan itu, di kesempatan terakhir dia mengabulkan permintaanku. Awalnya, kukira aku akan baik-baik saja. Karena sesungguhnya, aku telah terlalu terbiasa dengannya. Telah sangat terbiasa dengan merindukannya, rindu yang pasti akan menghadirkannya di hadapku.
Ternyata aku salah. Aku tidak dengan serta merta merasa baik. Ada rasa bersalah yang mendera. Apakah aku keterlaluan? Apakah dia merasa aku telah mempermainkannya? Beragam pertanyaan memenuhi otakku.
“Aku telah menyukai orang lain.”
Airmataku tumpah setelah mendengarnya mengucapkan kalimat itu. Dia benar-benar mengakhiri hubungan yang telah lama terajut dalam ketidakpastian ini. Aku tak percaya dengan semua itu. Semudah inikah? Setelah sekian lama?
Meskipun aku yang meminta, pemutusan hubungan ini ternyata menyakitkan. Berhari-hari aku dirundung duka. Pedih menimbulkan luka di hatiku. Aku benar-benar tidak percaya. Aku takkan percaya sampai aku menemuinya dan dia mengatakan sendiri padaku.
***
Sore itu, di sebuah restoran, aku duduk berhadapan dengannya. Ada rasa canggung yang tiba-tiba menyergap. Sore itu berbeda, meskipun sebelumnya, aku dan dia telah terbiasa duduk berdua menikmati wisata kuliner di setiap sudut kota. Kali ini, memang berbeda dari yang biasa.
“Benarkah semua ini telah berakhir?” tanyaku setelah sekian lama kami sama-sama bungkam.
“Bukankah kau yang meminta.”
Aku terdiam.
“Janji itu, masih kau ingatkah?”
Dia menghela nafas. “Aku telah melupakannya.”
Wajahku kian pias. Lahar panas serasa menjalar di pelupuk mataku. “Aku mengaku bersalah padamu. Kau pria yang baik.”
Aku menghela nafas, berat. “Masih bisakah kesalahan ini diperbaiki?” Aku menatapnya penuh harap. Seperti tatapannya dahulu. Tatapan yang selalu meluluhkan hatiku.
Dia bungkam. Mengalihkan matanya dari pandanganku.
“Tiap manusia pasti mempunyai catatan kesalahan. Bukankah sebuah kesalahan masih bisa diperbaiki?”
“Sudahlah. Aku telah melupakannya.”
“Tidak bisakah kesalahan itu diperbaiki?” tanyaku, lagi, untuk yang ke sekian kali di sore itu.
Dia bergeming. Tidak memandangku sedikitpun.
“Hari telah sore. Sebentar lagi hujan turun. Pulanglah.” ujarnya, dan berbalik.
“Telah adakah yang menggantikanku?” tanyaku, mendesak.
“Kelak, kau akan tahu jawabannya. Jangan memaksaku untuk menjawabnya sekarang. Pulanglah.”
Aku terdiam.
“Telah adakah yang menggantikan posisiku?” tanyaku, lirih.
Perlahan kepala itu mengangguk. “Aku telah terlanjur menyukai orang lain.”
“Aku pernah bilang padamu, aku tidak mudah menyukai seorang perempuan.” Ujarnya lagi. “Jika aku telah menyukainya, sampai kapanpun tidak akan pernah kulepaskan. Hari ini, hatiku telah berpaling. Aku telah menyukai orang lain. Maaf.”
Aku tidak lagi ingin meneruskan percakapan itu. Pengakuannya telah cukup membuat hatiku teriris. Kukira dia berbohong, hanya ingin menakut-nakutiku. Tapi setelah mendengar pengakuan itu, kurasa tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Tidak ada kebohongan dari tatapannya, juga tidak ada gurauan dari ucapannya. Semuanya sangat jelas. Aku, telah menjadi masa lalu.
Hujan yang turun di sore itu, semakin membasahi hatiku yang lara....
***
“Maaf, aku harus pulang.”
Aku berlari mendapati hujan. Meninggalkannya yang berteriak menahanku. Mengingatkanku agar menunggu hujan reda. Aku tidak lagi memedulikan semua itu. Rasa sakit atas sebuah pengakuan pahit membuatku tidak ingin berfikir panjang selain segera berlalu dari hadapannya.
Ahh. Jadi selama ini hanya karena tidak ada yang lain. Hanya karena baru aku yang dia kenal. Baru aku yang menjadi pelipur laranya. Setelah dia mendapati yang baru, semua itu ternyata dapat dengan mudah dilupakan.
Ternyata, aku salah. Harusnya aku lebih mendengarkan nuraniku. Harusnya aku lebih mementingkan hatiku. Lebih menjaga hatiku daripada memikirkan perasaan orang lain, yang belum tentu memikirkanku. Harusnya aku memang tidak perlu bermain api cinta, sebab aku pasti bisa terbakar dalam kobarannya. Harusnya aku....
***
Langit mendung malam ini mengguratkan gumpalan awan tebal di wajahku.
Telah kemana cinta itu pergi? Tidakkah berarti semua penantian ini? Mengapa kau begitu tega? Beginikah akhir dari penantian panjang ini? Jika harus berakhir seperti ini, aku tidak ingin pernah bangun dari mimpi panjang tentang pertemuan indah denganmu. Aku ingin terus berada di dunia mimpi agar aku tidak perlu tahu betapa menyedihkan kenyataan yang kuhadapi hari ini. Benarkah kesalahan itu tidak lagi dapat diperbaiki hingga posisiku benar-benar telah terganti? Aku tidak pernah memberi tempat terindah ini buat orang lain selain dirimu. Tidak sedikitpun. Tapi, biarlah. Biarlah kuterima semua itu. Biarlah aku pergi. Membawa duka ini. Membawa hati yang kini tersakiti. Aku rela meskipun kau benar-benar harus pergi dari hatiku.
Meski penantian ini, tidak berakhir manis, darinya aku banyak belajar. Tentang sebuah keikhlasan. Ikhlas melepaskan kepergiannya, mampu membuatku lebih tegar. Tentang kata mencintai. Aku tidak boleh terlalu mencintai seorang insan, aku tidak boleh berharap banyak pada insan sebab nantinya kecewa lah yang kutemui.
Aku menyadari sekarang, bukan kartena lamanya bilangan yang telah terlewat akan menjadikan hubungan semakin kuat. Ada yang lebih penting dari itu. Pondasi atas hubungan yang dibina. Jika pondasinya tidak kuat, tentu akan roboh juga.
Mungkin dia memang bukan yang terbaik untukku. Mungkin Tuhan punya rencana lain yang lebih indah buatku. Atau mungkin Tuhan ingin mengingatkanku agar tidak menyiakan nurani, agar lebih tegas dalam masalah hati. Dia ingin agar urusan hatiku, selalu kuserahkan padaNya, sebab Dia lah yang punya kuasa penuh untuk membolak-baliknya.
Hati, meski kita merasa memiliki, sesungguhnya bukan milik kita seutuhnya. Tidak ingin lagi kusia-siakan hatiku. Biarlah kujaga tanpa harus disentuh lagi, sampai Tuhan mengirimkan seseorang untuk menjemputnya dalam bingkai yang Dia restui. Pada watu dan saat yang indah...
Bila yang tertulis olehNya engkau yang terpilih untukku
Telah terbuka hati ini menyambut cintamu....
Rabu, 12 September 2012
Kaka Kecil dari Sudut Kota
Suara itu tidak asing terdengar di telingaku. Mungil, penuh semangat dan berteriak lantang. “Tendangan Macan Ngamuk” sebutnya meniru ucapan dari pemain kesayangannya dari sebuah sinetron di salah satu stasiun TV swasta tentang kegiatan anak-anak yang menyukai bola. Suara mungilnya berasal dari lapangan di depan rumah. Kuperhatikan dia dari dalam rumah. Dia sedang memasang kuda-kuda, bersiap hendak menyepak bola yang ukurannya jauh lebih besar dari bentuk kaki kecilnya. Mata beningnya menatap tajam ke lawan mainnya, tangannya menyilang berbentuk X yang kemudian dia lepaskan ke sisi kanan kirinya dan kaki itu bergerak cepat menendang benda bundar berwarna putih memudar di hadapannya yang melesat kencang melampaui penjaga gawang. Kiper berbaju coklat, bermata bulat dan berbadan lebih besar darinya mencoba menangkap bola yang melaju pesat ke arahnya. Wuss. Dia hanya menangkap angin dan bola tersebut jatuh ke dalam gawang yang dijaganya.
“Gooool. Lima kosong.” seru si bocah berumur tiga tahun yang tadi menendang bola dengan riang sembari berputa-putar mengitari tempat dia berdiri dengan sorot mata senang luar biasa.
Anak di depannya menggaruk-garuk kepalanya. “Kan baru satu kosong, Rago. Kenapa bilang lima kosong?” seru Hiro sedikit kesal melihat tingkah Rago.
“Oh, satu kosooong.” Rago membulatkan bibirnya dan menatap jenaka pada Hiro.
Aku tersenyum melihat reaksi Rago, keponakanku. Dia selalu mengatakan lima kosong jika berhasil memasukkan bola ke gawang lawan meskipun itu untuk yang pertama kali. Refleks dia menyebutkan angka itu meskipun dia belum mengenal angka dengan baik.
Aku kagum melihat tendangannya. Anak sekecil itu mampu menendang bola dengan sangat keras tanpa merasa kesakitan sedikitpun. Aku jadi teringat sebuah video dari acara On The Spot tentang seorang bayi berumur sekitar satu tahun yang telah menandatangani sebuah kontrak dengan klub terkenal karena kelihaiannya berkali-kali memasukkan bola ke dalam sebuah kotak tanpa pernah terpeleset sekalipun. Atau seorang anak berusia lebih kurang tujuh tahun telah direkrut menjadi pemain Nasional karena kepandaiannya memainkan bola tanpa pernah terjatuh dari kakinya sampai permainan itu dia hentikan. “Anak-anak ajaib” fikirku.
Rago memang sangat menyukai bola. Sejak dia pandai berdiri dan mengenal bola, dia sangat tertarik untuk memainkannya. Bola dengan berbagai ukuran mampu dia kuasai dengan baik. Tendangannya itu, memukau dalam pandanganku. Pernah suatu kali, bola yang ada di rumah adalah bola kecil dari bahan plastik. Dia melemparkan bola itu ke udara dan secepat kilat kakinya menangkap gerakan bola tersebut dan menendangnya tepat ke sudut rumah. Bola kecil itu seperti telah dihipnotis agar jatuh tepat dia atas kaki mungilnya yang kemudian terpental ke sudut rumah. Hebat. Batinku.
Jika dia ada, seluruh rumah disulapnya menjadi lapangan hijau itu. Semua orang rumah, tidak ada yang kuasa menolak jika dia meminta untuk menemaninya bermain bola. Meskipun meja dan kursi yang ada di ruang tamu membentang besar di hadapannya, dia tidak akan surut karena halangan itu. Dia malah menyuruh untuk menyingkirkannya dengan menyusunnya melekat ke dinding rumah agar dia leluasa bermain. Begitu banyak ide yang dia munculkan agar keinginannya tersebut terpenuhi.
“Gesel la Bou mejanya. Lago mau main bola.” rengeknya padaku yang berpura-pura enggan melakukannya. Bou adalah panggilannya untukku karena aku merupakan adik perempuan ayahnya. Rago adalah anak pertama abangku.
“Rago harus mencium pipi Bou dulu. Baru Bou mau.”
“Ah, Lago nggak mau. Bou bau.”
“Ya, sudah. Nggak mau Bou gesernya.”
“Mau la.” pintanya, kekeuh.
Suara cadelnya membuatku tidak tahan ingin menimpukinya dengan ciumanku. Kucium pipinya beberapa kali dengan gemesnya. Sampai-sampai pipinya terlihat penyot karena ulahku. Dia hanya tertawa. Setelah puas, baru aku memenuhi permintaannya. Dia tersenyum senang.
“Bilang apa sama Bou?”
“Makacih Bou.” ujarnya.
Setelah aku meminggirkan benda-benda tersebut, aku berlalu darinya.
“Bou mau kemana?”
“Bou mau memasak makan malam Rago dulu.”
“Nggak usahlah masak Bou. Main aja la kita.”
Aku tertawa mendengar permintaannya. “Rago main sama Uda Rizal aja ya. Tunggu sebentar, biar Bou panggil Uda Rizal.”
“Lago itut manggil Uda Lizal.” Rago mengikutiku dengan langkah imutnya. Uda adalah panggilan untuk saudara laki-laki ayah.
“Rizaaal….” teriakku.
“Lizaaal….” dia meniruku.
“Uda Rizaaal….” aku membetulkan ucapanku. Aku tersadar, anak-anak sangat suka meniru yang kita lakukan. Jika berada di sampingnya kudu hati-hati mengeluarkan kata-kata. Sangat berbahaya jika dia mendnegar perkataan yang kurang baik. Bisa-bisa ditirukannya berulang-ulang. Kan bahaya?
“Uda Lizaaal…” panggilnya kemudian.
Celoteh-celoteh ringannya dan teriakan-teriakan senangnya masih mampir di telingaku selama dia bermain di lapangan bola buatan berukuran 10 x 4,5 meter itu.
Meskipun telah seharian bermain, tidak tampak lelah di wajahnya. Sampai malam, dia masih sanggup berlari-lari, masih sanggup terus bermain bola. Permainannya itu terhenti hanya karena haus, atau lapar, atau mandi, atau telah menonton acara kesayangannya, atau telah tidur. Terkadang agar dia tertidur lelap, dia harus tidur ditemani bola kesayangannya.
“Rago, tendangan si Madun.” ucap Rizal mengingatkannya akan siaran kesenangannya itu. Rago pun bersegera duduk manis di depan televisi, tanpa melupakan bolanya. Saat soundtrack dari sinetron itu diputar, dia pun akan ikut bernyanyi riang.
Indonesia….
Indonesia…
Itu namaku tanah airku
Nomongin bola, Lago jagonya
Kalo nggak pelcaya, liat aje
Dia bernyanyi penuh semangat dengan lirik sedikit meleset dari aslinya, terkadang tidak jelas yang disebutkannya. Matanya tidak akan berkedip dari tayangan itu. Dia sepertinya sedang merekam setiap kejadian yang dilihatnya dalam memorinya. Begitu jeda tayang, dia akan berdiri dan menyiapkan bolanya. Maka dia akan menyebutkan salah satu jurus yang baru saja didengarnya dan memperagakan sebuah tendangan seperti gaya salah satu pemeran yang baru saja dilihatnya.
“Tendangan asal-asalan.” ucapnya menirukan pemeran berbadan tambun dalam sinetron itu. Meskipun tendangan tersebut dimaksudkan asal-asalan, namun tetap mengenai sasaran. Maka bola yang ditendangnya akan nyasar di kolong meja. Dia tersenyum setelah melakukan tendangan itu dan menatap kami satu persatu. Tatapan dan tingkahnya itu membuat kami serempak tertawa dan dia pun ikut tertawa bersama kami dengan menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya pertanda malu. Ciuman pun bertubi-tubi mengenai pipi mungilnya yang menyiratkan kesenangan tidak terhingga itu….
Sejumput asa di balik derita
“Kamu masih belum mengerti yang Bapak maksudkan?” tanya pria separuh baya yang menjadi dosen pembimbingku itu dengan nada mulai kesal. Selama beberapa perkuliahan, aku telah mengenal pribadi dari sosok tersebut, berjiwa fair, tidak gampang marah, dan selalu bersikap positif. Tetapi, melihat kedunguanku, kesabarannya menipis.
“Jika setelah bimbingan hari ini, kamu masih belum juga mengerti, aku akan mengundurkan diri menjadi dosen pembimbing buatmu. Mungkin aku yang tidak berhasil membimbingmu sehingga sampai hari ini, kamu belum juga tahu harus menuliskan apa? Harus membahas apa? Harus membuat skripsimu ini menjadi seperti apa? Kamu harus ingat target yang telah kamu buat. Kalau bagi saya, tidak masalah mau sampai kapanpun kamu di universitas ini. tapi fikirkan orangtuamu. Orangtua yang membiayaimu.” ucapnya menutup bimbingan hari itu.
Ya. Ucapan dosenku itu memang benar. Aku yang ingin segera wisuda di awal bulan Agustus 2009 ini. Tiga bulan yang kurencanakan untuk menindaklanjuti proposalku menjadi skripsi belum berjalan sempurna. Bulan kedua telah mulai habis, sementara aku masih tertatih-tatih mengenai pembahasan skripsi yang kubuat sendiri. Airmataku mulai menitik. Kenapa kali ini begitu bodoh sampai dosen pembimbingku merasa harus mengundurkan diri?
***
Skripsi adalah momok bagi mahasiswa. Itu yang kubaca pada sebuah buku pedoman menulis skripsi yang direkomendasikan oleh dosen mata kuliah seminar bahasa dan sastra. Hal itu berlaku juga bagiku, seorang mahasiswa yang jarang sekali menulis dan melakukan penelitian. Tetapi, aku juga menemukan hal baik lain dari buku itu yang menyebutkan bahwa mahasiswa tidak perlu takut dengan yang namanya skripsi. Skripsi adalah sebuah latihan untuk mahasiswa melakukan penelitian yang sesungguhnya.
Sebenarnya aku masih terbata-bata saat judul proposal yang kuajukan diterima pihak jurusan. Aku belum terlalu mengerti hendak meneliti apa. Namun kemudian, kuyakinkan diriku, sembari belajar, sembari berjalan, aku pasti mulai mengerti seluk beluk penelitianku nanti.
Ketika menyusun draft proposal dari latar belakang hingga rumusan masalah, aku masih dengan lancar bisa menganalisanya. Tetapi saat berjibaku dengan teori, aku mulai linglung. Apa maksud teori di sini? Telah berulangkali dosen pembimbingku menjelaskan. Berulangkali juga aku mengangguk mengerti saat dia jelaskan, namun segera buyar saat aku akan menuliskannya dan mencari bahan yang kuinginkan. Literatur-literatur berkenaan dengan bahasa Arab, jurusanku, sangat langka kutemukan. Aku tidak membahas perihal yang telah sering muncul dalam skripsi senior-seniorku. Membahas tentang fi’il (predikat), fa’il (subyek) atau maf’ul bih (objek) hanya dengan objek suroh yang berbeda namun menggunakan teori yang sama. Ada 114 suroh dalam Al-Quran. Dan akan ada 114 judul skripsi yang bisa diajukan meskipun teori yang dipergunakan sama, dari orang yang sama. (Dalam bahasa Arab, terkadang subyek atau pelaku suatu pekerjaan tidak langsung kita temukan dalam kalimat tersebut, tetapi subyek berada pada kalimat lain. Permasalahan seperti itu banyak ditemui dalam Al-Qur’an sehingga meskipun dengan judul yang sama, para peneliti masih tertarik untuk membahasnya. Itulah salah satu keunikan bahasa Arab). Aku ingin yang sedikit berbeda. Setidaknya, perbedaan itu menambah nilai plus dalam penelitianku. Itu yang ada dalam fikiranku. Tetapi, aku melupakan masalah yang mungkin bisa menghambatku segera menyelesaikan skripsiku tersebut. Perihal teori yang sering menjadi kebingungan buat mahasiswa yang masih begitu awam, sepertiku saat itu.
Akhirnya, kutemukan juga teori yang akan membahas objek penelitianku walaupun aku harus terseok-seok. Seminar proposal untuk judulku pun digelar. April 2009. Aku lupa tanggalnya. Presentasi proposalku berjalan mulus. Ketua jurusan yang merupakan salah satu pengujiku mengatakan bahwa jarang mahasiswa yang berani menampilkan permasalahan seperti yang kuajukan. “Objek penelitianmu ini merupakan salah satu bukti keadilan pada masa Rasulullah. Silahkan lanjutkan penelitianmu dan kerjakan skripsimu dengan sempurna. Jangan mengecewakan kami.” begitu kira-kira isi pesan yang dia sampaikan di sesi terakhir seminar proposalku.
Aku gembira mendengar komentar ketua jurusan tersebut. Aku semakin semangat melanjutkan penelitianku. Penelitian yang kulakukan adalah penelitian kepustakaan atau bahasa kerennya library research bukan penelitian lapangan sebab itu tidak bisa kulakukan. Permasalahan yang coba kubahas adalah benda saksi sejarah 14 abad silam, pengaruhnya pada masa itu. Aku tidak mungkin kembali pada masa silam karena masa silam adalah masa yang sangat jauh, tidak akan mungkin bisa diulangi. Aku hanya melakukan literasi dari buku-buku. mencari perhubungan dari sumber yang satu dengan sumber yang lain. Beberapa sumber yang kudapat tidak pernah bertentangan. Masih menyebutkan hal serupa. Oleh karena itu, kusimpulkan buku-buku tersebut bisa dijadikan sumber acuan untuk penelitianku.
Bab I bisa kuselesaikan dengan baik. Ketika memasuki bab II, masalah mulai muncul. Aku tersandung dengan teori yang bisa membahas tentang objek penelitianku. Pada seminar proposal, aku telah mempunyai gambaran tentang penelitian lanjutan dari skripsiku. Tetapi saat menuliskan bab yang berisi tentang teori pembahasan, aku mulai kelimpungan. Kucoba tetap bertahan pada teori yang kubuat pada proposal. Semakin kupertahankan, isinya semakin semrawut dan tidak jelas arah tujuannya. Aku mulai panik. Waktu terus berjalan. Waktu wisuda semakin dekat. Tetapi permasalahannya belum kunjung menemukan solusi. Sampai akhirnya dosen pembimbingku mengeluarkan kata-kata yang membuatku semakin frustasi. Kenapa ketololan ini berlanjut?
Aku mengutuk diriku atas kejadian tersebut. Aku tentu tidak mau hal itu terjadi. Bukannya menyelesaikan persoalan, hal itu tentu akan menambah runyam dan menjadikan penelitianku yang telah berjalan setengah semakin lama karena ketidaksamaan visi. Hal itu juga tentu akan memperburuk citraku di mata para dosen.
Frustasi yang kurasa membuatku diam. Diam. Tidak menyentuh skripsiku. Bahkan memikirkannya pun aku enggan. Sampai beberapa hari, aku keluar dari zona bernama skripsi. Setelah aku merasa cukup untuk menenangkan diri, aku mencoba membaca ulang proposal, draft skripsi dan buku-buku yang menjadi bahan acuanku. Aku sudah pasrah tidak mengikuti wisuda yang akan berlangsung tiga hari lagi. Kuikhlaskan diriku. Mungkin ini jalan terbaik. Mungkin ada hikmah yang bisa kupetik, mekipun aku belum tahu sekarang. Nanti pasti kutemukan jawabannya.
Di sela-sela membaca buku-buku tersebut aku menemukan ide. Ide yang sedikit bertentangan dengan isi proposalku. Setelah merevisi ulang bab II skripsiku, aku beranikan diri untuk janji bertemu dosen pembimbingku buat bimbingan lanjutan. Dia menanyakan, apakah aku benar-benar menemukan jawabannya? Insya Allah Pak. Jawabku, setengah tak yakin.
Di hari wisuda yang tak menjadi milikku, aku sedang mendiskusikan jalan keluar untuk menyelamatkan skripsiku yang meregang nyawa. Setelah kutunjukkan hasil penemuanku, dosen pembimbingku menyetujuinya meskipun untuk itu aku harus merevisi ulang skripsiku dari bab pertama. Dia berjanji akan membantuku jika pada saat ujian aku terbentur masalah karena perubahan ini. kuucap syukur pada Sang Kuasa karena telah membukakan pintu hatiku juga pintu hati dosen pembimbingku yang begitu baik hati.
Selesai bimbingan, aku menyempatkan menghadiri wisuda beberapa teman meskipun aku merasa kegalauan yang mengganjal di hatiku. Saat melihat mereka keluar dari auditorium dengan toga yang menjadi kebanggan itu, airmataku menitik, menitik ke dalam lubuk hatiku. Ada sesal yang mendera. Ada duka yang menyergap. Harusnya aku ikut berpakaian sama dengan mereka. Tuhan tentu sangat tahu isi hatiku. Di saat hatiku begitu hancur bak kapal karam, aku menerima pesan singkat dari ibu. Bou Hafni, kapan pulang? Bou adalah panggilan untuk saudara perempuan ayah. Mengapa ibu menyebut aku dengan Bou? Beberapa saat aku termenung. Akhirnya aku terlonjak kegirangan. Keponakanku telah lahir. Subhanallah. Ternyata keponakanku yang tidak mengizinkanku untuk wisuda hari ini. Dia akan mendatangi bumi ini di hari wisuda yang ditetapkan oleh universitas tempatku mengecap pendidikan. Subhanallah. Maha suci Allah. Inilah hikmah yang kudapat dari musibah yang menimpaku kala itu. Seandainya aku turut berpakaian toga seperti mereka yang anniversary hari ini, tentunya ibu akan berada di sampingku. Siapa yang akan membantu persalinan kakak iparku? Siapa yang akan mengurus keponakanku setelah kelahirannya saat ibunya masih begitu lemah? Subhanallah.
SMS dari ibu membuatku kembali semangat. Semangat mengerjakan skripsiku agar aku bisa pulang dan menemui keponakanku yang telah mengobati sakit hatiku.
Setelah menemui jawaban dari persoalanku, aku kembali dengan tekun mengerjakan bab demi bab skripsiku. Telah hampir selesai seluruh bab kukerjakan. Aku tinggal mengedit dan meminta tanda tangan dosen pembimbing ketika aku terbentur masalah, lagi. Aku harus ikut registrasi untuk semester berikutnya. Sementara aku tinggal mendaftar untuk sidang. Registrasi berarti membayar SPP lagi. Meskipun SPP kami tidak termasuk mahal, tetapi bagiku dengan keuangan pas-pasan, uang tersebut masih sangat berarti. Hanya karena aku sedikit terlambat, haruskah aku membayar SPP lagi? Adakah keringanan buat mahasiswa dengan problema sepertiku?
Aku berupaya mencari informasi tentang keringanan tersebut. Ternyata ada dan aku tidak sendirian. Urusannya sedikit rumit. Aku harus bolak-balik ke kampus hanya untuk memastikan surat dari jurusan keluar yang menyatakan bahwa aku tinggal menunggu sidang. Belum lagi tanda tangan ketua jurusan yang tidak segera bisa kudapat karena kehadirannya yang jarang di kampus disebabkan kesibukannya di luar kampus. Aku terus menyabarkan diriku. Aku yang membutuhkan mereka. Aku harus lebih banyak bersabar meskipun diperlakukan seperti ayam panggang, dibolak-balik hingga terkadang gosong.
Dengan kesabaran luar biasa, aku mendapat keringanan tersebut dan tidak perlu membayar SPP untuk semester berikutnya walaupun aku wisuda setelah masuk semester selanjutnya. Alhamdulillah. Terimakasih Allah, Engkau masih menolongku.
Aku sidang bertepatan di bulan Ramadhan. Aku diuji di ruangan sidang dan shaumku juga diuji di ruangan yang sama. Sebelum memasuki ruangan sidang, jantungku berdetak tak menentu. Kutenangkan hatiku dengan doa-doa untuk melapangkan hati, dengan bacaan Al-Fatihah dan Al-Insyirah. Semoga Tuhan memberiku kelapangan. Kuberitahu juga ibu bahwa giliranku akan segera tiba. Aku memohon doa darinya, doa mustajab dari seorang ibu.
Saat namaku dipanggil untuk memasuki ruangan sidang, dadaku bergemuruh semakin kencang. Kutatap wajah-wajah dosen pengujiku. Kulihat mereka tersenyum dan menyuruhku mempresentasikan hasil penelitian skripsiku. Dengan membaca basmalah, kumulai presentasiku. Ajaib, sepersekian detik kemudian, rasa takut itu hilang. Berganti kelancaran dalam mempresentasikan skripsiku. Pada sesi tanya jawab, aku juga bisa menjawabnya dengan tenang. Ketika seorang dosen penguji menanyakan perubahan pada skripsiku yang tidak ada dalam proposalku, aku terdiam sejenak. Haruskah mengatakan yang sesungguhnya? Dalam berfikir demikian, dosen pembimbingku berujar dan mengatakan bahwa hal itu atas rekomendasi darinya. Dosen lain mengangguk. Tidak ada yang mempersoalkannya. Alhamdulillah. Sampai akhir sidang, aku masih sanggup menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Alhamdulillah.
Aku lulus dengan hasil yang memuaskan dan siang itu aku resmi bergelar sarjana sastra. Setiap perjuangan pasti akan membuahkan hasil. Awalnya, aku menyangka penulisan skripsiku akan berjalan dengan mulus. Tidak akan ada cerita sedih seperti kisah teman-teman lain yang mendapatkan dosen pembimbing killer, atau susah ditemui, atau karakternya jauh berbeda dengan dosen pembimbingku. Aku mengambil hikmah dari peristiwa tersebut bahwa perjuangan itu akan lebih terasa jika rintangan yang dihadapi bisa dilewati dengan baik. Tidak dinamakan perjuangan jika tidak menemui rintangan.
Pada 26 Oktober 2009 aku mengikuti wisuda periode berikutnya. Alhamdulillah. Aku semakin yakin dengan keadilan Tuhan. Betapa dia tidak pernah menzhalimi hambaNya dan hanya menyerahkan urusan yang sanggup untuk dipikul hambaNya. Sesungguhnya di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Inna ma’al ‘usri yusro….
Minggu, 29 Juli 2012
Salju turun di rumah
“Bou, yang putih-putih itu namanya apa?” tanya Ari, keponakanku yang sudah berumur dua tahun saat melihat tayangan televisi. Bou adalah panggilan untuk saudara perempuan ayah warga Batak Mandailing yang banyak tinggal di daerah Sumatera Utara.
“Itu salju, iya kan Uda?” jawabku sembari menanya kepastian pada Rago, adik bungsuku yang terpaut 7 tahun dengan Ari, keponakannya. Uda adalah panggilan untuk saudara laki-laki ayah.
“Iya. Itu namanya salju. Salju turun seperti hujan, tetapi berwarna putih.” terang Rago. Meskipun Rago telah duduk di kelas IV SD, tetapi pembawaannya masih seperti anak berumur lima tahun. Mereka berdua sangat akrab. Jika salah seorang tidak kelihatan, maka yang lain akan mencari. Atau jika Ari pulang ke rumahnya di Rantau, Rago akan sangat merindukannya. Demikian juga Ari, dia akan selalu bertanya pada ibunya keberadaan Rago. Oleh karena itu, Ari sering berkunjung ke rumah. Seperti kali ini.
“Apa salju tuyun di cini Bou?” tanya Ari dengan suara cadelnya.
“
Di sini tidak turun salju Sayangku…”
“Kenapa?”
“Di sini cuma turun hujan…”
“Oh, hujaaan” ucapnya dengan membulatkan mulut dan manggut-manggut seolah-olah mengerti. Segera kuraih dia dan kucium gemes pipinya. Ari anak yang cerewet, suka bercerita. Celotehnya tidak pernah berhenti. Pertanyaannya bejibun. Terkadang aku harus terdiam beberapa saat memikirkan jawaban yang tepat untuknya.
Ari dan Rago masih asyik menyaksikan acara kesayangan mereka. Setiap pagi, jika Ari di rumah, aku yang menjaganya sebab orangtua telah harus berangkat untuk mengajar. Rago juga tidak mau pergi ke sekolah. Alasannya adalah untuk menjaga Ari. Untung saja dia sekolah di tempat ibu mengajar dan guru-guru lain memaklumi keunikannya sehingga tidak begitu memberatkan jika Rago tidak masuk sekolah.
Aku mengelola sebuah café yang beroperasi mulai pukul sepuluh pagi. Tetapi aku tidak harus selalu di sana, sebab aku telah mempercayakan café tersebut pada salah seorang anggota yang telah kupercayai. Oleh karena itu, waktuku lebih leluasa. Tidak terikat.
Aku meninggalkan Ari dan Rago di depan televisi. Melanjutkan beberapa pekerjaan rumah yang terbengkalai. Keberadaan Ari sering membuat rumah seperti kapal pecah. Barang-barang tergeletak pasrah di mana-mana. Mainan mereka berserakan di ruang makan. Kaset cd yang dibelikan ibu untuk mereka terkadang sudah berada di dapur. Tempat tidur berantakan, sepreinya sudah tidak melekat di kasur, bantal-bantal bergulingan di lantai, selimut dibawa berarak.
Aku sering mengelus dada menyabarkan diri. Sabar Dea… sabar. Kumulai dengan membersihkan rumah, merapikan seluruh kamar dan meletakkan barang-barang pada tempatnya semula. Sesekali kudengar teriakan kecil Ari jika dia merasa senang atau jeritan Rago saat melihat tokoh kartun kesayangannya terkena musibah.
Aku berdendang kecil agar pekerjaan terasa ringan. Tiba-tiba telah muncul si Ari kecil di belakangku.
“Bou…” Ari memanggilku dengan suara mungilnya. Aku terperanjat. Hampir saja aku terjatuh dan menimpanya yang berada tepat di belakangku.
“Astaghfirullah…” ucapku dan segera jongkok menyamai tinggi badanku dengannya. Dia tertawa melihatku yang hendak terjatuh.
“Ada apa sayang?”
“Aku lapa Bou, mau maka.” katanya dengan nada bicara yang belum pas untuk minta makan.
“Oh, Ari mau makan. Ya sudah, ayok kita ambil nasinya. Pakai apa?”
“Pate nasi puti, pate ayam dore, pate tecap” ucapnya menyebutkan nasi putih, ayam goreng dan kecap manis.
“Pakai sayur dan kuah juga kan?” tanyaku.
“Iya. Pate sayu, pate tuah.”
Celoteh-celotehnya yang seperti itu membuatku sering tidak tahan ingin menjawilnya. Kucium gemas pipinya sampai aku puas. Dia pun tidak pernah mau berlama-lama kucium kalau tidak kupaksa.
“Uda sudah makan?” teriakku pada Rago.
“Belum.”
“Mau makan sekarang?”
“Iya.”
Kuambilkan juga nasi Rago. Mereka berdua sering berlomba-lomba. Jika satu makan, yang lain juga akan minta makan. Karena itu aku menanyakannya juga, takut kalau nanti dia mengganggu keponakannya yang sedang makan. Tetapi sebenarnya, Ari yang lebih sering mengganggu Rago, walaupun badannya lebih kecil dan usianya lebih muda. Kubiarkan mereka makan berdua. Jika tidak banyak orang di rumah, mereka akan sangat akur. Juga akur dalam membuat rumah berantakan.
Aku kembali konsentrasi pada pekerjaanku. Kali ini, aku menyetrika pakaian yang telah membukit. Hujan beberapa hari lalu membuat pakaian banyak yang menumpuk. Melihatnya saja, aku telah lelah. Namun jika terus kubiarkan, jumlah itu tidak akan bisa berkurang, yang pasti bertambah jumlahnya.
Aku berada di ruangan yang berbeda dengan mereka, tetapi aku selalu berusaha mengawasi tingkah mereka. Hampir dua jam aku berdiri menyetrika pakaian-pakaian itu. Pinggangku terasa mau patah. Aku tersadar, sedari tadi aku tidak mendengar celotehan Ari atau suara Rago yang sedang berimajinasi melakukan adegan dari tayanagn yang dia lihat. Rumah sunyi senyap. Aku melongok, televisi masih menyala. Tetapi kedua bocah itu, tidak terlihat di sana. Kemana mereka? Fikirku. Aku berjalan ke teras rumah. Terkadang mereka berada di teras sedang bermain tanah atau bermain bola. Tetapi tidak kutemukan. Kufikir mereka pergi keluar untuk jajan atau bermain di tempat playstation yang ada di gang depan rumah. Pencarianku nihil. Mereka tidak ada. Aku mulai khawatir. Kucoba telusuri lagi ke dalam rumah. Aku masih di halaman depan ketika aku mendengar suara kecil yang tertawa.
Aku lega, ternyata mereka ada di dalam rumah. Tadi aku lupa memeriksa ke dalam kamar. Dengan hati-hati aku menghampiri kamar sumber suara mereka. Kudorong sedikit pintu agar ada celah untuk melihat ke dalam. Telah beterbangan di dalam kamar benda ringan berwarna putih. Apa yang mereka lakukan di dalam?
Kubuka lebar-lebar daun pintu. Mereka tidak menyadari kedatanganku. “Apa yang sedang kalian lakukan?” tanyaku menahan geram ketika kulihat lantai kamar telah penuh dengan bedak, isi bantal telah terurai. Ari berlari, berputar-putar dalam lingkaran yang telah penuh dengan taburan bedak. Sesekali dia tersungkur. Sementara Rago, mengambil kapas dari perut bantal dan meniupnya. Ketika melihat kapas beterbangan di udara, Ari tertawa-tawa dan berusaha menggapai kapas tersebut.
Apa yang sedang kalian lakukan” tanyaku lagi ketika tidak seorang pun dari mereka menyahutku. Ari agak terperanjat mendengar suaraku. Namun kemudian, datang segera berlari ke arahku dan menarikku ke dalam.
“Ada salju Bou.” jawab Ari girang. “Liat Bou, salju na tuyun.” sembari memeragakan meniup kapas ke udara. Kapas yang dihembuskannya jatuh ke lantai rumah. Matanya berbinar-binar melihat pertunjukan itu.
“Iya kak. Salju itu seperti ini kan?” kata Rago.
“Iya…. Iya…” sepelti ini kan Bou...” Ari terus mengulangi meniup kapas ke udara.
Mataku sebenarnya telah mempelototi mereka. Aku telah lelah. Tetapi ruangan ini masih saja berantakan karena ulah dua bocah yang penuh dengan imaji ini. Namun, aku segera tersadar. Apalah artinya kemarahanku dibandingkan kesenangan mereka atau sakit hati akibat kemarahan itu?
Perlahan kukembangkan senyum yang tadi terenggut dari wajahku.
“Hmm, jadi ini salju?”
"Iya Bou. Salju. Telbang. Puti.” jelasnya masih dengan binar yang sama.
Aku ikuti mereka menerbangkan kapas-kapas itu ke udara. Ari berjingkrak-jingkrak kegirangan mengambil “salju” yang turun, turun di rumah kami….
Senin, 09 Juli 2012
Menggenggam Bahagia
Kehidupan ini tidak selalu berjalan seperti apa yang kita inginkan. Ada kendala-kendala yang harus dihadapi sebelum mencapai tujuan yang ingin kita raih. Kegagalan adalah suatu hal yang mutlak kita rasakan jika ingin mencapai keberhasilan yang kita inginkan. Tidak semua orang akan mencapai puncak keberhasilan. Banyak yang tidak tahan menanggung segala kesakitan.
Banyak yang jatuh dan menyerah tanpa pernah berusaha untuk kembali bangkit. Hanya sedikit yang akan memenangkan ujian kegagalan di dunia ini. Dan mereka itulah para pemenang sejati.
Bahagia. Semua orang pasti mendambakan kebahagiaan. Bahagia setiap orang tidak bisa disamakan. Namun bisa kita lihat raut wajah yang tidak begitu jauh berbeda berkenaan dengan bahagia. Hati yang damai ditunjukkan dengan senyum yang merekah yang tiada padam. Begitu kiranya pertanda kebahagiaan yang dapat kita lihat dari wajah-wajah yang kita temui.
Pada hakikatnya, semua aktivitas manusia di dunia ini adalah dalam rangka mengejar kebahagiaan. Itu juga yang sedang kulakukan hari ini. Demi kebahagiaan yang kuyakini akan kudapatkan, aku berada di sini. Merajut mimpi dan membuat perencanaan untuk masa depan. Aku memilih profesi sebagai wiraswasta seperti ayahku. Aku yakin, dengan profesi itu akan membawaku menuju bahagia yang kucari. Inilah ceritaku…
Namaku Sazali. Pekerjaan mahasiswa. Sumber donasi dari orangtua. Bertempat tinggal di ibukota provinsi sumatera utara. Setiap hari aku ke kampus mengendarai si black pemberian ayah. Aku memakai kacamata tapi tidak cupu. Aku termasuk kategori mahasiswa cerdas dan disenangi oleh dosen-dosen yang pernah masuk ke kelasku. Aku juga merupakan kategori pria ganteng yang mempesona wanita. Tapi semua itu belum memberi bahagia yang kucari. Karena aku belum tahu jati diriku. Jati diri yang mengukuhkan keberadaanku di bumi Tuhan ini. Aku belum tahu akan jadi apa kelak di masa depan. Meskipun aku seorang mahasiswa, tapi aku masih khawatir dengan masa depan yang membentang. Telah terlalu banyak sarjana di negeri ini yang tidak memiliki pekerjaan dan tidak menghasilkan sedangkan usia mereka masih sangat produktif. Ijazah yang diperoleh dengan susah payah, ilmu yang telah dipelajari dalam tahun-tahun selama perkuliahaan, banyak yang terbuang ke dalam tong sampah perusahaan-perusahaan yang tidak membutuhkan skill mereka. Stress dan tidak percaya diri. Itu yang akhirnya banyak kutemui dari mereka yang tidak memiliki pekerjaan.
Aku sungguh sangat tidak ingin menjadi bagian dari mereka. Lapangan pekerjaan yang tidak lagi memadai. Banyaknya angka pengangguran. Semua itu membuatku berfikir, aku harus menciptakan lapangan pekerjaan. Hanya enterpreanurship jawaban dari pertanyaan itu. Namun pertanyaan besar berikutnya memenuhi otakku, usaha apa yang akan buka? Kemudian, jadi pening sendiri….
“Kalian ini bodoh. Tahu nya hanya menghabiskan uang saja. Percuma di sekolahkan tinggi-tinggi. Percuma dikuliahkan. Kalau hanya meminta dan menghabiskan saja yang bisa kalian lakukan. Apa yang telah kalian hasilkan? Kalau bukan merengek-rengek minta ini itu, kalian hanya akan kelaparan saja di luar sana” nada kemarahan ayah masih terus terngiang di kepalaku. Ini bukan perkara benar salahnya. Juga bukan karena kemarahan itu ditujukan buat siapa. Hanya perkataan yang dikeluarkan saat marah itu yang tidak bisa kuterima begitu saja. Tapi, siapa yang bisa menyalahkan orang yang marah. Bukankah apa saja bisa terucap?
“Kalian hanya tahu menghabiskan uang saja”. Oh, God. Begitu dalam menusuk hatiku ucapan ayah itu. Tapi dia memang tidak salah. Ayahku, ayah pemarahku. Hidup yang dijalaninya sedari kecil telah begitu keras. Dia harus mencari nafkah untuk keluarganya karena kakek terlalu cepat dipanggil Tuhan. Sementara keluarga besarnya butuh makan. Tanggungjawab itu dipikul olehnya, anak tertua dalam silsilah keluarganya. Dia masih ingin terus sekolah, tetapi keadaan memaksanya untuk berhenti di tengah jalan. Beratnya kehidupan ayahku semasa kecil, menjadikan wataknya begitu keras. Dia tidak bisa lagi mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya dengan leluasa. Semua kerja serabutan telah ayah lakukan. Mengasong.
Ayah pernah melakukannya. Menjadi kuli panggul. Ayah juga pernah. Satu hal yang dipegang erat-erat oleh ayah adalah kejujuran. Saat menjadi kuli panggul, ayah tidak pernah meminta imbalan. Dia membantu mereka yang kesusahan. Teringat akan kisah Abdurrahman Bin Auf ketika hijrah ke Madinah. Sesampai di Madinah, Nabi telah mempersaudarakan kaum muhajirin dengan kaum anshar. Persaudaraan yang diikat oleh tauhid yang sama. Kaum anshar dengan ikhlas membantu kaum muhajirin yang kekurangan. Demikian halnya dengan Abdurrahman bin Auf. Kaum Anshar yang menjadi saudaranya juga tidak segan memberi bantuan yang dibutuhkannya. Makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, bahkan istri juga rela mereka berikan untuk saudara yang baru saja diikat oleh Nabi tersebut. Tetapi Abdurrahman menolak semua itu. Dia sangat berterima kasih dengan semua perlakuan itu. Kemudian dia meminta kepada saudaranya untuk menunjukkan jalan menuju pasar. Saudaranya heran “Apa yang hendak kau lakukan di pasar duhai “Abdurrahman? Bukankah kebutuhanmu telah tercukupi?”. “Aku berbahagia mendapat perlakuan seperti ini. namun alangkah lebih berbahagianya aku jika aku tidak menjadi beban buat saudaraku?” jawab Abdurrahman. Akhirnya Abdurrahman berniaga di Pasar Ukaz. Hingga beberapa tahun, dia pun menjadi orang terkaya di Madinah berkat perniagaannya yang berkembang pesat. Demikian juga dengan ayah. Dia mendatangi pasar. Awalnya dia melihat peluang. Dia tidak mempunyai modal untuk berniaga. Dia juga tidak mau meminta-minta. Maka jalan pertama yang dia lakukan adalah dengan mengenali semua pelaku pasar. Cara yang dia lakukan adalah membantu mengangkat barang-barang para pedagang yang baru sampai tanpa mengharapkan imbalan. Dia melakukan itu kepada semua para pedagang sehingga tidak begitu lama, semua orang yang berada di pasar tersebut mengenali ayah. Pada suatu ketika, saat ayah membantu menurunkan barang seorang perempuan tua yang telah biasa ayah bantu, si nenek berujar “Ucok, kenapa kau tidak pernah mau menerima imbalan Nak? Sebenarnya apa pekerjaanmu?” Ayah menjawab “Aku tidak punya pekerjaan Nek. Daripada aku tidak punya kegiatan, lebih baik aku menolong orang yang kesusahan.” “Kenapa kamu tidak berdagang saja Nak?” tanya nenek itu lagi. “Aku tidak punya modal Nek. Aku cuma anak seorang petani miskin” ujar ayah. “Oh. Tapi kamu mau berdagang?” tanya nenek itu lagi. “Sangat mau Nek.” Sahut ayah bersungguh-sungguh. “Ok. Kalau begitu, kau ambil dagangan Nenek ini. Tidak perlu kau bayar di awalnya. Kau ambil seperlumu, lalu kau jual. Nenek kasih tahu modal dari barang-barang yang kau ambil. Terserah kau mau jual berapa. Itu hakmu. Nah, nanti berapa laku, kau kasih sama nenek modalnya saja. Untung dari penjualan untukmu saja semuanya. Bagaimana? Kau mau?” tawar si nenek. Dengan cepat ayah menyahut “Mau Nek. Aku mau. Apa sekarang aku sudah bisa mengambil barang nenek ini?” tanya ayah bersemangat. “Oh. Boleh. Sebentar ya, nenek buat fakturnya dulu.” Sejak hari itu, ayah mulai berdagang pakaian. Awalnya dia menjajakan dagangannya kepada setiap orang yang lewat. Hari pertama, semua dagangannya habis. Ayah senang, si nenek juga senang. Sampai beberapa hari, barang dagangan ayah selalu laris manis. Dari untung yang didapatkannya, akhirnya ayah mempunyai modal. Dia tidak lagi meminta barang pada nenek itu. Tetapi dia membayarnya terlebih dahulu. Tentu saja si nenek juga semakin senang. Ayah bekerja sungguh-sungguh dan cekatan. Prinsip yang dia pegang itu, tidak pernnah dia tinggalkan. Karena dari kejujurannya, dia memperoleh kesempatan tersebut. Kerja kerasnya telah membuahkan hasil. Kini, tokonya telah ada beberapa buah. Tanahnya juga cukup banyak. Ayah telah menjadi orang kaya di usianya yang muda. Setelah merasa usianya cukup untuk menikah, dia meminang ibu yang kini menjadi istrinya yang melahirkan anak-anak yang manis dan lucu. Kini, kami anak-anaknya, bisa menikmati semua itu. Kami tidak dimanjakannya. Tetapi kami juga tidak dipaksanya untuk mngikuti usahanya. Tetapi kami memang diharuskan untuk ikut mengelola toko yang ayah pegang. Dari hasil toko itu, kebutuhan kami terpenuhi. Biaya sekolah dan kuliah kami juga dari hasil toko. Ayah yang semakin menua dalam perjalanan hidup, membutuhkan bantuan dari kami. Tetapi, kami sering merasa enggan melakukan pekerjaan yang ayah minta. Dia tidak meminta banyak. Dia hanya minta kami membantunya saja. Mengambil barang ke lantai atas. Atau membantu menyusun barang. Atau membantu menjemput barang yang baru datang. Atau membantu menanyakan pelanggan. Ayah tidak memaksa kami untuk berfikir. Dia hanya mmeinta tenaga kami. Tetapi rasa enggan dan malas yang selalu menghantui kami. Karena itu ayah menjadi marah. Ayah yang pemarah menjadi semakin pemarah dengan tingkah kami. Sehingga kata-kata makian itu berlontaran dari mulut ayah yang terasa menyakitkan tetapi tidak bisa kupungkiri kebenarannya. “Aku harus bisa mencari uang, menghidupi diriku sendiri, agar ayah tidak mengataiku lagi. Sakit sekali rasanya, tetapi apa daya, memang itulah kenyataannya. Aku harus buktikan pada ayah bahwa aku bukan anak yang manja. Aku juga bisa, tanpa harus mendapat umpatan-umpatan dari ayah.” Aku berfikir, mungkin ada seseorang yang bisa membantuku. Tetapi siapa? Hmm, mungkin yang harus kulakukan adalah mencari informasi tentang usaha apa yang aku bisa juga tentang siapa yang bisa membantuku. “Kurasa itu yang harus kulakukan sekarang ini” putusku kemudian. ### “Hei wak, dari tadi kuperhatikan. Melamun saja pekerjaan uwak. Apa yang menggaunggu fikiranmu Wak?’ Vai, menepuk pundakku membuatku terkejut. Uwak adalah panggilan akrab masyarakat Medan, dari golongan manapun, termasuk kalangan mahasiswa seperti kami. Awalnya, aku juga heran ketika mendengar seorang teman memanggil “uwak” pada teman sesama mahasiswa. Seperti “uwak-uwak” yang berjualan di pajak pagi saja. Fikirku. “Hmm. Ngangetin aja uwak ini. Aku sedang berfikir Wak.” “Punya fikiran juga kau Wak.” candanya. Aku tertawa mendengar selorohnya itu. “Iya lah Wak. Kalau tak berotak, masa kan aku bisa kuliah di sini. Uwak ini bisa saja.” “Awak becanda ya Wak. Jangan dimasukin ke hati.” “Aku tahu.” Terdiam sejenak. “Uwak ingat mata kuliah enterpreanurship dari pak Umar?” “Ya. ingat. Kenapa?” “Aku kefikiran dengan ucapan bapak itu. Kita sebagai mahasiswa harusnya tidak berpangku tangan. Sudah sewajarnya kita juga mempunyai penghasilan. Jangan kita bersembunyi dengan alasan masih dalam pembelajaran seperti sekarang ini yang membuat kita tidak berfikir kreatif untuk menghasilkan uang. Usia kita sudah masuk kategori produktif untuk menghidupi diri sendiri kan?” “Iya. Betul banget tuh Wak. Jadi, maksud uwak ingin membuka usaha? Belajar jadi enterpreanur?” “Iya, Wak. Tapi awak masih bingung mau membuka usaha apa Wak? Ada ide?” “Apa ya?” “Eh, Uwak kan sudah lama jadi pelaku enterpreanur. Atau uwak bisa andil memberikan modal?” tanyaku bersemangat. “Haha. Macam pengusaha besar saja awak Uwak buat.” dia merendah. “Aku serius Wak. Pakai sistem bagi hasil kita nanti. Bagaimana?” Dia tampak berfikir. “Aku fikirkan dulu ya Wak. Kalau ada yang bisa kubagi, aku segera kasih tahu. Uwak perlu berapa?” “Tak perlu banyak-banyak Wak. Yang terpenting, aku bisa segera memulai usaha dan menikmati hasil keringatku.” jawabku, penuh harap. “Jangan gitu kali lah menatapnya Wak. Jadi segan awak. Oke. Segera kukabari kalau sudah ada. Masuk kelas yuk.” ajaknya. Kami segera menuju kelas yang telah mulai ramai. Aku berharap ini adalah angin segar. Dia adalah jawaban atas pertanyaan siapa yang kusimpan beberapa hari lalu.### Maka, di sinilah aku sekarang, di depan sebuah ruko di tepi jalan dengan gerobak dorong di tengah malam yang tinggal dilalui satu, dua kendaraan. Menunggui daganganku ditemani oleh abang sepupu yang menjadi mitra kerjaku. Vai akhirnya meminjamkanku modal dengan bagi hasil 60 %: 40 % atas keuntungan yang diperoleh tiap bulannya. Aku putuskan untuk membuka usaha minuman yang menyediakan TST atau teh susu telur, bandrek, atau minuman-minuman hangat lainnya yang beroperasi sejak pukul lima sore. Benar-benar pembagian shift yang baik. Tidak mengganggu kuliahku. Aku tetap menomorsatukan kuliah meskipun aku berniat untuk menghidupi diriku sendiri. Aku mempelajari cara membuat minuman ini dari seorang uwak yang dagangannya begitu laris di daerah Halat. Uwak yang kumaksud, bukan panggilan akrab dengan teman sebaya, tetapi adalah panggilan untuk saudara laki-laki yang lebih tua dari ayah. Setiap kali aku datang ke sana, tempat tersebut selalu ramai oleh pengunjung. Memang buatanku tidak seenak buatan uwak. Masih amatir. Tetapi aku yakin, seiring berjalannya waktu, aku akan terbiasa dan menemukan cara yang tepat untuk membuat minuman yang baik. Seminggu usaha ini berjalan, aku masih harus banyak-banyak bersabar. Terkadang, sampai hampir pukul dua dini hari ketika nyamuk-nyamuk telah dengan cekatan mencari rezeki dari mereka yang terlena, setengah terkantuk-kantuk aku masih menjaga daganganku yang belum kunjung dilirik pembeli. Sampai aku memutuskan untuk menutupnya hari itu, hanya tiga gelas TST yang berhasil terjual. Aku tetap berusaha untuk mengucap syukur. Usaha yang baru dirintis tidak akan segera menuai hasil. Aku masih butuh waktu. Fikirku. Memasuki minggu kedua, orang-orang mulai tahu bahwa di tempat aku membuka TST ini, terdapat warung TST yang cukup enak meskipun masih tergolong baru. Pengunjung yang datang ke warungku berasal dari berbagai tipe yang sangat-sangat beraneka ragam. Pernah pada pukul 12 tengah malam, di saat aku berjaga sendirian, tanpa bang Ardi yang berhalangan hadir, datang seorang pria tambun berwajah Indo menaiki Avanza biru ditemani beberapa perempuan berkisar umur 19 tahun memesan TST buatanku. Dari perbincangan mereka, aku bisa menebak pekerjaan yang biasa mereka lakukan. Kelakar-kelakar yang terkadang tidak lazim untuk didengar. Beberapa kali aku beristighfar dalam hati. Sekilas kuperhatikan, pria tambun itu sangat jelek, perutnya buncit seperti wanita yang tengah hamil sembilan bulan, tangannya ramah dan suka parkir di atas paha para perempuan yang terbuka itu, bergantian. Kuperkirakan, perempuan-perempuan centil itu hanya menyukai uang pria tambun yang kelihatannya punya cabang ATM sendiri. Aku menggeleng melihat tingkah mereka. Apa mereka tidak merasa risih? “Abang, masih lama pesanannya datang?” Aku dikejutkan oleh suara desah perempuan setengah menggoda yang tiba-tiba saja berbisik di telingaku membuat bulu kudukku berdiri, “Astaghfirullah!” jeritku tertahan ketika salah seorang dari perempuan centil itu telah berdiri begitu dekat di sampingku sehingga wajahnya hampir menyentuh pipiku. Segera aku memalingkan muka. Kudengar pria bertubuh tambun dan teman-teman perempuan itu tertawa cekikikan. “Sudah Ve. Jangan mengganggu abang TST. Tidak kau lihat, dia begitu gemetaran dengan ulah usilmu.” tegur seorang temannya dengan kedipan mata ke arahku. Aku istighfar berkali-kali karena tingkah mereka. Perempuan yang tadi mendekatiku telah kembali ke tempatnya semula. “Masih perjaka murni. Bukan imitasi.” meskipun dia berbisik pada teman di sebelahnya, aku bisa mendengar ucapan itu. “Hmm, pasti lezat.” bisik yang satunya lagi. Lalu mereka tertawa cekikikan, lagi. Aku berusaha keras untuk segera menyelesaikan pesanan mereka. Aku sudah tidak tahan mendengar guyonan-guyonan nakal para perempuan itu. Aku nggak kuaaaat…. Kuserahkan bungkusan yang berisi pesanan TST yang mereka minta. Setelah transaksi selesai, mereka pun beranjak dari warungku. “Sampai jumpa abang ganteng.” perempuan yang tadi dipanggil Ve itu, melambaikan tangannya dengan genit ke arahku. Segera setelah mereka pergi, aku menutup warungku tanpa menunggu jarum jam berada di angka dua, jadwal warungku selesai beroperasi setiap harinya. Aku mendorong gerobak ke tempat penyimpanan yang disediakan oleh pemilik ruko yang kusewa teras rukonya untuk berdagang TST ini. Awalnya, aku tidak perlu susah-susah mendorong gerobak TST ku ke belakang ruko, sebab pemiliknya berbaik hati membiarkan gerobak TST ku tetap berada di depan rukonya pada saat dia membuka usahanya di pagi hari. Namun entah mengapa, setelah bilangan hari ketiga, aku tidak lagi dibolehkan menitip gerobak TST ku di depan ruko yang dia miliki. Alasan yang dia kemukakan adalah, menghalangi orang untuk masuk ke dalam ruko miliknya. Aku menghela nafas. Aku tahu dia keberatan dengan keberadaan benda jelek milikku yang parkir di depan tokonya itu. Aku mengurut dada melihat betapa orang-orang terkadang begitu senang melihat kesengsaraan orang lain. Karena alasan itulah, di tengah malam yang senyap ini, aku seorang diri mendorong gerobakku ke belakang ruko yang harus melewati jalan sedikit menanjak yang membuatku sedikit kesulitan untuk melakukannya sebab beberapa kali, roda gerobak tergelincir ke bawah dan aku harus kuat menahan beban yang tidak ringan itu agar aku tidak ikut tersungkur. Dengan peluh yang hampir membasahi seluruh tubuhku, akhirnya bisa kukendalikan gerobak tersebut ke tempat penyimpanannya. Perjuangan. Memang tidak selalu mudah. Dulu sekali, sebelum aku menjalani profesi ini, aku sangat iba melihat mereka yang harus mendorong gerobaknya keliling kota demi sesuap nasi. Dan hari ini, aku iba, melihat diriku sendiri….### Telah tiga hari bang Ardi tidak masuk kerja, dan selama itu juga aku berjaga sendirian. Walaupun dia sepupuku, seharusnya dia profesional dalam pekerjaan. Bukan berarti dia dengan seenaknya tidak masuk kerja. Apalagi alasannya dibuat-buat. Hanya sakit kepala biasa. Dia minta libur. Sungguh tidak masuk akal. Atau mungkin ini sebuah isyarat pengunduran diri? Tidak ingin denganku lagi? Ahh. Aku menepis kemungkinan buruk itu. Tidak baik berprasangka yang tidak-tidak. Aku tunggu saja apakah sore ini dia datang atau tidak. Jika tidak, maka aku yang harus bertindak. Pukul lima sore. Bang Ardi telah muncul di warung, lebih cepat dari hari-hari sebelumnya. “Bagaimana kabarnya Bang? Sudah sehat?” tanyaku berbasa-basi. “Masih belum sehat sebenarnya. Tapi abang merasa tidak enak hati terus-terusan tidak masuk.” Entah benar, entah tidak kalimat itu keluar dari bibirnya. “Kalau masih kurang fit, tak perlu la dipaksakan kali Bang. Firman juga nggak akan maksa abang kok.” jawabku, mencoba diplomatis. “Ng… Abang mau nanya sesuatu, boleh?” “Be pleasure, plis.” sedikit becanda kujawab pertanyaannya. Kelihatannya dia sedikit tegang. “Ng… abang sebenarnya diterima kerja di pabrik es dekat rumah abang. Itu sebabnya tiga hari ini abang tidak datang. Berat sekali abang rasa harus pulang tengah malam setiap hari. Mengingat kakakmu sendirian di rumah dengan dua anak yang masih kecil-kecil. Belum lagi kita lebih sering duduk mengobrol daripada melayani pembeli. Makanya abang memutuskan menerima pekerjaan di pabrik es tersebut. Apa kamu keberatan?” Huft. Menyebalkan. Firasatku memang benar. Tapi aku tidak boleh terlihat sangat membutuhkannya. Bukankah tiga hari ini aku telah terbiasa sendiri? Mungkin itu adalah pembelajaran buatku. Tidak baik mempekerjakan saudara sendiri. “Kalau Firman sih, nggak masalah Bang. Kalau itu memang yang terbaik buat abang, silahkan.” aku mencoba tersenyum. Mungkin senyumku kali ini terlihat begitu jelek. Senyum tanpa keikhlasan. “Kamu tidak marah kan?” dia memastikan. “Tenang aja Bang. Beres la itu.” Maka keesokan harinya, jadilah aku menjomblo, single parents untuk usaha baruku ini. Jika terjadi apa-apa padaku, maka usaha ini tidak akan berjalan sebagimana mestinya. Kukira orang yang membutuhkan pekerjaan akan mau mengerjakan pekerjaan apa saja asalkan menghasilkan dan tetap bisa memenuhi kebutuhan perut yang sejengkal itu. Ternyata dugaanku tidak sepenuhnya benar. Selalu ada pengecualian untuk hal-hal tertentu, dan kejadian yang menimpaku termasuk dalam pengecualian itu. ### Jalan sebulan warung TST ku. Aku bertemu dengan Vai sang investor. Seperti yang kujanjikan, setiap bulannya, aku akan menemuinya menyerahkan bagi hasil yang kuperoleh. “Bagaimana usahamu Wak. Lancar?” tanya Vai padaku. “Alhamdulillah Wak. Makanya aku datang nih Wak. Mau nyetor.” jawabku dengan wajah sumringah. Dia tertawa menanggapi jawabanku. Kami masih berbincang beberapa lama walaupun urusan dengannya telah selesai. “Wak, sebenarnya aku ingin menarik saham yang kuberi kemarin.” “Lho, kok tiba-tiba begitu?” “Aku tidak memintamu menyerahkannya hari ini Wak. Aku hanya menginformasikan agar kau tidak terlalu terkejut.” Tidak terkejut bagaimana? Aku sangat terkejut. Saking terkejutnya, aku merasa seperti dialiri sengatan listrik yang terkena arus pendek. “Ohh.” jawabku pendek. Aku lunglai. Tak lagi berdaya. “Seorang teman memintaku bekerja sama di warung makan miliknya. Aku hanya menyediakan minuman berupa jus. Prospeknya kulihat lebih bagus. Jangan marah ya Wak?” Ini salahku. Mengapa tidak membuat surat perjanjian kontrak mengenai hal ini? Sama dengan masalah bang Ardi sepupuku. Aku dicampakkan begitu saja. Bagai sampah tak berguna. Belum habis sakit hati karena perlakuan bang Ardi, aku harus menelan sakit hati lainnya yang lebih parah. Pernyataan memutuskan hubungan mitra kerja dengan sang investor. Satu bulan penuh, tidak kurang. Usaha pertamaku berakhir. Tragis.### Enterpreanur University Kukerjap-kerjapkan mata saat melihat tulisan di majalah dinding kampus tersebut. Apa aku tidak salah? Ada sekolah pengusaha? Seperti apa pula modelnya? Punya ruangan semegah almamaterku ini kah dengan fakultas yang beraneka ragam dan kelas-kelas yang berjumlah puluhan? Dosen-dosen yang mengampu mata kuliah dengan modul-modul yang wajib dimiliki? Seperti itukah bentuknya? “Makanya ikutan Dek, biar tahu gimana sekolahnya. Biar tahu dosen-dosennya seperti apa? Sebenarnya sih mereka lebih suka dipanggil tutor. Lebih akrab.” ujar salah seorang seniorku yang menawarkanku untuk mengikuti enterpreanur university itu. “Berapa uang pendaftarannyanya? Berapa harus membayar uang SPP per tahun nya? Dan berapa uang kuliahnya?’ tanyaku ingin tahu. Bagaimanapun, aku harus mempertimbangkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Dia hanya tertawa menjawab pertanyaanku. “Uang pendaftarannya nanti saja difikirkan. Untuk tahu seperti apa EU (Enterpreanur University, yang akhirnya kutahu singkatannya adalah EU) ini, kita ikuti saja dulu seminarnya. Nggak mahal kok. Cuma 200ribu.” “Apa? 200ribu Bang?” mataku membelalak. Aku terkejut dengan sebutan uang sejumlah itu. 200ribu tidak mahal? Aku yang sudah sering mengikuti seminar di kampus, tiket yang seharga 50ribu saja sudah begitu mahal buatku yang masih berstatus mahasiswa, meskipun tampang keren, tapi nasib tidak sekeren tampangku. Aku menggeleng. “Lain kali saja la Bang. Aku lagi butuh duit sekarang. Bukan ingin mengeluarkan duit.” “Ah, sayang sekali. Padahal kalau kamu ikut dan melihat dari dekat acaranya, kamu akan mengerti, jumlah yang kusebutkan tadi tidak mahal dibanding ilmu yang akan kita dapat dari acara tersebut.” “Ah, nggak la Bang. Lain kali saja.” aku masih menolak permintaannya. Gila?! 200 ribu untuk harga tiket doang? Mendingan kubelikan makanan, perut kenyang, aku pun senang. “Ok. Kalau kamu tidak mau. Ya sudah, Abang pinjamkan saja kaset ini untukmu. Tapi kamu nggak boleh ngasih sama orang lain ya. Khusus untuk kamu Abang kasih. Ok.” Setengah tidak berminat kuterima kaset yang dia tawarkan. Hanya menonton sebuah video, tidak ada salahnya. Anggap saja menonton spiderman. Hmm, aku suka menonton film-film action. Maka tak jarang, aku suka menonton film yang sama untuk yang kesekian kalinya. “Hati-hati terjangkit virus “gila” nya sang pembicara.” bisik seniorku tersebut dengan nada menakutkan. “Virus gila? Apa pula itu?” What ever!? Dikasih gratis, tidak ada salahnya dilihat. Aku menimang-nimang kaset yang berada dalam genggamanku dan memperhatikannya. Setelah membaca sekilas kata-kata motivasi yang ada dalam salah satu side kepingan kaset itu, aku mulai diliputi rasa penasaran. Siapa pria ini? Mengapa kata-katanya seperti bisa menghipnotisku hanya dari melihat sampul depan kaset ini saja? Rasa penasaran itu telah membawaku segera pulang ke rumah. Tak sabar ingin mengetahui isi kaset tersebut.### Salah satu kunci agar usaha anda tidak pernah mengalami kerugian adalah banyak-banyak bersedekah. Petuah yang disampaikan oleh narasumber yang kusaksikan dari video tersebut. Aku pernah mendengar hal ini sebelumnya. Tapi bukan dari seseorang yang mengaku pengusaha. Tapi dari ustadz-ustadz pengajian yang membahas tentang sedekah. Jika dia yang berprofesi sebagai pengusaha dan mengatakan hal itu, dia mungkin telah tergolong kategori pelaku. Melihat dia yang sepertinya bukan pemain baru dalam dunia usaha. Bagaimana jika masih mengalami kerugian? Tanya seorang audience. Itu karena sedekahnya masih kurang banyak. Perlu ditambah lagi jumlahnya, lebih banyak lagi, lebih banyak lagi. Subhanallah. Cara dia mengatakan bagaimana memulai usaha, bukanlah dari segi kemanusiaannya. Tapi dari segi kerohanian. Jarang pengusaha yang berfikiran seperti ini. Biasanya, bagi kami, kaum muslim, membayar zakat hanya lah 2,5 % yang wajib dikeluarkan. Bagaimana kalau jumlah tersebut ditambah menjadi 5 %? Tentu sah-sah saja. Dan hal ini, menurut hemat saya justru akan memudahkan segala urusan perniagaan kita. Hmm. Benar juga. Allah juga pernah berfirman tentang perniagaan yang tidak pernah merugi. Perniagaan dengan Allah. Bersedekah. Semua pendapat-pendapat pembicara pada video yang kusaksikan tadi, dapat dibenarkan oleh akal sehatku. Aku menjadi semakin tertarik mengenal pria itu. Siapa dia? “Hei Firman…” seniorku yang memberikan kaset yang semalam melambaikan tangan ke arahku. Aku berjanji bertemu dengannya di kampus hari ini untuk mengembalikan kaset yang dipinjamkannya semalam. Aku berjalan menuju tempat dia berdiri. “Ini kasetnya Bang. Bagus banget. Enterpreanur sejati.” pujiku. “Aku mulai khawatir kalau kau mulai terjangkit virus itu.” “Haha. Abang bisa saja. Dan kurasa, siapapun yang terjangkit virus yang ditularkan pembicara dalam kaset ini, tidak akan menyesal, bahkan berterimakasih padanya.” “Filosofis sekali. Bagaimana? Sekarang kau tertarik?” “Siapa sebenarnya pria itu Bang?” “Dia pendiri salah salah satu lembaga bimbingan belajar. Awalnya murid bimbingan belajarnya itu hanya berjumlah dua orang, tetapi sekarang telah berdiri puluhan cabang bimbel tersebut di seluruh tanah air. Kau tahu kenapa?” Aku menggeleng. “Mungkin dia tidak berhenti dan terus bertahan.” “Ya. dia juga melakukan cara-cara yang dianggap orang lain tidak lazim. Cara-cara itu yang akan dia jelaskan di kelas setelah seminar yang kemarin abang sebutkan.” “Hmm. Kalau tiket masuk untuk seminar saja segitu jumlahnya, bagaimana dengan pendaftaran untuk bisa memulai pembelajaran?” “Firman, kita kuliah di sini juga tidak gratis. Kita dengan suka rela mau membayar sejumlah biaya yang ditetapkan oleh universitas walaupun kita tidak tahu jaminan masa depan setelah lulus dari sini..” Aku berfikir, mencoba mencerna kalimatnya itu. Benar juga. “Itu namanya biaya belajar, biaya sekolah. Tidak ada yang gratis di dunia ini, selain udara yang kita hirup atau angin yang kita keluarkan.” candanya. “Ok. Besok-besok kalau masih ada seminar abang kabari aku ya.” “Gitu dong. Kalau mau jadi pengusaha, belajar cara-caranya dari pengusaha yang telah melakukannya dan telah berhasil dalam usahanya.” pesannya. Aku selalu berdoa, semoga apapun pilihan yang telah kutetapkan, aku tidak pernah menyesalinya, meskipun jauh berbeda dari harapanku. Aku hanya harus pandai mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpaku.### Berada dalam ruangan seminar yang berisi tentang bagaimana memulai membuka usaha yang baik, dalam lingkungan orang-orang yang mempunyai visi yang sama, membuat aura positif dalam ruangan tersebut menyengat seluruh hadirin. Aku juga bisa merasakan betapa semangatku meletup-letup tak terpadamkan, hingga mataku sulit terpejam, dan mulai membuka mata terhadap peluang-peluang yang mungkin bisa kuciptakan. Dan kabar baik itu, datang hari ini. pengumuman beasiswa, dan aku salah seorang yang memperoleh beasiswa tersebut. Tidak semua usaha yang kita mulai sekarang akan menjadi usaha kita untuk hari-hari selanjutnya. Belajar dan terus belajar. Jangan pernah berhenti. Jika jatuh, harus berusaha untuk bangkit, jatuh lagi, bangkit lagi. Kita pernah menjadi anak kecil yang belajar berjalan, meskipun harus beberapa kali terjatuh, tetapi tidak kapok untuk bangkit dan mulai berjalan lagi. Bayangkan jika anak kecil itu tidak pernah bangkit, mungkin dunia ini hanya dipenuhi oleh orang-orang lumpuh. Apapun yang terjadi, jangan pernah menyerah. Bersedekah, berusaha, berdoa. Selamat berjuang. Selamat datang di dunia enterpreanur…. Aku mendaftarkan diriku menjadi salah seorang agen pulsa. Untuk saat ini, aku tidak mempunyai tempat, maka diriku lah yang kujadikan ajang promosi, toko berjalan, agar orang-orang tahu bahwa aku punya usaha pulsa baru dan mereka bisa menghubungiku jika hendak melakukan isi ulang pulsa. Aku mengalahkan semua ego yang dulu ada pada diriku. Mengalahkan semua perkataan tidak bisa yang dibisikkan dalam fikiranku. Aku harus berjuang. Berjuang, agar ayah melihat aku tidak selemah yang dia kenal selama ini.### Virus itu benar-benar menjangkitiku. Stadium akut. Sampai aku melupakan tujuan pertamaku berada di kota ini. Kuliah. Amanat orangtua yang harus kutunaikan. Juga cita-cita yang dulu kutanamkan dalam jiwaku, sebelum mengenal virus itu. Aku cinta mati, tergila-gila dengan pasangan baruku. Enterpreanur. Hingga suatu hari aku terhenyak. “Bagaimana kuliahmu, Nak?” Pertanyaan ibu tempo hari ditelpon. “Lancar-lancar saja Bu.” Aku tergeragap menjawabnya karena sesungguhnya prestasi kuliahku sedang kacau balau di tengah kegilaan yang baru kualami. Maaf Ibu, aku telah sedikit berbohong padamu. “Doa Ibu selalu menyertai langkahmu selama kau masih dalam koridor Nya. Bagaimana keuanganmu? Jika ada kekurangan, jangan segan-segan bilang ke ibu. Perkataan ayah tempo hari, tak perlu terlalu kau risaukan. Ayah hanya terlalu letih hari itu. Harus kau tahu, ayah sangat menyayangi kalian,” “Iya, Bu. Sekarang masih aman kok. Ibu nggak perlu khawatir.” Aku berbohong lagi. Keuanganku sebenarnya telah sangat menipis. Aku tidak lagi banyak memberitahu ibu kegiatan yang kujalani. Beberapa hari lalu, aku bersama lima orang teman lain di kampus pergi ke Rantau untuk survey tempat bimbel yang sedang kami ajukan proposal kerjasamanya. Perjalanan ke sana, memerlukan biaya. Aku mengeluarkan kocek lebih banyak sebab aku merasa bertanggung jawab atas perjalanan itu. Aku yang memberikan ide. Aku juga yang memilihkan tempat. Aku sebenarnya tidak ingin ibu risau. Aku tahu, dia hanya mengkhawatirkanku jika mungkin izin tidak kuperoleh darinya. Naluri ibu, sangat kuat, tidak pernah aku mencoba menyangkalnya. Seperti hari itu. alam sekitar seakan membisikinya bahwa kondisiku sedang tidak baik. Meskipun jawabanku kumaksudkan untuk menenangkannya, esok harinya, dia telah mentransfer sejumlah uang untukku. Jaga-jaga jika terdesak. Begitu disebutkannya. Ahh, ibu. Kau memang sangat mengerti keadaan anak-anakmu. Pantas saja surga berada di telapak kakimu. Aku berfikir ulang setelah menerima telpon ibu. Apa yang kucari? Aku memang ingin punya penghasilan sendiri, tapi aku juga tidak ingin mengecewakan ibu. Perempuan yang belum sekalipun mengecewakanku, bagaimana aku akan tega mengecewakannya karena ego. Ya, ini kusebut ego, sebab kuliahku telah berantakan. Aku sudah mulai tidak peduli. Aku hanya ingin mengurus pendirian bimbel itu dengan serius, dan melupakan keseriusanku untuk menuntut ilmu seperti amanat ibu. Ini tidak akan kubiarkan terjadi. ### Semangat dari rekanku mulai pudar saat beberapa kali mengajukan proposal kerja sama dan ditolak. Pendirian bimbel itu mulai mengambang di awang-awang, sementara aku juga telah terlanjur mengorbankan kuliahku. “Jika memang kalian tidak lagi berminat, kita lupakan saja masalah bimbel itu. Tapi perlu kalian camkan, aku tetap akan bergerak walau tanpa bimbel, walau tanpa kalian.” Aku muntab. Aku telah berkali-kali mengajak mereka untuk semangat kembali. Untuk menyusun kembali kekuatan, tetapi alasan mereka terlalu banyak. Dan setelah hari itu, aku tahu mereka akan mundur dengan teratur. Tim payah. Aku menyesali keteledoran sikapku yang menganggap satu hal sangat penting dan mengabaikan hal lain. Tetapi benarlah, penyesalan memang selalu datang di akhir. Terkadang kufikir ini menyebalkan. Namun, terkadang aku juga berfikir, ini mungkin cara Tuhan menunjukkan jalan agar aku belajar dari kesalahan. Akhirnya proyek bimbel itu, terlupakan. Aku menata kembali rencana masa depanku. Sedang berfikir demikian, kudengar suara gaduh dari ruang tengah rumah kakak sepupu tempatku menumpang tinggal selama masa kuliah. Aku keluar kamar melihat sumber kegaduhan. “Silahkan masuk Paman.” kak Putri mengajak seseorang masuk ke dalam rumah. Seorang pria bertubuh pendek berusia sekitar lima puluh tahun masuk bersama seorang perempuan yang usianya hanya bertaut sekitar 2 tahun dari pria di sampingnya. Dia pamanku, adik dari ayahku, yang datang bersama istrinya. “Apa kabar Paman?” aku mencium pergelangan tangannya, memberi hormat pada yang lebih tua, juga pada istrinya. “Alhamdulillah, baik.” Kak Putri datang membawakan minuman, “Silahkan diminum, seadanya saja Paman. Maklum, bulan tua.” Kak Putri mempersilakan tamunya menikmati hidangan. “Ada apa gerangan datang ke gubuk kecil kami ini Paman?” tanya Bang Jo, suami Kak Putri, setelah cukup berbasa-basi. “Paman mau mengurus bisnis baru di sini. Kemarin ikut EU juga. Paman lihat prospeknya cukup bagus.” Aku yang tidak terlalu memperhatikan percakapan para orang tua segera berminat mendengar kata bisnis. Siapa tahu paman bisa kuajak bekerja sama. “Bisnis apa Paman?” tanyaku melibatkan diri dalam pembicaraan. “Bisnis biasa. Ya, mengembangkan bisnis yang ada, agar tidak berkutat di bidang itu saja.” Pamanku ini telah beberapa kali jatuh bangun dalam membangun kerajaan bisnisnya. Bisnis grosir pakaian. Beberapa tahun ini, dia baru saja mengalami kerugian yang tidak sedikit, yang menumbangkan kerajaan bisnisnya. Pailit. Dia hampir saja menyerah. Untung saja paman masih berfikir rasional dan mau belajar. Bisnis konvensional yang telah dijalaninya bertahun-tahun silam, membutuhkan pembenahan. Perlakuan yang berbeda. Kedatangannya kali ini juga berkaitan erat dengan kemauan belajar itu. Belajar dari orang yang telah lebih dahulu sukses dalam menjalankan kiat-kiat bisnisnya. Aku beranikan diri untuk mengajukan proposal bisnis. Hanya saja tidak malam ini, sebab kondisinya tidak memungkinkan. Paman masih lelah setelah melakukan perjalanan lebih kurang 12 jam. Dia butuh istirahat. “Berapa hari rencana di sini Paman?” “Setelah urusan selesai, Paman langsung pulang. Mungkin satu atau dua hari. Paling lama, dua hari lah.” Dua hari. Besok siang mungkin Paman akan menemui rekannya itu. Aku juga kuliah. Mungkin sore, aku bisa mengajak paman berkonsultasi. “Hmm, besok pasti ada kesempatan.” batinku.### “Lagi santai?” kutemui Paman yang sedang duduk di beranda depan menikmati angin yang berhembus lewat dedaunan pohon mangga yang menari-nari riang. “Ya. menikmati sore yang cerah.” Paman tertawa. “Ya, sore ini memang sangat cerah.” Aku menimpali. Bagaimana urusannya hari ini Paman?” “Alhamdulillah. Semua berjalan lancar. Hanya saja tadi sedikit tersesat. Ya, namanya bukan orang sini, berani-beranian saja jalan tanpa penunjuk jalan.” Kami tertawa bersama-sama. Setelah terdiam beberapa saat. “Oh iya Paman, kalau mau buka warnet di Medan, Paman mau?” aku memancing pembicaraan. Ide ini muncul dari seorang kawan lama ketika di suatu malam aku bertemu dengannya dan membicarakan peluang bisnis yang kira-kira akan diminati masyarakat Medan. Dia memang mengusulkan untuk membuka game online. Tapi aku kurang setuju jika hanya game online karena fungsinya tidak terlalu banyak, hanya terfokus untuk game saja. Sementara jika orang-orang ingin browsing atau sekedar mengirim email, tentu saja penggunaannya menjadi terbatas. “Maksudnya?” Paman minta penjelasan lebih dariku. “Begini Paman.” aku memulai presentasiku. “Sekarang penggunaan media internet sedang berkembang pesat karena banyak faktor diantaranya masyarakat sudah mulai melek terhadap perkembangan informasi. Dunia yang telah mengglobal menuntut kita untuk selalu mengetahui beragam informasi. Masa sekarang, orang-orang yang mengetahui informasi, dialah yang akan jadi pemenang Paman. Tidak lagi berdasarkan otot atau hanya otak, tetapi keberagaman informasi yang diketahui lebih cepat. Bahkan di kota-kota besar lain di Indonesia, internet itu sudah menjadi kebutuhan Paman. Dan menurut pengamatan saya, di kota ini telah mulai menggeliat kegiatan berbau informasi tersebut. Karena itu, jika kita membuka usaha tersebut, Insya Allah tidak akan sepi dari pengunjung, mengingat fungsi yang saya sebutkan tadi Paman.” Paman manggut-manggut. “Masuk akal juga penjelasan kamu. Trus?” “Jika Paman berminat, saya bisa mengelolanya. Paman sebagai investornya. Meskipun Paman tidak ikut menjalankannya tetapi Paman menerima bagi hasil dari keuntungan pendapatan warnet setiap bulannya.” “Jika defisit?” “Ditanggung bersama juga Paman. Tapi saya yakin, usaha ini akan maju, meskipun mungkin di awalnya harus melakukan promosi besar-besaran agar masyarakat tahu. Apalagi jika kita lebih mengutamakan pelayanan, para pengunjung tentu akan senang dan menjadi loyal terhadap warnet kita meskipun di sekitar kita betebaran usaha serupa.” “Penjelasanmu bagus. Ternyata kamu sudah besar ya. Sudah bisa merayu Paman dengan kata-kata. Sudah berapa wanita yang terpikat Nak?” Paman malah menggodaku. Atau mungkin mengalihkan pembicaraan. Aku hanya tersenyum, menghormatinya. “Paman fikirkan dulu ya. Tadi Paman baru selesai tanda tangan kontrak. Kamu tahu maksudnya kan?” Aku mengangguk. “Minggu depan, Paman akan ke sini lagi. Kita lanjutkan obrolan ini. Tapi ingat, jangan tergesa-gesa dan jangan mendesak Paman. Paman tidak suka.” Paman memberiku ultimatum. Tapi itu kuanggap sebuah pelajaran tentang cara pendekatan yang baik. “Siip.” Aku mengacungkan jempol dan berdoa dalam hati semoga percakapan hari itu diaminkan oleh malaikat.### Debu polusi yang bertebaran telah menebalkan kulit wajahku. Berkali-kali aku membersihkan kacamata yang ditempeli debu-debu sehingga menghalangi pandanganku. Terkadang mataku juga tidak luput dari serangannya sehingga aku berkali-kali juga harus mengeluarkan kotoran tersebut dari mataku. “Ok. Paman setuju dengan proposalmu kemarin. Tapi dengan syarat, Paman memberimu waktu seminggu untuk survey tempat. Paman ingin lihat, kamu serius atau hanya sekedar gurauan belaka.” Tempo hari setelah kedatangan Paman yang kedua kali, dia menerima tawaranku. Telah lima hari aku berputar-putar di jalanan mencari lokasi dengan harga yang cocok untuk membuka usaha ini. Tetapi semua masih nihil. Belum ada yang memuaskan. Bahkan untuk menentukan lokasi yang tepat juga menjadi sangat sulit ketika dibutuhkan. Mungkin ini ujian kesabaran. Jika untuk urusan ini saja aku menyerah, bagaimana aku akan menang dengan perkara yang lebih besar? Aku tidak boleh menyerah. Kupaksakan diri untuk terus menyusuri semua lini yang kuketahui. Telah lima hari dari jadwal yang kusepakati. Janji adalah hutang yang harus dibayar. Meskipun dia adalah pamanku, seseorang yang kemungkinan besar akan sangat luluh dengan permohonan keponakannya untuk menangguhkan waktu yang tidak sanggup kulakukan. Aku berusaha professional. Bersikap dewasa. Janji adalah janji. Hanya seminggu. Tidak bisa ditawar-tawar. Waktuku tinggal dua hari lagi. Ibarat seorang pasien, kondisinya sedang kritis. Jika tidak segera ditangani dengan tepat, akan membahayakan jiwa, mengancam pada kematian. Aku harus terus semangat. Demi sebuah mimpi, tidak diremehkan ayah lagi.### Opening usaha baru ini hanya dihadiri beberapa orang yang kesemuanya adalah teman-teman kuliahku. Hanya sebuah syukuran, acara kecil untuk penanda usaha ini didirikan. Ada setitik haru ketika nama dari usaha ini terpampang di depan sebuah ruko yang berhasil kutemukan di hari terakhir pencarian. Peluh telah mengucur deras di sekujur tubuhku. Sejak dua hari yang lalu, hatiku tidak berhenti bermunajat, meminta kemurahhatianNya untukku. Menunjukkan arah langkahku yang telah mulai bergetar memikirkan kisah akhir yang belum dimulai. Pencarian hari terakhir itu benar-benar menguras tenaga dan otakku. Senja telah tampak di ufuk barat. Dari pengeras suara mesjid di kota itu telah mulai terdengar lantunan ayat Al-Quran yang dibaca dengan tartil. Sedangkan aku, masih beradu dengan waktu untuk mencapai tujuanku. Kubelokkan motor blackku. Daerah sekitar kampus. Kuulangi mengelilingi dan memperhatikan bangunan- bangunan yang berdiri kokoh di sana. Lebih teliti dari sebelumnya. Ketika suara keputusasaan telah menghantui, mataku tertumbuk pada sebuah tulisan. Disewakan. Hubungi. Kuperhatikan lamat-lamat nama pemilik dari nomor yang tertera. Pemilik ruko tersebut adalah orang terdekat Paman. Bagai menemukan harta karun, aku menghubungi Paman. Batinku berkata, dia akan berkenan. Paman, aku menemukan sebuah ruko. Lokasi strategis, dekat kampus. Dekat dengan pemukiman mahasiswa. Pemilik sebuah kapling terkenal di kota kita. Kapling matahari. Maka di sinilah aku sekarang. Sedang membuat syukuran. Paman tidak bisa hadir karena suatu urusan. Paman mengamanatiku mengurus semuanya setelah pembelian komputer. Hanya satu pesan Paman, segera beroperasi. Hari itu, Tuhan menuntun langkahku dengan memberikan niat untuk membelokkan motorku ke perempatan jalan menuju kampus idamanku dan di situlah aku melihat sebuah ruko yang sekarang kujadikan tempat untuk memulai usahaku yang ketiga. Semoga ini akan menjadi awal yang baik. Dan lagi-lagi, aku berharap doaku ini membuat para malaikat untuk mengiringinya dengan ucapan Amin.### Momentum seharusnya menjadi satu hal yang harus kupertimbangkan jika ingin memulai sebuah usaha. Itu luput dari pengamatanku. Lokasi warnet yang baru kubuka berada di dekat kampus. Opening usaha ini ketika kampus sedang sepi, mahasiswa sedang libur. Alhasil, bulan pertama yang kuhadapi adalah komputer-komputer yang sehariannya tidak disentuh. Aku dan karyawanku sering bersitatap, saling menggeleng, mengangkat bahu dan tertawa. Aku sudah berusaha untuk membuat promosi menarik. Promo selama seminggu: bermain dua jam, gratis satu jam. Yang sering datang adalah teman-teman yang kemarin kuundang. Hanya seminggu. Seperti promo yang kuberikan. Selebihnya, mereka pun tak pernah lagi muncul. Aku juga tidak berhenti share info tentang usaha baruku ini di situs jaringan sosial milikku. Aku mengupdate status setiap hari, status yang sama, berkunjung ke warung internet milikku. Beragam komentar bermunculan di wall ku. Ada yang serius, bercanda, bahkan mengolok-olok. Aku sering menghela nafas berat saat melihat komentar yang bermunculan itu. Aku tetap berusaha menenangkan hati. Awalnya, orang-orang hanya memberi komentar. Jika nanti dia perlu, pasti datang. Aku jadi teringat Lia, teman SMA ku yang berprofesi sebagai pedagang, meskipun dia masih di bangku sekolah. Dia memang berasal dari keluarga yang kemampuan ekonominya bisa dibilang kurang. Tapi aku sungguh salut melihatnya. Dia tidak pernah mengeluh dengan keadaannya itu. Dia malah memilih untuk berdagang. Dagang apa saja. Buku, kue, alat-alat sekolah, pakaian. Semua dijualnya. Promo yang dia lakukan adalah dengan membuat list harga barang-barang dagangannya. Diketik kemudian difotokopi berlembar-lembar. Kemudian dibagikan ke semua siswa yang dikenalnya. Kebanyakan dari mereka membuang kertas yang dibagikannya itu bahkan tanpa melihatnya. Ada juga yang melihat sekilas kemudian membuangnya atau melipatnya kecil-kecil dan memasukkan ke kantong baju atau celananya. Hanya segelintir yang mau memperhatikannya. Dan dari yang segelintir itu, hanya segolongan kecil yang berminat dan memesan barang dagangannya itu. Tapi Lia tidak pernah kehilangan ide. Bahkan dia selalu bersemangat. Pernah juga waktu ada acara di sekolah, dia ikut bazaar buku dan pakaian. Kebanyakan siswa hanya melihat-lihat dan bertanya ini itu, tanpa berminat untuk membeli. Tapi wajahnya tetap ceria. Dia tidak merasa dipermainkan. Dia tetap menghormati para pengunjung meskipun hanya sekedar melihat. Karena penasaran, kudekati ia. “Hai, ikutan buka bazar juga. Hebat!!” kuacungkan jempol. “Eh, Firman. Hehe. Iya. Silahkan dilihat-lihat dulu. Ini bukunya bagus lho.” Dia mengambilkan sebuah buku dan memberikannya padaku. Kuterima buku itu dan melihat sekilas. “Ngomong-ngomong, kamu nggak marah orang-orang ini mengobrak-abrik daganganmu?” “Haha. Ya nggak dong. Aku malah senang, walaupun mereka cuma lihat-lihat atau cuma nanya-nanya. Mereka sudah datang saja, aku sudah senang. Hmm, ngomong-ngomong, kamu masih ingat pelajaran Peluang nggak?” Aku mengangguk. Itu pelajaran kelas satu. Aku kan jagonya. “Memangnya kenapa?” “Kalau aku nggak salah, peluang itu cuma berlaku 20% saja. Artinya, dari sekian banyak orang yang datang ke standku, peluang dari mereka yang membeli daganganku cuma 20%. Kalau 10 orang, berarti cuma dua orang yang membeli. Jadi untuk apa aku harus kecewa jika mereka cuma lihat-lihat. Kan rumusnya sudah ada?” dia tersenyum. “Nah, sekarang pertanyaannya, kamu masuk yang 20% itu nggak?” dia tertawa menggodaku. “Haha. Benar juga. Oke. Aku beli buku yang ini saja.” Aku mengambil sebuah buku yang paling tipis dengan harga yang paling murah “Maklum ya, kantong seorang siswa, tipis.” Kami sama-sama tertawa. Akhirnya aku mengerti konsep itu. Namun, terkadang, saat menghadapi kenyataan, ada masa-masa aku merasa nasibku sangat sial. Yah, namanya manusia. Kondisinya labil, berubah-ubah, seperti kondisi yang dialaminya waktu itu.### to be continued
Bahagia. Semua orang pasti mendambakan kebahagiaan. Bahagia setiap orang tidak bisa disamakan. Namun bisa kita lihat raut wajah yang tidak begitu jauh berbeda berkenaan dengan bahagia. Hati yang damai ditunjukkan dengan senyum yang merekah yang tiada padam. Begitu kiranya pertanda kebahagiaan yang dapat kita lihat dari wajah-wajah yang kita temui.
Pada hakikatnya, semua aktivitas manusia di dunia ini adalah dalam rangka mengejar kebahagiaan. Itu juga yang sedang kulakukan hari ini. Demi kebahagiaan yang kuyakini akan kudapatkan, aku berada di sini. Merajut mimpi dan membuat perencanaan untuk masa depan. Aku memilih profesi sebagai wiraswasta seperti ayahku. Aku yakin, dengan profesi itu akan membawaku menuju bahagia yang kucari. Inilah ceritaku…
Namaku Sazali. Pekerjaan mahasiswa. Sumber donasi dari orangtua. Bertempat tinggal di ibukota provinsi sumatera utara. Setiap hari aku ke kampus mengendarai si black pemberian ayah. Aku memakai kacamata tapi tidak cupu. Aku termasuk kategori mahasiswa cerdas dan disenangi oleh dosen-dosen yang pernah masuk ke kelasku. Aku juga merupakan kategori pria ganteng yang mempesona wanita. Tapi semua itu belum memberi bahagia yang kucari. Karena aku belum tahu jati diriku. Jati diri yang mengukuhkan keberadaanku di bumi Tuhan ini. Aku belum tahu akan jadi apa kelak di masa depan. Meskipun aku seorang mahasiswa, tapi aku masih khawatir dengan masa depan yang membentang. Telah terlalu banyak sarjana di negeri ini yang tidak memiliki pekerjaan dan tidak menghasilkan sedangkan usia mereka masih sangat produktif. Ijazah yang diperoleh dengan susah payah, ilmu yang telah dipelajari dalam tahun-tahun selama perkuliahaan, banyak yang terbuang ke dalam tong sampah perusahaan-perusahaan yang tidak membutuhkan skill mereka. Stress dan tidak percaya diri. Itu yang akhirnya banyak kutemui dari mereka yang tidak memiliki pekerjaan.
Aku sungguh sangat tidak ingin menjadi bagian dari mereka. Lapangan pekerjaan yang tidak lagi memadai. Banyaknya angka pengangguran. Semua itu membuatku berfikir, aku harus menciptakan lapangan pekerjaan. Hanya enterpreanurship jawaban dari pertanyaan itu. Namun pertanyaan besar berikutnya memenuhi otakku, usaha apa yang akan buka? Kemudian, jadi pening sendiri….
“Kalian ini bodoh. Tahu nya hanya menghabiskan uang saja. Percuma di sekolahkan tinggi-tinggi. Percuma dikuliahkan. Kalau hanya meminta dan menghabiskan saja yang bisa kalian lakukan. Apa yang telah kalian hasilkan? Kalau bukan merengek-rengek minta ini itu, kalian hanya akan kelaparan saja di luar sana” nada kemarahan ayah masih terus terngiang di kepalaku. Ini bukan perkara benar salahnya. Juga bukan karena kemarahan itu ditujukan buat siapa. Hanya perkataan yang dikeluarkan saat marah itu yang tidak bisa kuterima begitu saja. Tapi, siapa yang bisa menyalahkan orang yang marah. Bukankah apa saja bisa terucap?
“Kalian hanya tahu menghabiskan uang saja”. Oh, God. Begitu dalam menusuk hatiku ucapan ayah itu. Tapi dia memang tidak salah. Ayahku, ayah pemarahku. Hidup yang dijalaninya sedari kecil telah begitu keras. Dia harus mencari nafkah untuk keluarganya karena kakek terlalu cepat dipanggil Tuhan. Sementara keluarga besarnya butuh makan. Tanggungjawab itu dipikul olehnya, anak tertua dalam silsilah keluarganya. Dia masih ingin terus sekolah, tetapi keadaan memaksanya untuk berhenti di tengah jalan. Beratnya kehidupan ayahku semasa kecil, menjadikan wataknya begitu keras. Dia tidak bisa lagi mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya dengan leluasa. Semua kerja serabutan telah ayah lakukan. Mengasong.
Ayah pernah melakukannya. Menjadi kuli panggul. Ayah juga pernah. Satu hal yang dipegang erat-erat oleh ayah adalah kejujuran. Saat menjadi kuli panggul, ayah tidak pernah meminta imbalan. Dia membantu mereka yang kesusahan. Teringat akan kisah Abdurrahman Bin Auf ketika hijrah ke Madinah. Sesampai di Madinah, Nabi telah mempersaudarakan kaum muhajirin dengan kaum anshar. Persaudaraan yang diikat oleh tauhid yang sama. Kaum anshar dengan ikhlas membantu kaum muhajirin yang kekurangan. Demikian halnya dengan Abdurrahman bin Auf. Kaum Anshar yang menjadi saudaranya juga tidak segan memberi bantuan yang dibutuhkannya. Makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, bahkan istri juga rela mereka berikan untuk saudara yang baru saja diikat oleh Nabi tersebut. Tetapi Abdurrahman menolak semua itu. Dia sangat berterima kasih dengan semua perlakuan itu. Kemudian dia meminta kepada saudaranya untuk menunjukkan jalan menuju pasar. Saudaranya heran “Apa yang hendak kau lakukan di pasar duhai “Abdurrahman? Bukankah kebutuhanmu telah tercukupi?”. “Aku berbahagia mendapat perlakuan seperti ini. namun alangkah lebih berbahagianya aku jika aku tidak menjadi beban buat saudaraku?” jawab Abdurrahman. Akhirnya Abdurrahman berniaga di Pasar Ukaz. Hingga beberapa tahun, dia pun menjadi orang terkaya di Madinah berkat perniagaannya yang berkembang pesat. Demikian juga dengan ayah. Dia mendatangi pasar. Awalnya dia melihat peluang. Dia tidak mempunyai modal untuk berniaga. Dia juga tidak mau meminta-minta. Maka jalan pertama yang dia lakukan adalah dengan mengenali semua pelaku pasar. Cara yang dia lakukan adalah membantu mengangkat barang-barang para pedagang yang baru sampai tanpa mengharapkan imbalan. Dia melakukan itu kepada semua para pedagang sehingga tidak begitu lama, semua orang yang berada di pasar tersebut mengenali ayah. Pada suatu ketika, saat ayah membantu menurunkan barang seorang perempuan tua yang telah biasa ayah bantu, si nenek berujar “Ucok, kenapa kau tidak pernah mau menerima imbalan Nak? Sebenarnya apa pekerjaanmu?” Ayah menjawab “Aku tidak punya pekerjaan Nek. Daripada aku tidak punya kegiatan, lebih baik aku menolong orang yang kesusahan.” “Kenapa kamu tidak berdagang saja Nak?” tanya nenek itu lagi. “Aku tidak punya modal Nek. Aku cuma anak seorang petani miskin” ujar ayah. “Oh. Tapi kamu mau berdagang?” tanya nenek itu lagi. “Sangat mau Nek.” Sahut ayah bersungguh-sungguh. “Ok. Kalau begitu, kau ambil dagangan Nenek ini. Tidak perlu kau bayar di awalnya. Kau ambil seperlumu, lalu kau jual. Nenek kasih tahu modal dari barang-barang yang kau ambil. Terserah kau mau jual berapa. Itu hakmu. Nah, nanti berapa laku, kau kasih sama nenek modalnya saja. Untung dari penjualan untukmu saja semuanya. Bagaimana? Kau mau?” tawar si nenek. Dengan cepat ayah menyahut “Mau Nek. Aku mau. Apa sekarang aku sudah bisa mengambil barang nenek ini?” tanya ayah bersemangat. “Oh. Boleh. Sebentar ya, nenek buat fakturnya dulu.” Sejak hari itu, ayah mulai berdagang pakaian. Awalnya dia menjajakan dagangannya kepada setiap orang yang lewat. Hari pertama, semua dagangannya habis. Ayah senang, si nenek juga senang. Sampai beberapa hari, barang dagangan ayah selalu laris manis. Dari untung yang didapatkannya, akhirnya ayah mempunyai modal. Dia tidak lagi meminta barang pada nenek itu. Tetapi dia membayarnya terlebih dahulu. Tentu saja si nenek juga semakin senang. Ayah bekerja sungguh-sungguh dan cekatan. Prinsip yang dia pegang itu, tidak pernnah dia tinggalkan. Karena dari kejujurannya, dia memperoleh kesempatan tersebut. Kerja kerasnya telah membuahkan hasil. Kini, tokonya telah ada beberapa buah. Tanahnya juga cukup banyak. Ayah telah menjadi orang kaya di usianya yang muda. Setelah merasa usianya cukup untuk menikah, dia meminang ibu yang kini menjadi istrinya yang melahirkan anak-anak yang manis dan lucu. Kini, kami anak-anaknya, bisa menikmati semua itu. Kami tidak dimanjakannya. Tetapi kami juga tidak dipaksanya untuk mngikuti usahanya. Tetapi kami memang diharuskan untuk ikut mengelola toko yang ayah pegang. Dari hasil toko itu, kebutuhan kami terpenuhi. Biaya sekolah dan kuliah kami juga dari hasil toko. Ayah yang semakin menua dalam perjalanan hidup, membutuhkan bantuan dari kami. Tetapi, kami sering merasa enggan melakukan pekerjaan yang ayah minta. Dia tidak meminta banyak. Dia hanya minta kami membantunya saja. Mengambil barang ke lantai atas. Atau membantu menyusun barang. Atau membantu menjemput barang yang baru datang. Atau membantu menanyakan pelanggan. Ayah tidak memaksa kami untuk berfikir. Dia hanya mmeinta tenaga kami. Tetapi rasa enggan dan malas yang selalu menghantui kami. Karena itu ayah menjadi marah. Ayah yang pemarah menjadi semakin pemarah dengan tingkah kami. Sehingga kata-kata makian itu berlontaran dari mulut ayah yang terasa menyakitkan tetapi tidak bisa kupungkiri kebenarannya. “Aku harus bisa mencari uang, menghidupi diriku sendiri, agar ayah tidak mengataiku lagi. Sakit sekali rasanya, tetapi apa daya, memang itulah kenyataannya. Aku harus buktikan pada ayah bahwa aku bukan anak yang manja. Aku juga bisa, tanpa harus mendapat umpatan-umpatan dari ayah.” Aku berfikir, mungkin ada seseorang yang bisa membantuku. Tetapi siapa? Hmm, mungkin yang harus kulakukan adalah mencari informasi tentang usaha apa yang aku bisa juga tentang siapa yang bisa membantuku. “Kurasa itu yang harus kulakukan sekarang ini” putusku kemudian. ### “Hei wak, dari tadi kuperhatikan. Melamun saja pekerjaan uwak. Apa yang menggaunggu fikiranmu Wak?’ Vai, menepuk pundakku membuatku terkejut. Uwak adalah panggilan akrab masyarakat Medan, dari golongan manapun, termasuk kalangan mahasiswa seperti kami. Awalnya, aku juga heran ketika mendengar seorang teman memanggil “uwak” pada teman sesama mahasiswa. Seperti “uwak-uwak” yang berjualan di pajak pagi saja. Fikirku. “Hmm. Ngangetin aja uwak ini. Aku sedang berfikir Wak.” “Punya fikiran juga kau Wak.” candanya. Aku tertawa mendengar selorohnya itu. “Iya lah Wak. Kalau tak berotak, masa kan aku bisa kuliah di sini. Uwak ini bisa saja.” “Awak becanda ya Wak. Jangan dimasukin ke hati.” “Aku tahu.” Terdiam sejenak. “Uwak ingat mata kuliah enterpreanurship dari pak Umar?” “Ya. ingat. Kenapa?” “Aku kefikiran dengan ucapan bapak itu. Kita sebagai mahasiswa harusnya tidak berpangku tangan. Sudah sewajarnya kita juga mempunyai penghasilan. Jangan kita bersembunyi dengan alasan masih dalam pembelajaran seperti sekarang ini yang membuat kita tidak berfikir kreatif untuk menghasilkan uang. Usia kita sudah masuk kategori produktif untuk menghidupi diri sendiri kan?” “Iya. Betul banget tuh Wak. Jadi, maksud uwak ingin membuka usaha? Belajar jadi enterpreanur?” “Iya, Wak. Tapi awak masih bingung mau membuka usaha apa Wak? Ada ide?” “Apa ya?” “Eh, Uwak kan sudah lama jadi pelaku enterpreanur. Atau uwak bisa andil memberikan modal?” tanyaku bersemangat. “Haha. Macam pengusaha besar saja awak Uwak buat.” dia merendah. “Aku serius Wak. Pakai sistem bagi hasil kita nanti. Bagaimana?” Dia tampak berfikir. “Aku fikirkan dulu ya Wak. Kalau ada yang bisa kubagi, aku segera kasih tahu. Uwak perlu berapa?” “Tak perlu banyak-banyak Wak. Yang terpenting, aku bisa segera memulai usaha dan menikmati hasil keringatku.” jawabku, penuh harap. “Jangan gitu kali lah menatapnya Wak. Jadi segan awak. Oke. Segera kukabari kalau sudah ada. Masuk kelas yuk.” ajaknya. Kami segera menuju kelas yang telah mulai ramai. Aku berharap ini adalah angin segar. Dia adalah jawaban atas pertanyaan siapa yang kusimpan beberapa hari lalu.### Maka, di sinilah aku sekarang, di depan sebuah ruko di tepi jalan dengan gerobak dorong di tengah malam yang tinggal dilalui satu, dua kendaraan. Menunggui daganganku ditemani oleh abang sepupu yang menjadi mitra kerjaku. Vai akhirnya meminjamkanku modal dengan bagi hasil 60 %: 40 % atas keuntungan yang diperoleh tiap bulannya. Aku putuskan untuk membuka usaha minuman yang menyediakan TST atau teh susu telur, bandrek, atau minuman-minuman hangat lainnya yang beroperasi sejak pukul lima sore. Benar-benar pembagian shift yang baik. Tidak mengganggu kuliahku. Aku tetap menomorsatukan kuliah meskipun aku berniat untuk menghidupi diriku sendiri. Aku mempelajari cara membuat minuman ini dari seorang uwak yang dagangannya begitu laris di daerah Halat. Uwak yang kumaksud, bukan panggilan akrab dengan teman sebaya, tetapi adalah panggilan untuk saudara laki-laki yang lebih tua dari ayah. Setiap kali aku datang ke sana, tempat tersebut selalu ramai oleh pengunjung. Memang buatanku tidak seenak buatan uwak. Masih amatir. Tetapi aku yakin, seiring berjalannya waktu, aku akan terbiasa dan menemukan cara yang tepat untuk membuat minuman yang baik. Seminggu usaha ini berjalan, aku masih harus banyak-banyak bersabar. Terkadang, sampai hampir pukul dua dini hari ketika nyamuk-nyamuk telah dengan cekatan mencari rezeki dari mereka yang terlena, setengah terkantuk-kantuk aku masih menjaga daganganku yang belum kunjung dilirik pembeli. Sampai aku memutuskan untuk menutupnya hari itu, hanya tiga gelas TST yang berhasil terjual. Aku tetap berusaha untuk mengucap syukur. Usaha yang baru dirintis tidak akan segera menuai hasil. Aku masih butuh waktu. Fikirku. Memasuki minggu kedua, orang-orang mulai tahu bahwa di tempat aku membuka TST ini, terdapat warung TST yang cukup enak meskipun masih tergolong baru. Pengunjung yang datang ke warungku berasal dari berbagai tipe yang sangat-sangat beraneka ragam. Pernah pada pukul 12 tengah malam, di saat aku berjaga sendirian, tanpa bang Ardi yang berhalangan hadir, datang seorang pria tambun berwajah Indo menaiki Avanza biru ditemani beberapa perempuan berkisar umur 19 tahun memesan TST buatanku. Dari perbincangan mereka, aku bisa menebak pekerjaan yang biasa mereka lakukan. Kelakar-kelakar yang terkadang tidak lazim untuk didengar. Beberapa kali aku beristighfar dalam hati. Sekilas kuperhatikan, pria tambun itu sangat jelek, perutnya buncit seperti wanita yang tengah hamil sembilan bulan, tangannya ramah dan suka parkir di atas paha para perempuan yang terbuka itu, bergantian. Kuperkirakan, perempuan-perempuan centil itu hanya menyukai uang pria tambun yang kelihatannya punya cabang ATM sendiri. Aku menggeleng melihat tingkah mereka. Apa mereka tidak merasa risih? “Abang, masih lama pesanannya datang?” Aku dikejutkan oleh suara desah perempuan setengah menggoda yang tiba-tiba saja berbisik di telingaku membuat bulu kudukku berdiri, “Astaghfirullah!” jeritku tertahan ketika salah seorang dari perempuan centil itu telah berdiri begitu dekat di sampingku sehingga wajahnya hampir menyentuh pipiku. Segera aku memalingkan muka. Kudengar pria bertubuh tambun dan teman-teman perempuan itu tertawa cekikikan. “Sudah Ve. Jangan mengganggu abang TST. Tidak kau lihat, dia begitu gemetaran dengan ulah usilmu.” tegur seorang temannya dengan kedipan mata ke arahku. Aku istighfar berkali-kali karena tingkah mereka. Perempuan yang tadi mendekatiku telah kembali ke tempatnya semula. “Masih perjaka murni. Bukan imitasi.” meskipun dia berbisik pada teman di sebelahnya, aku bisa mendengar ucapan itu. “Hmm, pasti lezat.” bisik yang satunya lagi. Lalu mereka tertawa cekikikan, lagi. Aku berusaha keras untuk segera menyelesaikan pesanan mereka. Aku sudah tidak tahan mendengar guyonan-guyonan nakal para perempuan itu. Aku nggak kuaaaat…. Kuserahkan bungkusan yang berisi pesanan TST yang mereka minta. Setelah transaksi selesai, mereka pun beranjak dari warungku. “Sampai jumpa abang ganteng.” perempuan yang tadi dipanggil Ve itu, melambaikan tangannya dengan genit ke arahku. Segera setelah mereka pergi, aku menutup warungku tanpa menunggu jarum jam berada di angka dua, jadwal warungku selesai beroperasi setiap harinya. Aku mendorong gerobak ke tempat penyimpanan yang disediakan oleh pemilik ruko yang kusewa teras rukonya untuk berdagang TST ini. Awalnya, aku tidak perlu susah-susah mendorong gerobak TST ku ke belakang ruko, sebab pemiliknya berbaik hati membiarkan gerobak TST ku tetap berada di depan rukonya pada saat dia membuka usahanya di pagi hari. Namun entah mengapa, setelah bilangan hari ketiga, aku tidak lagi dibolehkan menitip gerobak TST ku di depan ruko yang dia miliki. Alasan yang dia kemukakan adalah, menghalangi orang untuk masuk ke dalam ruko miliknya. Aku menghela nafas. Aku tahu dia keberatan dengan keberadaan benda jelek milikku yang parkir di depan tokonya itu. Aku mengurut dada melihat betapa orang-orang terkadang begitu senang melihat kesengsaraan orang lain. Karena alasan itulah, di tengah malam yang senyap ini, aku seorang diri mendorong gerobakku ke belakang ruko yang harus melewati jalan sedikit menanjak yang membuatku sedikit kesulitan untuk melakukannya sebab beberapa kali, roda gerobak tergelincir ke bawah dan aku harus kuat menahan beban yang tidak ringan itu agar aku tidak ikut tersungkur. Dengan peluh yang hampir membasahi seluruh tubuhku, akhirnya bisa kukendalikan gerobak tersebut ke tempat penyimpanannya. Perjuangan. Memang tidak selalu mudah. Dulu sekali, sebelum aku menjalani profesi ini, aku sangat iba melihat mereka yang harus mendorong gerobaknya keliling kota demi sesuap nasi. Dan hari ini, aku iba, melihat diriku sendiri….### Telah tiga hari bang Ardi tidak masuk kerja, dan selama itu juga aku berjaga sendirian. Walaupun dia sepupuku, seharusnya dia profesional dalam pekerjaan. Bukan berarti dia dengan seenaknya tidak masuk kerja. Apalagi alasannya dibuat-buat. Hanya sakit kepala biasa. Dia minta libur. Sungguh tidak masuk akal. Atau mungkin ini sebuah isyarat pengunduran diri? Tidak ingin denganku lagi? Ahh. Aku menepis kemungkinan buruk itu. Tidak baik berprasangka yang tidak-tidak. Aku tunggu saja apakah sore ini dia datang atau tidak. Jika tidak, maka aku yang harus bertindak. Pukul lima sore. Bang Ardi telah muncul di warung, lebih cepat dari hari-hari sebelumnya. “Bagaimana kabarnya Bang? Sudah sehat?” tanyaku berbasa-basi. “Masih belum sehat sebenarnya. Tapi abang merasa tidak enak hati terus-terusan tidak masuk.” Entah benar, entah tidak kalimat itu keluar dari bibirnya. “Kalau masih kurang fit, tak perlu la dipaksakan kali Bang. Firman juga nggak akan maksa abang kok.” jawabku, mencoba diplomatis. “Ng… Abang mau nanya sesuatu, boleh?” “Be pleasure, plis.” sedikit becanda kujawab pertanyaannya. Kelihatannya dia sedikit tegang. “Ng… abang sebenarnya diterima kerja di pabrik es dekat rumah abang. Itu sebabnya tiga hari ini abang tidak datang. Berat sekali abang rasa harus pulang tengah malam setiap hari. Mengingat kakakmu sendirian di rumah dengan dua anak yang masih kecil-kecil. Belum lagi kita lebih sering duduk mengobrol daripada melayani pembeli. Makanya abang memutuskan menerima pekerjaan di pabrik es tersebut. Apa kamu keberatan?” Huft. Menyebalkan. Firasatku memang benar. Tapi aku tidak boleh terlihat sangat membutuhkannya. Bukankah tiga hari ini aku telah terbiasa sendiri? Mungkin itu adalah pembelajaran buatku. Tidak baik mempekerjakan saudara sendiri. “Kalau Firman sih, nggak masalah Bang. Kalau itu memang yang terbaik buat abang, silahkan.” aku mencoba tersenyum. Mungkin senyumku kali ini terlihat begitu jelek. Senyum tanpa keikhlasan. “Kamu tidak marah kan?” dia memastikan. “Tenang aja Bang. Beres la itu.” Maka keesokan harinya, jadilah aku menjomblo, single parents untuk usaha baruku ini. Jika terjadi apa-apa padaku, maka usaha ini tidak akan berjalan sebagimana mestinya. Kukira orang yang membutuhkan pekerjaan akan mau mengerjakan pekerjaan apa saja asalkan menghasilkan dan tetap bisa memenuhi kebutuhan perut yang sejengkal itu. Ternyata dugaanku tidak sepenuhnya benar. Selalu ada pengecualian untuk hal-hal tertentu, dan kejadian yang menimpaku termasuk dalam pengecualian itu. ### Jalan sebulan warung TST ku. Aku bertemu dengan Vai sang investor. Seperti yang kujanjikan, setiap bulannya, aku akan menemuinya menyerahkan bagi hasil yang kuperoleh. “Bagaimana usahamu Wak. Lancar?” tanya Vai padaku. “Alhamdulillah Wak. Makanya aku datang nih Wak. Mau nyetor.” jawabku dengan wajah sumringah. Dia tertawa menanggapi jawabanku. Kami masih berbincang beberapa lama walaupun urusan dengannya telah selesai. “Wak, sebenarnya aku ingin menarik saham yang kuberi kemarin.” “Lho, kok tiba-tiba begitu?” “Aku tidak memintamu menyerahkannya hari ini Wak. Aku hanya menginformasikan agar kau tidak terlalu terkejut.” Tidak terkejut bagaimana? Aku sangat terkejut. Saking terkejutnya, aku merasa seperti dialiri sengatan listrik yang terkena arus pendek. “Ohh.” jawabku pendek. Aku lunglai. Tak lagi berdaya. “Seorang teman memintaku bekerja sama di warung makan miliknya. Aku hanya menyediakan minuman berupa jus. Prospeknya kulihat lebih bagus. Jangan marah ya Wak?” Ini salahku. Mengapa tidak membuat surat perjanjian kontrak mengenai hal ini? Sama dengan masalah bang Ardi sepupuku. Aku dicampakkan begitu saja. Bagai sampah tak berguna. Belum habis sakit hati karena perlakuan bang Ardi, aku harus menelan sakit hati lainnya yang lebih parah. Pernyataan memutuskan hubungan mitra kerja dengan sang investor. Satu bulan penuh, tidak kurang. Usaha pertamaku berakhir. Tragis.### Enterpreanur University Kukerjap-kerjapkan mata saat melihat tulisan di majalah dinding kampus tersebut. Apa aku tidak salah? Ada sekolah pengusaha? Seperti apa pula modelnya? Punya ruangan semegah almamaterku ini kah dengan fakultas yang beraneka ragam dan kelas-kelas yang berjumlah puluhan? Dosen-dosen yang mengampu mata kuliah dengan modul-modul yang wajib dimiliki? Seperti itukah bentuknya? “Makanya ikutan Dek, biar tahu gimana sekolahnya. Biar tahu dosen-dosennya seperti apa? Sebenarnya sih mereka lebih suka dipanggil tutor. Lebih akrab.” ujar salah seorang seniorku yang menawarkanku untuk mengikuti enterpreanur university itu. “Berapa uang pendaftarannyanya? Berapa harus membayar uang SPP per tahun nya? Dan berapa uang kuliahnya?’ tanyaku ingin tahu. Bagaimanapun, aku harus mempertimbangkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Dia hanya tertawa menjawab pertanyaanku. “Uang pendaftarannya nanti saja difikirkan. Untuk tahu seperti apa EU (Enterpreanur University, yang akhirnya kutahu singkatannya adalah EU) ini, kita ikuti saja dulu seminarnya. Nggak mahal kok. Cuma 200ribu.” “Apa? 200ribu Bang?” mataku membelalak. Aku terkejut dengan sebutan uang sejumlah itu. 200ribu tidak mahal? Aku yang sudah sering mengikuti seminar di kampus, tiket yang seharga 50ribu saja sudah begitu mahal buatku yang masih berstatus mahasiswa, meskipun tampang keren, tapi nasib tidak sekeren tampangku. Aku menggeleng. “Lain kali saja la Bang. Aku lagi butuh duit sekarang. Bukan ingin mengeluarkan duit.” “Ah, sayang sekali. Padahal kalau kamu ikut dan melihat dari dekat acaranya, kamu akan mengerti, jumlah yang kusebutkan tadi tidak mahal dibanding ilmu yang akan kita dapat dari acara tersebut.” “Ah, nggak la Bang. Lain kali saja.” aku masih menolak permintaannya. Gila?! 200 ribu untuk harga tiket doang? Mendingan kubelikan makanan, perut kenyang, aku pun senang. “Ok. Kalau kamu tidak mau. Ya sudah, Abang pinjamkan saja kaset ini untukmu. Tapi kamu nggak boleh ngasih sama orang lain ya. Khusus untuk kamu Abang kasih. Ok.” Setengah tidak berminat kuterima kaset yang dia tawarkan. Hanya menonton sebuah video, tidak ada salahnya. Anggap saja menonton spiderman. Hmm, aku suka menonton film-film action. Maka tak jarang, aku suka menonton film yang sama untuk yang kesekian kalinya. “Hati-hati terjangkit virus “gila” nya sang pembicara.” bisik seniorku tersebut dengan nada menakutkan. “Virus gila? Apa pula itu?” What ever!? Dikasih gratis, tidak ada salahnya dilihat. Aku menimang-nimang kaset yang berada dalam genggamanku dan memperhatikannya. Setelah membaca sekilas kata-kata motivasi yang ada dalam salah satu side kepingan kaset itu, aku mulai diliputi rasa penasaran. Siapa pria ini? Mengapa kata-katanya seperti bisa menghipnotisku hanya dari melihat sampul depan kaset ini saja? Rasa penasaran itu telah membawaku segera pulang ke rumah. Tak sabar ingin mengetahui isi kaset tersebut.### Salah satu kunci agar usaha anda tidak pernah mengalami kerugian adalah banyak-banyak bersedekah. Petuah yang disampaikan oleh narasumber yang kusaksikan dari video tersebut. Aku pernah mendengar hal ini sebelumnya. Tapi bukan dari seseorang yang mengaku pengusaha. Tapi dari ustadz-ustadz pengajian yang membahas tentang sedekah. Jika dia yang berprofesi sebagai pengusaha dan mengatakan hal itu, dia mungkin telah tergolong kategori pelaku. Melihat dia yang sepertinya bukan pemain baru dalam dunia usaha. Bagaimana jika masih mengalami kerugian? Tanya seorang audience. Itu karena sedekahnya masih kurang banyak. Perlu ditambah lagi jumlahnya, lebih banyak lagi, lebih banyak lagi. Subhanallah. Cara dia mengatakan bagaimana memulai usaha, bukanlah dari segi kemanusiaannya. Tapi dari segi kerohanian. Jarang pengusaha yang berfikiran seperti ini. Biasanya, bagi kami, kaum muslim, membayar zakat hanya lah 2,5 % yang wajib dikeluarkan. Bagaimana kalau jumlah tersebut ditambah menjadi 5 %? Tentu sah-sah saja. Dan hal ini, menurut hemat saya justru akan memudahkan segala urusan perniagaan kita. Hmm. Benar juga. Allah juga pernah berfirman tentang perniagaan yang tidak pernah merugi. Perniagaan dengan Allah. Bersedekah. Semua pendapat-pendapat pembicara pada video yang kusaksikan tadi, dapat dibenarkan oleh akal sehatku. Aku menjadi semakin tertarik mengenal pria itu. Siapa dia? “Hei Firman…” seniorku yang memberikan kaset yang semalam melambaikan tangan ke arahku. Aku berjanji bertemu dengannya di kampus hari ini untuk mengembalikan kaset yang dipinjamkannya semalam. Aku berjalan menuju tempat dia berdiri. “Ini kasetnya Bang. Bagus banget. Enterpreanur sejati.” pujiku. “Aku mulai khawatir kalau kau mulai terjangkit virus itu.” “Haha. Abang bisa saja. Dan kurasa, siapapun yang terjangkit virus yang ditularkan pembicara dalam kaset ini, tidak akan menyesal, bahkan berterimakasih padanya.” “Filosofis sekali. Bagaimana? Sekarang kau tertarik?” “Siapa sebenarnya pria itu Bang?” “Dia pendiri salah salah satu lembaga bimbingan belajar. Awalnya murid bimbingan belajarnya itu hanya berjumlah dua orang, tetapi sekarang telah berdiri puluhan cabang bimbel tersebut di seluruh tanah air. Kau tahu kenapa?” Aku menggeleng. “Mungkin dia tidak berhenti dan terus bertahan.” “Ya. dia juga melakukan cara-cara yang dianggap orang lain tidak lazim. Cara-cara itu yang akan dia jelaskan di kelas setelah seminar yang kemarin abang sebutkan.” “Hmm. Kalau tiket masuk untuk seminar saja segitu jumlahnya, bagaimana dengan pendaftaran untuk bisa memulai pembelajaran?” “Firman, kita kuliah di sini juga tidak gratis. Kita dengan suka rela mau membayar sejumlah biaya yang ditetapkan oleh universitas walaupun kita tidak tahu jaminan masa depan setelah lulus dari sini..” Aku berfikir, mencoba mencerna kalimatnya itu. Benar juga. “Itu namanya biaya belajar, biaya sekolah. Tidak ada yang gratis di dunia ini, selain udara yang kita hirup atau angin yang kita keluarkan.” candanya. “Ok. Besok-besok kalau masih ada seminar abang kabari aku ya.” “Gitu dong. Kalau mau jadi pengusaha, belajar cara-caranya dari pengusaha yang telah melakukannya dan telah berhasil dalam usahanya.” pesannya. Aku selalu berdoa, semoga apapun pilihan yang telah kutetapkan, aku tidak pernah menyesalinya, meskipun jauh berbeda dari harapanku. Aku hanya harus pandai mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpaku.### Berada dalam ruangan seminar yang berisi tentang bagaimana memulai membuka usaha yang baik, dalam lingkungan orang-orang yang mempunyai visi yang sama, membuat aura positif dalam ruangan tersebut menyengat seluruh hadirin. Aku juga bisa merasakan betapa semangatku meletup-letup tak terpadamkan, hingga mataku sulit terpejam, dan mulai membuka mata terhadap peluang-peluang yang mungkin bisa kuciptakan. Dan kabar baik itu, datang hari ini. pengumuman beasiswa, dan aku salah seorang yang memperoleh beasiswa tersebut. Tidak semua usaha yang kita mulai sekarang akan menjadi usaha kita untuk hari-hari selanjutnya. Belajar dan terus belajar. Jangan pernah berhenti. Jika jatuh, harus berusaha untuk bangkit, jatuh lagi, bangkit lagi. Kita pernah menjadi anak kecil yang belajar berjalan, meskipun harus beberapa kali terjatuh, tetapi tidak kapok untuk bangkit dan mulai berjalan lagi. Bayangkan jika anak kecil itu tidak pernah bangkit, mungkin dunia ini hanya dipenuhi oleh orang-orang lumpuh. Apapun yang terjadi, jangan pernah menyerah. Bersedekah, berusaha, berdoa. Selamat berjuang. Selamat datang di dunia enterpreanur…. Aku mendaftarkan diriku menjadi salah seorang agen pulsa. Untuk saat ini, aku tidak mempunyai tempat, maka diriku lah yang kujadikan ajang promosi, toko berjalan, agar orang-orang tahu bahwa aku punya usaha pulsa baru dan mereka bisa menghubungiku jika hendak melakukan isi ulang pulsa. Aku mengalahkan semua ego yang dulu ada pada diriku. Mengalahkan semua perkataan tidak bisa yang dibisikkan dalam fikiranku. Aku harus berjuang. Berjuang, agar ayah melihat aku tidak selemah yang dia kenal selama ini.### Virus itu benar-benar menjangkitiku. Stadium akut. Sampai aku melupakan tujuan pertamaku berada di kota ini. Kuliah. Amanat orangtua yang harus kutunaikan. Juga cita-cita yang dulu kutanamkan dalam jiwaku, sebelum mengenal virus itu. Aku cinta mati, tergila-gila dengan pasangan baruku. Enterpreanur. Hingga suatu hari aku terhenyak. “Bagaimana kuliahmu, Nak?” Pertanyaan ibu tempo hari ditelpon. “Lancar-lancar saja Bu.” Aku tergeragap menjawabnya karena sesungguhnya prestasi kuliahku sedang kacau balau di tengah kegilaan yang baru kualami. Maaf Ibu, aku telah sedikit berbohong padamu. “Doa Ibu selalu menyertai langkahmu selama kau masih dalam koridor Nya. Bagaimana keuanganmu? Jika ada kekurangan, jangan segan-segan bilang ke ibu. Perkataan ayah tempo hari, tak perlu terlalu kau risaukan. Ayah hanya terlalu letih hari itu. Harus kau tahu, ayah sangat menyayangi kalian,” “Iya, Bu. Sekarang masih aman kok. Ibu nggak perlu khawatir.” Aku berbohong lagi. Keuanganku sebenarnya telah sangat menipis. Aku tidak lagi banyak memberitahu ibu kegiatan yang kujalani. Beberapa hari lalu, aku bersama lima orang teman lain di kampus pergi ke Rantau untuk survey tempat bimbel yang sedang kami ajukan proposal kerjasamanya. Perjalanan ke sana, memerlukan biaya. Aku mengeluarkan kocek lebih banyak sebab aku merasa bertanggung jawab atas perjalanan itu. Aku yang memberikan ide. Aku juga yang memilihkan tempat. Aku sebenarnya tidak ingin ibu risau. Aku tahu, dia hanya mengkhawatirkanku jika mungkin izin tidak kuperoleh darinya. Naluri ibu, sangat kuat, tidak pernah aku mencoba menyangkalnya. Seperti hari itu. alam sekitar seakan membisikinya bahwa kondisiku sedang tidak baik. Meskipun jawabanku kumaksudkan untuk menenangkannya, esok harinya, dia telah mentransfer sejumlah uang untukku. Jaga-jaga jika terdesak. Begitu disebutkannya. Ahh, ibu. Kau memang sangat mengerti keadaan anak-anakmu. Pantas saja surga berada di telapak kakimu. Aku berfikir ulang setelah menerima telpon ibu. Apa yang kucari? Aku memang ingin punya penghasilan sendiri, tapi aku juga tidak ingin mengecewakan ibu. Perempuan yang belum sekalipun mengecewakanku, bagaimana aku akan tega mengecewakannya karena ego. Ya, ini kusebut ego, sebab kuliahku telah berantakan. Aku sudah mulai tidak peduli. Aku hanya ingin mengurus pendirian bimbel itu dengan serius, dan melupakan keseriusanku untuk menuntut ilmu seperti amanat ibu. Ini tidak akan kubiarkan terjadi. ### Semangat dari rekanku mulai pudar saat beberapa kali mengajukan proposal kerja sama dan ditolak. Pendirian bimbel itu mulai mengambang di awang-awang, sementara aku juga telah terlanjur mengorbankan kuliahku. “Jika memang kalian tidak lagi berminat, kita lupakan saja masalah bimbel itu. Tapi perlu kalian camkan, aku tetap akan bergerak walau tanpa bimbel, walau tanpa kalian.” Aku muntab. Aku telah berkali-kali mengajak mereka untuk semangat kembali. Untuk menyusun kembali kekuatan, tetapi alasan mereka terlalu banyak. Dan setelah hari itu, aku tahu mereka akan mundur dengan teratur. Tim payah. Aku menyesali keteledoran sikapku yang menganggap satu hal sangat penting dan mengabaikan hal lain. Tetapi benarlah, penyesalan memang selalu datang di akhir. Terkadang kufikir ini menyebalkan. Namun, terkadang aku juga berfikir, ini mungkin cara Tuhan menunjukkan jalan agar aku belajar dari kesalahan. Akhirnya proyek bimbel itu, terlupakan. Aku menata kembali rencana masa depanku. Sedang berfikir demikian, kudengar suara gaduh dari ruang tengah rumah kakak sepupu tempatku menumpang tinggal selama masa kuliah. Aku keluar kamar melihat sumber kegaduhan. “Silahkan masuk Paman.” kak Putri mengajak seseorang masuk ke dalam rumah. Seorang pria bertubuh pendek berusia sekitar lima puluh tahun masuk bersama seorang perempuan yang usianya hanya bertaut sekitar 2 tahun dari pria di sampingnya. Dia pamanku, adik dari ayahku, yang datang bersama istrinya. “Apa kabar Paman?” aku mencium pergelangan tangannya, memberi hormat pada yang lebih tua, juga pada istrinya. “Alhamdulillah, baik.” Kak Putri datang membawakan minuman, “Silahkan diminum, seadanya saja Paman. Maklum, bulan tua.” Kak Putri mempersilakan tamunya menikmati hidangan. “Ada apa gerangan datang ke gubuk kecil kami ini Paman?” tanya Bang Jo, suami Kak Putri, setelah cukup berbasa-basi. “Paman mau mengurus bisnis baru di sini. Kemarin ikut EU juga. Paman lihat prospeknya cukup bagus.” Aku yang tidak terlalu memperhatikan percakapan para orang tua segera berminat mendengar kata bisnis. Siapa tahu paman bisa kuajak bekerja sama. “Bisnis apa Paman?” tanyaku melibatkan diri dalam pembicaraan. “Bisnis biasa. Ya, mengembangkan bisnis yang ada, agar tidak berkutat di bidang itu saja.” Pamanku ini telah beberapa kali jatuh bangun dalam membangun kerajaan bisnisnya. Bisnis grosir pakaian. Beberapa tahun ini, dia baru saja mengalami kerugian yang tidak sedikit, yang menumbangkan kerajaan bisnisnya. Pailit. Dia hampir saja menyerah. Untung saja paman masih berfikir rasional dan mau belajar. Bisnis konvensional yang telah dijalaninya bertahun-tahun silam, membutuhkan pembenahan. Perlakuan yang berbeda. Kedatangannya kali ini juga berkaitan erat dengan kemauan belajar itu. Belajar dari orang yang telah lebih dahulu sukses dalam menjalankan kiat-kiat bisnisnya. Aku beranikan diri untuk mengajukan proposal bisnis. Hanya saja tidak malam ini, sebab kondisinya tidak memungkinkan. Paman masih lelah setelah melakukan perjalanan lebih kurang 12 jam. Dia butuh istirahat. “Berapa hari rencana di sini Paman?” “Setelah urusan selesai, Paman langsung pulang. Mungkin satu atau dua hari. Paling lama, dua hari lah.” Dua hari. Besok siang mungkin Paman akan menemui rekannya itu. Aku juga kuliah. Mungkin sore, aku bisa mengajak paman berkonsultasi. “Hmm, besok pasti ada kesempatan.” batinku.### “Lagi santai?” kutemui Paman yang sedang duduk di beranda depan menikmati angin yang berhembus lewat dedaunan pohon mangga yang menari-nari riang. “Ya. menikmati sore yang cerah.” Paman tertawa. “Ya, sore ini memang sangat cerah.” Aku menimpali. Bagaimana urusannya hari ini Paman?” “Alhamdulillah. Semua berjalan lancar. Hanya saja tadi sedikit tersesat. Ya, namanya bukan orang sini, berani-beranian saja jalan tanpa penunjuk jalan.” Kami tertawa bersama-sama. Setelah terdiam beberapa saat. “Oh iya Paman, kalau mau buka warnet di Medan, Paman mau?” aku memancing pembicaraan. Ide ini muncul dari seorang kawan lama ketika di suatu malam aku bertemu dengannya dan membicarakan peluang bisnis yang kira-kira akan diminati masyarakat Medan. Dia memang mengusulkan untuk membuka game online. Tapi aku kurang setuju jika hanya game online karena fungsinya tidak terlalu banyak, hanya terfokus untuk game saja. Sementara jika orang-orang ingin browsing atau sekedar mengirim email, tentu saja penggunaannya menjadi terbatas. “Maksudnya?” Paman minta penjelasan lebih dariku. “Begini Paman.” aku memulai presentasiku. “Sekarang penggunaan media internet sedang berkembang pesat karena banyak faktor diantaranya masyarakat sudah mulai melek terhadap perkembangan informasi. Dunia yang telah mengglobal menuntut kita untuk selalu mengetahui beragam informasi. Masa sekarang, orang-orang yang mengetahui informasi, dialah yang akan jadi pemenang Paman. Tidak lagi berdasarkan otot atau hanya otak, tetapi keberagaman informasi yang diketahui lebih cepat. Bahkan di kota-kota besar lain di Indonesia, internet itu sudah menjadi kebutuhan Paman. Dan menurut pengamatan saya, di kota ini telah mulai menggeliat kegiatan berbau informasi tersebut. Karena itu, jika kita membuka usaha tersebut, Insya Allah tidak akan sepi dari pengunjung, mengingat fungsi yang saya sebutkan tadi Paman.” Paman manggut-manggut. “Masuk akal juga penjelasan kamu. Trus?” “Jika Paman berminat, saya bisa mengelolanya. Paman sebagai investornya. Meskipun Paman tidak ikut menjalankannya tetapi Paman menerima bagi hasil dari keuntungan pendapatan warnet setiap bulannya.” “Jika defisit?” “Ditanggung bersama juga Paman. Tapi saya yakin, usaha ini akan maju, meskipun mungkin di awalnya harus melakukan promosi besar-besaran agar masyarakat tahu. Apalagi jika kita lebih mengutamakan pelayanan, para pengunjung tentu akan senang dan menjadi loyal terhadap warnet kita meskipun di sekitar kita betebaran usaha serupa.” “Penjelasanmu bagus. Ternyata kamu sudah besar ya. Sudah bisa merayu Paman dengan kata-kata. Sudah berapa wanita yang terpikat Nak?” Paman malah menggodaku. Atau mungkin mengalihkan pembicaraan. Aku hanya tersenyum, menghormatinya. “Paman fikirkan dulu ya. Tadi Paman baru selesai tanda tangan kontrak. Kamu tahu maksudnya kan?” Aku mengangguk. “Minggu depan, Paman akan ke sini lagi. Kita lanjutkan obrolan ini. Tapi ingat, jangan tergesa-gesa dan jangan mendesak Paman. Paman tidak suka.” Paman memberiku ultimatum. Tapi itu kuanggap sebuah pelajaran tentang cara pendekatan yang baik. “Siip.” Aku mengacungkan jempol dan berdoa dalam hati semoga percakapan hari itu diaminkan oleh malaikat.### Debu polusi yang bertebaran telah menebalkan kulit wajahku. Berkali-kali aku membersihkan kacamata yang ditempeli debu-debu sehingga menghalangi pandanganku. Terkadang mataku juga tidak luput dari serangannya sehingga aku berkali-kali juga harus mengeluarkan kotoran tersebut dari mataku. “Ok. Paman setuju dengan proposalmu kemarin. Tapi dengan syarat, Paman memberimu waktu seminggu untuk survey tempat. Paman ingin lihat, kamu serius atau hanya sekedar gurauan belaka.” Tempo hari setelah kedatangan Paman yang kedua kali, dia menerima tawaranku. Telah lima hari aku berputar-putar di jalanan mencari lokasi dengan harga yang cocok untuk membuka usaha ini. Tetapi semua masih nihil. Belum ada yang memuaskan. Bahkan untuk menentukan lokasi yang tepat juga menjadi sangat sulit ketika dibutuhkan. Mungkin ini ujian kesabaran. Jika untuk urusan ini saja aku menyerah, bagaimana aku akan menang dengan perkara yang lebih besar? Aku tidak boleh menyerah. Kupaksakan diri untuk terus menyusuri semua lini yang kuketahui. Telah lima hari dari jadwal yang kusepakati. Janji adalah hutang yang harus dibayar. Meskipun dia adalah pamanku, seseorang yang kemungkinan besar akan sangat luluh dengan permohonan keponakannya untuk menangguhkan waktu yang tidak sanggup kulakukan. Aku berusaha professional. Bersikap dewasa. Janji adalah janji. Hanya seminggu. Tidak bisa ditawar-tawar. Waktuku tinggal dua hari lagi. Ibarat seorang pasien, kondisinya sedang kritis. Jika tidak segera ditangani dengan tepat, akan membahayakan jiwa, mengancam pada kematian. Aku harus terus semangat. Demi sebuah mimpi, tidak diremehkan ayah lagi.### Opening usaha baru ini hanya dihadiri beberapa orang yang kesemuanya adalah teman-teman kuliahku. Hanya sebuah syukuran, acara kecil untuk penanda usaha ini didirikan. Ada setitik haru ketika nama dari usaha ini terpampang di depan sebuah ruko yang berhasil kutemukan di hari terakhir pencarian. Peluh telah mengucur deras di sekujur tubuhku. Sejak dua hari yang lalu, hatiku tidak berhenti bermunajat, meminta kemurahhatianNya untukku. Menunjukkan arah langkahku yang telah mulai bergetar memikirkan kisah akhir yang belum dimulai. Pencarian hari terakhir itu benar-benar menguras tenaga dan otakku. Senja telah tampak di ufuk barat. Dari pengeras suara mesjid di kota itu telah mulai terdengar lantunan ayat Al-Quran yang dibaca dengan tartil. Sedangkan aku, masih beradu dengan waktu untuk mencapai tujuanku. Kubelokkan motor blackku. Daerah sekitar kampus. Kuulangi mengelilingi dan memperhatikan bangunan- bangunan yang berdiri kokoh di sana. Lebih teliti dari sebelumnya. Ketika suara keputusasaan telah menghantui, mataku tertumbuk pada sebuah tulisan. Disewakan. Hubungi. Kuperhatikan lamat-lamat nama pemilik dari nomor yang tertera. Pemilik ruko tersebut adalah orang terdekat Paman. Bagai menemukan harta karun, aku menghubungi Paman. Batinku berkata, dia akan berkenan. Paman, aku menemukan sebuah ruko. Lokasi strategis, dekat kampus. Dekat dengan pemukiman mahasiswa. Pemilik sebuah kapling terkenal di kota kita. Kapling matahari. Maka di sinilah aku sekarang. Sedang membuat syukuran. Paman tidak bisa hadir karena suatu urusan. Paman mengamanatiku mengurus semuanya setelah pembelian komputer. Hanya satu pesan Paman, segera beroperasi. Hari itu, Tuhan menuntun langkahku dengan memberikan niat untuk membelokkan motorku ke perempatan jalan menuju kampus idamanku dan di situlah aku melihat sebuah ruko yang sekarang kujadikan tempat untuk memulai usahaku yang ketiga. Semoga ini akan menjadi awal yang baik. Dan lagi-lagi, aku berharap doaku ini membuat para malaikat untuk mengiringinya dengan ucapan Amin.### Momentum seharusnya menjadi satu hal yang harus kupertimbangkan jika ingin memulai sebuah usaha. Itu luput dari pengamatanku. Lokasi warnet yang baru kubuka berada di dekat kampus. Opening usaha ini ketika kampus sedang sepi, mahasiswa sedang libur. Alhasil, bulan pertama yang kuhadapi adalah komputer-komputer yang sehariannya tidak disentuh. Aku dan karyawanku sering bersitatap, saling menggeleng, mengangkat bahu dan tertawa. Aku sudah berusaha untuk membuat promosi menarik. Promo selama seminggu: bermain dua jam, gratis satu jam. Yang sering datang adalah teman-teman yang kemarin kuundang. Hanya seminggu. Seperti promo yang kuberikan. Selebihnya, mereka pun tak pernah lagi muncul. Aku juga tidak berhenti share info tentang usaha baruku ini di situs jaringan sosial milikku. Aku mengupdate status setiap hari, status yang sama, berkunjung ke warung internet milikku. Beragam komentar bermunculan di wall ku. Ada yang serius, bercanda, bahkan mengolok-olok. Aku sering menghela nafas berat saat melihat komentar yang bermunculan itu. Aku tetap berusaha menenangkan hati. Awalnya, orang-orang hanya memberi komentar. Jika nanti dia perlu, pasti datang. Aku jadi teringat Lia, teman SMA ku yang berprofesi sebagai pedagang, meskipun dia masih di bangku sekolah. Dia memang berasal dari keluarga yang kemampuan ekonominya bisa dibilang kurang. Tapi aku sungguh salut melihatnya. Dia tidak pernah mengeluh dengan keadaannya itu. Dia malah memilih untuk berdagang. Dagang apa saja. Buku, kue, alat-alat sekolah, pakaian. Semua dijualnya. Promo yang dia lakukan adalah dengan membuat list harga barang-barang dagangannya. Diketik kemudian difotokopi berlembar-lembar. Kemudian dibagikan ke semua siswa yang dikenalnya. Kebanyakan dari mereka membuang kertas yang dibagikannya itu bahkan tanpa melihatnya. Ada juga yang melihat sekilas kemudian membuangnya atau melipatnya kecil-kecil dan memasukkan ke kantong baju atau celananya. Hanya segelintir yang mau memperhatikannya. Dan dari yang segelintir itu, hanya segolongan kecil yang berminat dan memesan barang dagangannya itu. Tapi Lia tidak pernah kehilangan ide. Bahkan dia selalu bersemangat. Pernah juga waktu ada acara di sekolah, dia ikut bazaar buku dan pakaian. Kebanyakan siswa hanya melihat-lihat dan bertanya ini itu, tanpa berminat untuk membeli. Tapi wajahnya tetap ceria. Dia tidak merasa dipermainkan. Dia tetap menghormati para pengunjung meskipun hanya sekedar melihat. Karena penasaran, kudekati ia. “Hai, ikutan buka bazar juga. Hebat!!” kuacungkan jempol. “Eh, Firman. Hehe. Iya. Silahkan dilihat-lihat dulu. Ini bukunya bagus lho.” Dia mengambilkan sebuah buku dan memberikannya padaku. Kuterima buku itu dan melihat sekilas. “Ngomong-ngomong, kamu nggak marah orang-orang ini mengobrak-abrik daganganmu?” “Haha. Ya nggak dong. Aku malah senang, walaupun mereka cuma lihat-lihat atau cuma nanya-nanya. Mereka sudah datang saja, aku sudah senang. Hmm, ngomong-ngomong, kamu masih ingat pelajaran Peluang nggak?” Aku mengangguk. Itu pelajaran kelas satu. Aku kan jagonya. “Memangnya kenapa?” “Kalau aku nggak salah, peluang itu cuma berlaku 20% saja. Artinya, dari sekian banyak orang yang datang ke standku, peluang dari mereka yang membeli daganganku cuma 20%. Kalau 10 orang, berarti cuma dua orang yang membeli. Jadi untuk apa aku harus kecewa jika mereka cuma lihat-lihat. Kan rumusnya sudah ada?” dia tersenyum. “Nah, sekarang pertanyaannya, kamu masuk yang 20% itu nggak?” dia tertawa menggodaku. “Haha. Benar juga. Oke. Aku beli buku yang ini saja.” Aku mengambil sebuah buku yang paling tipis dengan harga yang paling murah “Maklum ya, kantong seorang siswa, tipis.” Kami sama-sama tertawa. Akhirnya aku mengerti konsep itu. Namun, terkadang, saat menghadapi kenyataan, ada masa-masa aku merasa nasibku sangat sial. Yah, namanya manusia. Kondisinya labil, berubah-ubah, seperti kondisi yang dialaminya waktu itu.### to be continued
Langganan:
Postingan (Atom)
Si cantik elegan sahabat semua kalangan
Di Penghujung tahun 2017, dia hadir. Di antara empat bersaudara dari keluarga Xseries, dia yang tampil menawan bagiku.. "Mu...
-
Pernikahan merupakan sebuah moment yang sakral bagi kehidupan manusia. Sakral karena setiap orang mendambakan pernikahan yang hanya sekal...
-
Di Penghujung tahun 2017, dia hadir. Di antara empat bersaudara dari keluarga Xseries, dia yang tampil menawan bagiku.. "Mu...
-
Dewasa ini, pengangguran merupakan masalah yang belum bisa tuntas diselesaikan. Minimnya lapangan kerja, sementara para pencari kerja b...



